Mengambil Pembelajaran Dari perang Aceh

ACEH merupakan wilayah paling barat Indonesia dengan beragam kisah dan rentetan perjuangan menuju keadilan serta kesejahteraan. Dinamika perpolitikan yang terus bergulir hingga detik ini merupakan wujud dari pergerakan di masa lalu. Kondisi masyarakat Aceh dari berbagai sisi mulai lebih kondusif dibanding dengan kondisi masa konflik yang begitu pekat dengan “kegelapan”.

Hari ini Aceh sedang bangkit keluar dari lumpur “kegelapan” konflik dan Tsunami yang menghantam negeri ini yang tentunya masih sangat membekas di benak cucu Endatu. Tentu saja ia tak harus ditangisi, tetapi justru menjadi titik balik menuju kesejahteraan yang hakiki yang terus menjadi cita anak negeri. Dalam menggapai cita, kita dihadapkan dengan sejumlah tantangan dan rintangan yang tak mudah. Quran menyuruh kita untuk terus menggali kehidupan umat sebelum kita demi menangkap hikmah yang terkandung dalam setiap episodenya.

Dalam rentetan sejarah Aceh, perang merupakan bagian yang tak terlupakan. Akibat banyaknya perang sampai-sampai tak tahu yang paling berkesan dalam memori masyarakat. Tapi di antara perang tersebut ada satu perang yang menjadi kebanggaan Aceh yaitu Perang melawan serdadu belanda atau dikenal Perang Aceh.

Jilid satu

Pada 26 Maret 1873 dengan resmi Belanda memaklumkan perang kepada Kesultanan Aceh dan tidak lagi mengakui kedaulatan.  Namun pada 23 April 1873, Pasukan kesultanan Aceh di Kutaraja berhasil mengalahkan Belanda. Rakyat Aceh tentu bangga karena untuk pertama kali berhasil mengalahkan kekuatan kulit putih dengan tewasnya Jenderal Kohler yang pertama terjadi pada abad ke 19. Peristiwa ini menjadi berita besar dan menggemparkan Eropa karena perang Aceh menjadi berita halaman utama pada London Times edisi 22 April 1873 dan New York Times edisi 6 Mei 1873 (Harry Kawilarang : Aceh dari Sulthan Iskandar Muda ke Helsinki, 2010)

Kekalahan ini membuat Belanda murka dan menaruh dendam besar, akibatnya Belanda melakukan invasi ke Aceh selama 69 tahun lamanya. Para Sejarawan mengungkapkan bahwa dalam sejarah Belanda, Perang terhadap Aceh merupakan perang terdahsyat selain memakan waktu yang lama juga menghabiskan materil yang luar biasa serta menewaskan lebih dari seratus ribu pasukan Belanda.

Perang aceh jilid satu ini tentu meninggalkan satu kesan yang luar biasa bagi masyarakat aceh selain menambah semangat jihad di medan tempur juga sikap percaya diri yang muncul dari setiap rakyat untuk terus berdiri tegap di hadapan para kolonialis dan penjajah yang ingin menguasai negeri ini.

Bagi sebagian Rakyat Aceh sejarah bukanlah hal yang istimewa. Kita tidak mendengar peringatan hari penting melebihi 4 Desember, lebih-lebih dengan 26 Maret 1873 hari maklumat perang belanda terhadap Aceh. Saat para jihadis rela mengorbankan jiwa dan harta demi kehormatan agama dan bangsa di atas segalanya, sebaliknya generasi mereka terlalu lama terbuai dalam euphoria kemenangan hanya dengan seorang Kohler.

Pesan Jiang Zemin, mungkin tepat bagi rakyat Aceh ; “ Sejarah itu ibarat cermin dan kita harus belajar untuk memahami latar belakang permasalahan guna melangkah ke masa depan”. Tentu saja belajar untuk terus menjadi bangsa yang merdeka bukan di bawah jajahan. Saya teringat dengan setiran seorang sahabat “lebih baik menjadi kepala ikan teri daripada ekor ikan paus”.

Tentu sangat wajar, bagi generasi untuk mengambil hikmah dari Perang Aceh jilid satu. Lalu kemudian terus waspada dan mempersiapkan diri karena penjajahan akan terus bergulir dalam bentuk yang berbeda dan kemasan yang menipu. Setidaknya ada dua hal yang bisa kita petik dari episode tersebut, pertama kita terlalu lama berbangga diri sehingga terhipnotis oleh masa kemenangan. Kedua kita adalah bagian penduduk planet bumi yang juga ikut sebagai kontestan percaturan politik dunia yang diperhitungkan.

Dan akhirnya mari memilih Aceh 1 di tahun depan dengan lebih bijak dan terus mengambil hikmah dari setiap lembaran sejarah negeri ini serta tidak pernah menjadi generasi pelupa akan sejarah bangsanya. []

KOMENTAR FACEBOOK