143 Tahun Agresi Belanda & Kami Masih Seperti Pekerja Paksa

Seorang teman Arhas sedang membersihkan sumur seorang toke. Foto: Arhas Peudada.

Sakit dan kerja.
143 tahun agresi Belanda terhadap Acéh, 26 maret 1873-2016. Dan kami masih bekerja seperti pekerja paksa saat masa kolonial Belanda.

Sudah lima hari sijuk-su um sekujur badan, berdenyut kepala dan meukrôt-krôt dalam mata menderaku, terhitung sejak sebelum menziarahi jeurat Teungku di Awé Geutah, 22 Maret hingga sebelum saya bangun pada pagi yang berbahagia ini. Anehnya, kesakitan yang tidak seberapa itu hanya terfokus di sebelah badan sahaja. Ya, hanya bagian badan sebelah kiri, dari ujung kepala hingga ke ujung kaki denyutan itu tak berhenti.

Jum’at kemarin, saya bangun mengawali pagi ke kedai kopi, seperti hari-hari lain. Lalu memulai aktifitas harian, bekerja pekerjaan sebagai buruh ‘apa yang ada’ di kampung. Sebagai preman pasar Peudada, menjadi Harl Land adalah bukan hal yang kami mahu dilakukan. Namun karena tiada keahlian lain, terpaksa kami geluti juga. Untuk mengasapi dapur. Demi membungkam mulut dan mengganjal perut.

Seorang teman mempelawaku untuk membantunya membersihkan sumur di sebuah kedai seorang toke. Usai membuang air yang sudah bau dan dihinggapi preün (anak nyamuk-pen) dengan mesin penyedot, sumur yang dalamnya 13 cincin sumur pun kami bersihkan. Yusuf, teman yang telah mahir dalam bab gali-menggali ini langsung turun ke dalam sumur. Untuk mengorek adô lumpur yang melekit di dua meunjéng sumur bagian bawah. Aku berdiri di atas, menarik timba hitam duapuluh liter yang telah diisi adô dan sesampah dan air dari sini untuk kubuang ke luar.

Duaratusan meter dari tempat kami tuëng-upah terdengar suara pengajian oleh rekaman kaset, dari corong mic Masjid Baitun Nur, Keudèë Peudada, pertanda waktu shalat jum’at akan segera masuk. Kami meninggalkan pekerjaan kami. Apalagi ada petuah orang-orang tua, “uroë jumu’at pantang that taék bak kayèë atawa tatrôn lam möen”. Maksudnya, hari Jum’at tidak boleh menaiki pohon atau turun ke dalam sumur. Sementara empat lagi cincin bagian atas belum habis kami lem dengan adukan semen.

***
Shalat Jum’at telah usai, orang-orang bertabur ke kelalaian kerjaan harian masing-masing. Saya yang mengeluh kesakitan mata yang ‘meuchöep-chöep’, ditambah lagi kepala berdenyut semakin kencang dan gigi yang menggatal tak beraturan yang kesemuanya berpusat hanya di tubuh bahagian kiri, merasa tak sanggup melanjutkan kerja lagi.

Tapi jika saya tak menyambung kerja maka gaji saya akan dipotong. Atau bisa jadi sama sekali tak digaji, hanya dikira kerja gotong royong, suka rela. Dan begitulah kebiasaan orang-orang kaya di kampung kami berstatemen, mempertahankan argumentasi untuk menjajah kami. Kami pun harus akur. Sebab rezeki kami, Rabb berikan melalui tangan mereka. Dan ‘orang miskin sangat dilarang untuk untuk protes’.

Dalam hati aku sempat mengeluh, “hèëk that takeurija bak awak droëteüh jinöe. Gaji galak-galak awak nyan, keurija lagèë bui poëk ateüng, hana jeüt piyôh meusiat. Mangat that ureüng chiëk geutanyöe jameün geukeurija bak kafé”. Maksudnya, lebih dihargai bekerja dengan kolonial Belanda zaman dulu, berbanding bekerja dengan sambungan kolonial sekarang ini.

Peudada, 2016.

KOMENTAR FACEBOOK