Catatan Tentang Almarhum Nazar Djeumpa

Almarhum Nazar Djeumpa.

Bertahun-tahun; saya tak pernah berjumpa dengannya. Padahal kami acap berkomunikasi via chatingan FB (khusus menyangkut dunia tulis-menulis). Jarak domisili kami tak terentang jauh. Saya di Sigli; dia di Bireuen—hanya dua jam perjalanan dengan bus umum.

Tapi begitulah takdir semesta yang berlaku antara saya dan dia. Kami saling mengenal melalui tulisan di koran dan media sosial. Bahkan sekira dua tahun lalu saya pernah menitipkan dua antologi cerpen—Pada Tikungan Berikutnya dan Rumah Baru—via Arhas Peudada (yang waktu itu singgah di Sigli yang mana antara dia dan Arhas adalah  satu daerah dengannya dan mereka sering bersua).

Hingga tibalah pada suatu hari di mana saya dikejutkan sejumlah postingan Facebook yang diawali dengan “innalillahi wa inna ilaihi raji’un”.

Setiap membaca status FB berawalan “innalillahi—” saya selalu didahului bayangan seorang yang berusia lanjut telah meninggal. Dan pada umumnya memang begitu. Selalu yang tua yang meninggal.

Tapi kemarin, Rabu, 30 Maret 2016, beberapa status teman mengawali kata-kata itu untuk sebuah nama dari seseorang yang masih muda, Nazar Djeumpa.

Waktu berjumpa Arhas dua tahun lalu, saya banyak bertanya tentang Nazar. Arhas bilang, Nazar adalah orang dengan kehidupan sederhana, bersahaja, ramah, dan rendah hati.

Terlepas dari info Arhas, tiap membaca cerpen karya Nazar, baik di Harian Waspada, Medan, atau di Harian Serambi Indonesia, Aceh, saya membayangkan dia seorang pemuda yang sunyi. Seandainya, sekali dalam hidup ini, kami sempat bersua, mungkin bayangan jarak-jauh saya tentang Nazar bisa salah.

Ada teman maya yang bertahun-tahun saya membayangkannya sebagai seorang pendiam (berdasarkan tulisan-tulisannya di FB dan media massa online serta koran), dan saat peruntungan memperjumpakan kami tanpa sengaja di sebuah warung kopi, ternyata dia bicara tak henti-henti. Ada teman maya yang bertahun-tahun saya membayangkannya sebagai seorang yang amat hati-hati dalam komunikasi (berdasarkan tulisan-tulisannya di FB dan media massa online serta koran), dan saat peruntungan memperjumpakan kami tanpa sengaja di sebuah warung kopi, ternyata lidahnya lentur bukan main. Dalam hal ini saya senang bahwa prediksi saya tentang orang sering salah. Tapi salahkah juga bayangan saya tentang Nazar bahwa dia seorang penulis muda yang sunyi?

Saya tak mungkin lagi membuktikan itu. Tuhan telah merentangkan jarak kami teramat jauh.

Oya, Sahabat Nazar; cerpenmu yang dimuat Harian Serambi kemarin, Ahad, 27 Maret 2016, yakni dua hari sebelum engkau meninggal, belum sempat saya baca. Saya sering begitu: membaca sastra-koran ketika korannya sudah tak lagi jadi rebutan (koran di warung kopi langganan). Pemilik warung tahu, semua lembaran koran-bekas bisa dia bikin sebagai pembungkus kue, kecuali halaman pertama Serambi edisi Minggu (di mana pada sisi dalamnya adalah Halaman Budaya tempat Cerpen, Puisi dan Esai anak negeri diaksarakan), itu pasti akan dia simpan untuk saya jika ia tak ingin kehilangan seorang pelanggan terbaik.

Saya pasti akan membaca cerpenmu itu. Dan saya yakin, satu-dua teman yang sempat membacanya pada hari terbit, mereka cendrung akan membacanya sekali lagi tatkala tahu engkau meninggal dua hari setelah itu. Mereka akan mencerap dua kesan yang berbeda: 1. Cerpenmu sebagai sebuah sastra independen sejalur thema yang terusung di dalamnya; 2. Cerpenmu sebagai pertanda akhir hidupmu, yakni membaca sambil mencoba mencari-cari abstraksi-literal yang mengusung signal kematian di dalamnya. Tetapi saya tak mungkin lagi memutar balik jarum waktu demi mengejar pola-baca yang ke-1. Sudah mustahil membacanya sambil berpura-pura menghayati bahwa engkau masih satu dunia dengan saya.

Yah, sudahlah. Selalu ada yang “dibawa pergi-dan-tak mungkin terganti” oleh sebuah kematian muda. Selamat jalan, Penulis Cerita Pendek. []

KOMENTAR FACEBOOK