80 Persen Generasi Warung Kopi. Betulkah?

Mualem Ngopi Bareng Akademisi (Foto Adi Gondrong)

Senin 21 Maret 2016 sekitar pukul 10.15 Acara wisuda Universistas Negeri Ar-Raniry (UIN) Banda Aceh. Setelah beberapa pejabat UIN menympaikan laporan dan penanda tanganan kerjasama dari berbagai lembaga. Tibalah giliran Rektor UIN Ar-Raniry untuk menyampaikan Orasi Ilmiah.

Bila saya bandingkan posisi pak Farid pada 2012 lalu, hari ini lebih semangat lagi dan banyak humornya. Saya dapat menilainya, karena acara wisuda pada 2012 dan 2016 saya merupakan salah satu peserta wisudawan. Tidak hanya itu, ketika saya mengikuti beberapa acara sidang terbuka atau promotor doktor juga demikian. Sehingga saya menyimpulkan pak Farid selain seorang Professor/guru besar juga sebagai humoris. Banyak ilmu dan pencerahan yang saya dapatkan dari beliau ketika mengikuti acara yang dipimpinnya.

Namun kemaren, sebelum sampai pada poin orasi ilmiah, pak Farid banyak menyampaikan motivasi agar selalu giat, rajin dan disiplin dalam menuntut ilmu, jika Putri Munawarah mengatakan ilmu bagaikan peta, maka pak Farid mengatakan ilmu ibaratkan tangga. Namun dipertengahan orasi tersebut, pak Farid mengatakan 80% generasi muda Aceh suka menghabiskan waktu duduk di warung kopi (warkop). Mendengar ucapan ini, membuat saya terkejut. Sehingga dalam kepala saya bertanya betulkah demikian? Atau ucapan itu sekedar motivasi saja.

Rupanya setelah membaca Koran pada Selasa 22/3/16, ucapan yang dilontarkan pak Farid menjadi topik hangat dibicarakan di media sosial. Tentu akan ada pro dan kontra, yang masing-masing mengacungkan alasannya.

Jika kita bandingkan warung kopi sekarang dengan warung kopi 80-an tentu jauh sekali berbeda. Pada 80-an warung kopi hanya difasilitasi tempat duduk ala kadarnya. Sedangkan sekarang tidak demikian, seiring dengan perkemabangan zaman dan teknologi, warung kopi pun berubah bentuknya, walaupun sama-sama tempat minum kopi, tapi dari segi fasilitasnya jauh sekali berbeda. Warung kopi sekarang selain tempat minum, juga difasilitasi wifi, warung nasi dan lain sebagainya. Sehingga dapat membuat para pelanggan betah dan nyaman dalam mengerjakan pekerjaan, baik itu tugas kuliah, membaca buku, rapat bagi pejabat dan lain sebagainya. Intinya, warung kopi sekarang ini banyak menimbulkan nilai-nilai positif. Sedangkan pernyataan pak Farid mengenai 80% generasi muda menghabiskan waktu di warung kopi
hanyalah penilaian negatif bagi pemuda pengunjung warung kopi, sebab pernyataan disampaikan pak Farid tidak melampirkan hasil penelitian siapa.

Setelah panjang lebar kita diskusi, satu poin yang menurut penulis kita lupa. Ketika azan berkumandang, adakah kita menyambutnya? Pengamatan penulis dari beberapa warung kopi selama ini, hampir bisa dikatakan hanya beberapa di antara pengunjung saja yang menyambut panggilan azan ketika dikumandangkan. Memang harus diakui bahwa salat mempunyai beberapa waktu salah satunya ialah takhyir, artinya salat boleh dilakukan diakhir waktu bila ada kesibukan lain. Selain itu salat juga urusan hamba kepada Allah, artinya salat tidak ada kaitannya dengan sesama manusia, di mana salat bukan penilain seorang manusia terhadap seseorang.

Namun ketika berbicara sosiologi, perilaku yang ada itulah menjadi penilaian. Terlebih Aceh satu-satunya provinsi di Indonesia yang menjalankan syariat Islam. Maka dari itu, kesadaran untuk generasi muda Aceh perlu digenjot agar ketika azan dikumandangkan, para pengunjung warung kopi sama-sama menyambutnya dengan melaksanakan salat pada saat itu juga, supaya terlatih sifat disiplin dalam diri kita.[]

KOMENTAR FACEBOOK