Gua Sarang: ‘Raja Ampat Mini’ Di Kota Sabang

SATU tahun silam, Gua Sarang tiada terkenal seperti sekarang. Sebab masih sedikit orang berkunjung. Hanya kalangan fotografer saja yang biasanya menjadikan spot wisata ini sebagai spot foto. Sebut saja beberapa diantaranya; Isra, Rudianto, Syek Kubat, Safwan, Herry Akbar, Irfandi Surya dan rekan fotografer lokal dan luar daerah lainnya.

Lalu juga ada bloger dan pewarta yang membuat berita tentang Gua Sarang. Sampai-sampai Sofyan Adam, Sekretaris Daerah Kota Sabang ngeposting artikel tentang objek wisata ini lewat personal webnya www.sofyanadam.com. Jadi, jika hari ini Gua Sarang jadi tambah beken, sedikit banyak tiada lepas dari jasa mereka.

Sebagai objek wisata, Gua Sarang itu termasuk objek wisata komplit untuk kategori view. Apa yang harus kami gambarkan dengan objek wisata di sudut sisi utara pulau weh ini?
Indah? Pasti!!

Saaangggat malah.

Baru parkir kendaraan saja, setiap mata akan dibuat tertegun. Bayangkan, kamu akan disuguhi laut nan biru. Memancarkan riak riak kehitaman karena warna karang menyembul kepermukaan. Bagaimana tidak, air lautnya jernih sekali.

Jeeernih!

Nun jauh sedikit, ada hutan nan hijau daerah balik gunung jadi pelengkap. Jauh sedikit lagi ada gugusan pulau Aceh, yang jadi pemisah antara lautan dengan gumpalan awan di angkasa sana. Ngalihin mata ke kiri, kamu bisa liat Kota Banda Aceh. Apalagi?
Tiada percaya lihatlah foto di bawah ini. Hasil jepretan Irfandi Surya, peminat fotografi yang sudah beberapa kali mengunjungi tempat ini.

Foto Gambar Utama Gua Sarang

Sekarang mari turun ke bawah. Ke tepian pantai tepatnya. Menuruninya memang menguras sedikit tenaga. Tapi disitu letak sensasinya. Berasa seperti berpetualang gituu. Kamu harus berjalan melewati batuan berukuran sedang. Bagi yang kurang pede sama dengkul, dipersilahkan hati-hati lho yaa. Kira-kira 120 meter, kamu akan menjumpai beberapa bukit batuan, menyeruak dari dalam lautan. Tiada berlebihan melihat bukit-bukit kecil ini, semisal melihat Raja Ampat dalam bentuk mini!

Foto Traveler

Nah, sampailah kita ke lokasi Gua Sarang. Jumlah Guanya ada lima. Disebut Gua Sarang, karena di dalam memang rumah bagi kawanan burung. Disinilah mereka yang berkunjung beraksi serupa model di depan lensa. Baik Selfi (narsis dengan tangan sendiri), atau minta bantuan teman untuk motret dengan segala macam gaya. Ini jadi semisal ritual wajib. Susah lhoo nyarik tempat dimana kamu bisa dapat latar tebing, berbatu cadas, terus laut dengan hijau birunya. Lalu latar bukit berbatu. Juga Gua yang berlatar hijau coklat.

Apa itu saja, ada laaagi!

Ketika mentari hendak pulang ke peraduannya, saat itu kamu bisa nikmatin sunset. Riak-riak awan putih dipadu langit biru kini berumbah temaram, coklat kekuning-kuningan. Lebih jelasnya browsing aja foto-foto berlatar sunset. Lebih kurang begitu. Bahkan lebih indah mungkin.

Lalu apaalagi?

Saatnya nguji dengkul dengan hal nguras tenaga dan adrenalin. Jika saat turun, milih jalan bertangga. Waktu naik ke atas, pilih jalanan bertali. Tepatnya mendaki dengan bantuan seutas tali. Saya pribadi, tiga kali berkunjung, tiga kali milih rute ini untuk naik ke atas. Biar berasa sedang adventure gitu.
Masih ada lagi.

Kamu mau snorkeling? Bisa. Ada tempat penyewaan alat snorkeling di sekitar Gua Sarang. Biayanya murah Rp50,000 saja. Kamu udah bisa pakai snorkel, Kaca mata, lalu nyebur ke laut. Kamu akan menikmati taman bawah laut yang mempesona. Ikan karang yang warna-warni. Sampai batuan karang yang tentu berbeda viewnya kalau dilihat di dalam air dengan yang nyembul ke permukaan. Bedaa sekali. Percaya deh.

Terus kalau haus atau lafffar gimana? don’t worry!

Teuku Biet sudah ngebangun warung di lokasi ini. Kamu bisa milih beberapa pilihan soft drik untuk ngelepas dahaga. Ada juga makanan ringan kalau memang perut ikutan demon minta diisi makanan. Jadi, sekali lagi ingin saya tegaskan, Gua Sarang tiada lagi sepi seperti dulu. Dan ini diamini oleh Teuku Biet sendiri, pengusaha wisata di daerah ini.

Nah, pertanyaan selanjutnya mungkin perihal lokasi.

Gua Sarang itu ada di kelurahan Iboih. Tepatnya di balik gunung. Dari Kota Sabang atau Pelabuhan Balohan, lama jarak tempuh kira-kira 20 menit. Ingat ini pakai kendaraan, bukan jalan kaki. Jaraknya lebih kurang 20 KM. Pilihan rutenya, dari pelabuhan Balohan, melewati desa Jaboi – Beurawang, Keuneukai – Paya, dan berhenti di Gua Sarang. Rute kedua (yang sering dipilih) mulai dari Kota Sabang, terus jalan ke Iboih dan belok kiri lalu berhenti di Gua Sarang. Pilihannya terserah kamu. Nggak usah ragu. Jalannya sudah beraspal!
Maka, kalau liburan ke Sabang, dan tidak menjadikan Gua Sarang sebagai salah satu tujuan.

Kesimpulan saya, Kamu Rugi!

KOMENTAR FACEBOOK