Rindu Pemimpin Bersyariat

Rindu kami bukanlah soal segantang
Rindu kami adalah darah dan denyut nadi
Rindu kami adalah harap yang tiada henti
Rindu kami adalah tasbih-tasbih yang menyatu
Mengagungkan Tuhan
Berharap lahirkan pemimpin syariat

Rindu kami hari ini di tanah tandus
Bercerai berai sekian umat
Berlarian entah kemana
Kami kehilangan sang imam yang membuat kami sejuk
Bertekuk dalam katanya
Diam dalam suaranya
Teduh dalam pangkuannya

Rindu itu masih saja tertanam
Dalam darah dan nadi-nadi kami yang masih bergerak
Mencari-cari sang pemimpin syariat di negeri indatu
Terpekur, mungkin sesat
Diam mungkin tak lagi waktunya
Berteriak bukan lagi tempatnya
Bertasbih-bertasbihlah
Bersihkan kotoran-kotoran hati
Kotoran-kotoran tahi
Kotoran jiwa yang lalai dengan ambisi

Rindu kami pada sang imam
Yang memimpin syariat murni di negeri ini
Mau berkata ke sinilah anak negeri
Lihat rumahku terbuka buat semua penjuru negeri
Lihat kantongku masih sama seperti dulu
Kuharap engkau mau mengerti
Datang dan tuangi rumah ini setiap hari
Karena aku memimpin bukan mencari rezeki
Aku memimpin mencari ridha ilahi

Rindu kami pada imam yang mau mengaji
Mau mengajarkan kami
Bahwa Tuhan adalah titik yang abadi
Tuhan bukan untuk dijual beli

Sudut Kampus Tua-Gle Gapui Pidie, 11 Maret 2016

KOMENTAR FACEBOOK