Gam Cantoi In Memoriam!

BAGI pembaca yang tidak familiar dengan nama Gam Cantoi, perlu diketahui bahwa Gam Cantoi di sini bukanlah bagian dari Gerakan Aceh Merdeka yang dipimpin oleh Tengku Hasan Muhammad di Tiro tempo hari. Jika anda membayangkan suatu informasi tentang GAM sebaiknya segera tinggalkan tulisan ini karena di sini tidak sedang mengulas tentang gerakan yang menuntut kebebasan itu.

Dulu, walaupun masih kecil aku masih ingat, hampir setiap hari setelah pulang kerja dari kantor Ayah pasti membawa pulang koran ke rumah. Jika bukan hari kerja biasanya aku juga diajak untuk membeli koran di simpang Sampoiniet, perbatasan Lamlagang-Neusu Aceh. Saat itu—bahkan sampai kini—Harian yang pernah memuat rubrik kartun GAM Cantoi adalah koran favorit yang menjadi bacaan keluargaku bahkan seluruh rakyat Aceh, dari kedai kopi sampai kedai kopi lagi.

Dari 6 anggota keluarga, Ayah merupakan orang yang membaca paling banyak dari ratusan berita di koran. Ayah biasanya paling suka tentang berita di halaman “internasional” yang membahas tentang isu-isu politik di luar negeri. Kalau Ibu biasanya hanya membolak-balikkan lembaran utama atau paling tidak—sebagai penduduk Banda Aceh—membaca halaman “Kutaraja” karena halaman ini berisi berita-berita yang terjadi di kawasan Banda Aceh dan sekitarnya.

Rambut boleh sama hitam tapi isi kepala siapa bisa jamin? Berbeda dengan Ayah dan Ibu, halaman favorit anak-anaknya yang semuanya laki-laki adalah halaman Olahraga dan Sepakbola. Disini banyak berita tentang klub-klub sepakbola lokal dan nasional seperti Persiraja, Persija, Persib dll. Untuk berita sepakbola internasional juga tidak ketinggalan berita persaingan ketat dan sepakbola indah La Liga, Primier League dan Serie A.

Berawal dari sini lah aku mengenal AC Milan melalui gambar-gambar heroik Andriy Shevchenko dkk yang kemudian membuatku menjadi Milanisti garis keras. Jika dipikir-pikir saat itu aku belum lancar membaca dan hanya bisa melihat gambar-gambar striker yang mencetak gol ke gawang lawan atau sekedar mengamati klasemen sementara liga-liga di eropa dengan seksama. Tapi kalau memang jodoh takkan kemana, kharisma AC Milan telah membuatku jatuh hati dengan segudang prestasinya, walau saat ini rimueng itu sedang tengeut sebentar.

Rubrik Terheboh

Dari sekian banyak berita yang disajikan Harian Serambi Indonesia ada sebuah rubrik yang tak ingin ditinggalkan oleh pembacanya, mulai dari anak-anak sampai kakek-kakek. Chik putik tuha muda semuanya tidak ingin melewatkan rubrik yang satu ini. Rubrik terheboh itu adalah sebuah rubrik kartun yang diberi nama dengan Gam Cantoi karya M Sampe Edward S.

Konon, rubrik kartun Gam Cantoi merupakan panggung kritik sosial dengan selera humor yang tinggi. Selain kocak dan menggelitik kartun ini memiliki ciri khas tersendiri. Gam Cantoi mampu menghibur pembaca dengan adegan-adegan tanpa percakapan. Artinya kekonyolan Gam Cantoi lahir dari adegan-adegan yang diperagakannya tanpa berbicara. Biasanya Gam Cantoi dalam tiga kolom kartun tersebut juga mengikutsertakan istri dan anak-anaknya yang juga tidak kalah konyolnya.

Gam Cantoi memiliki postur tubuh yang tinggi dan kurus (pijuet panyang), rambutnya keriting dengan sehelai rambut yang menjulang tinggi di bagian depan. Pakaiannya sederhana; perpaduan baju oblong dengan kombinasi celana panjang beserta sarung yang dipinggangnya diatas lutut ala pejuang aceh tatkala melawan kolonial belanda di masa penjajahan silam. Anak-anaknya yang masih kecil berkepala plontos dengan sehelai rambut yang menjulang dibagian depan seperti halnya sang ayah. Mungkin film melayu anak-anak yang terkenal dari negara tetangga tersebut terinspirasi dari anak Gam Cantoi ini, mungkin.

Dengan sketsa yang seperti inilah M Sampe Edward mencoba menghibur seluruh penikmat koran tempat dia bekerja. Gam Cantoi hadir untuk mencairkan suasana di tengah kasak-kusuk dan hiruk pikuknya sistem pemerintahan dan perpolitikan negeri ini. Didalamnya juga tidak luput kritikan dan sindiran kepada instansi pemerintahan dan para pejabat yang tidak becus mengurus negeri ini bahkan termasuk ketimpangan sosial yang sedang terjadi saat itu.

Dulu, bagi anak-anak yang seumuran denganku, yang belum lancar mengeja huruf, kartun Gam Cantoi merupakan rubrik yang ditunggu-tunggu. Jika ada koran itu maka halaman yang dicari adalah halaman yang ada rubrik Gam Cantoi-nya karena jika sudah melihat Gam Cantoi rasa puasnya sama seperti mengkhatamkan seluruh isi Harian Serambi Indonesia.

Hobi menikmati rubrik kocak ini terus berlanjut sampai aku besar hingga akhirnya sang arsitek dibalik kartun ini dipanggil menghadap Allah SWT. Muhammad Sampe Edward S, kartunis “Gam Cantoi” meninggal dunia pada Sabtu 30 Maret 2013 sekitar pukul 18.50 WIB di RS Herna, Medan (aceh.tribunnews.com)

Sejak berpulangnya M Sampe Edward, kartun Gam Cantoi juga mengikuti jejak tuannya. Sampai kini, tepat tiga tahun setelah kita semua didahului oleh kartunis legendaris ini tak ada lagi rubrik kartun Gam Cantoi atau yang sejenis dan sepadan dengannya yang menghiasi halaman media tersebut. Mungkin ini merupakan sinyal kepada kita semua bahwa saat ini Aceh sedang mengalami krisis seniman di bidang kartun dan karikatur.

Pada akhir tulisan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada sang kartunis legendaris ini yang telah banyak memberi semacam rangsangan dan stimulus kepada para pembaca tentang bagaimana cara untuk memaknai dan menginterpretasi kartun yang hanya berisi tiga kolom tersebut. Terima kasih M Sampe Edward, terima kasih Gam Cantoi yang telah menjadi penghibur di masa kanak-kanak hinga masa remajaku. Semoga Allah menempatkannya di tempat yang layak disisi-Nya dan mengganjar seluruh amal kebaikannya dengan ganjaran yang pantas.

KOMENTAR FACEBOOK