Aceh Merindui Kritikus Teater, Mungkinkah?

KRITIK merupakan studi yang menyelidiki karya melalui analisis-interpretasi-memberikan penilaian barulah memberi komentar. Awalnya kritik berasal dari bahasa Yunani Krit’es yang berarti seorang Hakim, maka selanjutnya dimaknai Krinein (menghakimi). Jadi kritikus Teater merupakan pelaku yang menyoroti, mengupas terhadap interpretasi teks pertunjukan teater baik secara baik maupun buruk, atau orang yang menghakimi karya penciptaan secara adil.

Dewasa ini, pelaku kritik teater terasa benar ketiadaannya sehingga sebuah pertunjukan teater dibutuhkan kritik oleh kritikus agar jadi jembatan antar penonton dengan karya dan sutradara. Tanpa kritikus, sebuah karya terasa tertutup sebab ada sesuatu yang tak terjawab oleh penonton. Disinilah kritikus menjalankan fungsinya.

Dua hari atau bahkan seminggu sebelum pertunjukan teater dilaksanakan. Kritikus seharusnya telah mempublikasikan pemikirannya di media agar penonton masuk ke gedung pertunjukan membawakan suatu pemahaman, ya teks pertunjukan itu. Walau setelah itu penonton juga menilai pertunjukan tersebut dengan kecerdasannya. Kritikuslah yang pertama berusaha menentukan nilai dengan menganalisa teks pertunjukan secara teoritis, tentu juga berangkat dari konsepsi penyutradaraannya sutradara, sehingga memberikan alternatif baik bagi penonton maupun tim artistik pertunjukan tersebut.

Kritikus memakai pisau dramaturgi (ajaran atau tentang masalah hukum, dan konvensi drama, serta teater) untuk membaca teks pertunjukan. Setidaknya kritikus mampu membuat penonton menghargai pertunjukan teater yang ditontonnya-tidak menjadikan teater sebagai tontonan. Atas dasar itu, ternyata kritikus sangat penting posisinya bagi sebuah pertunjukan. Posisinya tidak hanya sebagai pemberi nilai baik dan buruk, lebih dari itu kritikus dapat menjadi juru bicara pertunjukan teater itu. Makanya pada masa lalu, mengapa komunitas teater, dan pertunjukan cepat di baca, serta diketahui massa karena dalam sebuah komunitas teater selalu saja ada seorang juru bicara atau kritikus yang menyampaikan peristiwa proses kreatif suatu kelompok teater. Dewasa ini, sangat disayangkan jangan pada sebuah komunitas teater, di luar komunitas teater pun sangat sedikit, jika tidak ingin mengatakan tidak ada kritikus teater. Sesungguhnya dengan adanya kritikus katakanlah dalam sebuah komunitas teater. Seluruh proses kreatif, dan pertunjukan teater dimanapun-kapanpun secara tidak langsung tercatat, serta terpublikasikan. Bagi sutradara, dan tim artistiknya ini juga penting, para pencipta dapat mengukur perihal karyanya yang telah menjadi milik masyarakat itu tergolong berhasil, atau bermamfaatkah buat penontonnya.

Kritikus juga dapat menganut sistem pembinaan dengan jalan membimbing lewat kritik edukatif kepada sutradara atau aktor muda. Akibatnya, sutradara-sutradara mulai bermunculan, begitu pula dengan aktor-aktor yang berkualitas akan lahir lewat masukan-masukan yang diberikan kritikus, sehingga sutradara dan aktor mengerti kekurangannya-lalu memperbaikinya. Begitu pula dengan tim artistik yang barangkali selama ini telah sangat bangga, dan bahagia dengan kerja artistiknya sering tidak adanya keseimbangan pertunjukan teater sebagai kerja kolektif. Tugas kritikuslah untuk menegur agar terjadi komunikasi yang antara sutradara-aktor, dan tim artistik, serta penonton.

Namun begitu juga hendaknya kepada kritikus. Kritikus tidak cukup pula hanya dengan teori yang dimiliki untuk membedah, menilai sebuah pertunjukan teater. Tentu dalam menyingkap konsepsi sutradara yang tersirat, kritikus tidak cukup membaca konsep teoritis saja, tetapi harus menyaksikan proses kreatif penyutradaraan seorang sutradara. Kritikus setiap saat perlu mengasah ketajaman rasa, penglihatan, dan musikalitas ketika terjadi proses latihan sutradara bersama aktor-musik-seting-cahaya, maupun ketika terjadi reading (baca naskah). Jadi kritikus tidak cukup hanya melihat sekali, diwaktu pertunjukan saja. Hal ini mengakibatkan banyak peristiwa-peristiwa dalam proses kreatif tidak diketahui oleh si tukang kritik. Mengapa hal ini penting, proses kreatif seorang sutradara perlu ditonton agar kritikus sekaligus dapat mengasah ketajaman berpikir, memahami apa sesungguhnya konsep pertunjukan yang diingini oleh sutradara. Bila ini tidak dilakukan oleh seorang kritikus, maka kritikuslah yang telah menjerumuskan penonton karena telah memberi pendapat yang salah.

Seorang kritikus teater, selayaknya berangkat dari seorang aktor, sutradara, dan bahkan tim aristik agar mengetahui bagaimana sulitnya mempersiapkan pertunjukan teater. Rumitnya membangun relasi antara aktor, dan artistik. Jika kritikus yang seperti ini lahir, maka terciptalah kritik yang berkualitas, dan menjadi medium pembelajaran bagi aktor-tim artistik-sutradara, sekaligus teater modern di Indonesia akan maju pesat.

Berangkat dari itu semua, Sumatera masih punya harapan besar akan memiliki kritikus yang berkualitas. Betapa tidak, di Jurusan Teater, Fakultas Seni Pertunjukan, Institut Seni Indonesia Padangpanjang yang memiliki minat utama Dramaturgi. Tentu kritikus itu bertumpu kepada lulusan, atau yang sedang berkuliah pada minat utama Dramaturg. Sedang di Aceh ada Institut Seni dan Budaya Indonesia (ISBI) Aceh Fakultas Seni Pertunjukan memiliki Prodi Seni Teater. Ada pembelajaran tentang formula dramaturgi 4 M: mengkhayalkan, menuliskan, memainkan, dan menyaksikan teks pertunjukan teater itu. Para dramatug itu, tentu telah merebut ide untuk dikisahkan-lalu menuliskan kisah itu jadi naskah lakon-memainkan laku dari kisah itu-selanjutnya menontonkan kisah yang dilakonkan. Semuanya itu adalah modal utama untuk menjadi kritikus. Terlebih jadi penonton dalam proses kreatif teater yang ditransformasikan menjadi realitas teater. Ketika menjadi realitas teater inilah-proses kreatif kritikus teater terjadi. Persyaratan itu semua, dimiliki oleh mahasiswa yang memilih minat utama Dramaturgi. Jika pilihannya minat dramaturgi, maka tulisanlah yang harus lahir, sebab secara teoritis mereka telah memiliki ilmu pembedahnya. Hanya saja ditunggu tulisan kritiknya.

Kenapa W.S. Rendra, Arifin C. Noer, Putu Wijaya, Nano Riantiarno, Wisran Hadi menjadi besar selain karya-karyanya memang besar-mereka memiliki juru bicara yang disebut kritikus telah membesarkan mereka. Bagi kritikus juga dengan sendirinya akan besar apabila punya andil membesarkan orang lain. Ya, begitulah seharusnya sebuah kepentingan bersama antara yang di tulis dengan yang menulis. Sumatera Barat, bicara teater selalu saja memiliki gagasan-gagasan besar, sayangnya gagasan itu hanya terkurung diruang public yang bernama gedung teater usai pementasan, tidak pernah terpublikasikan ke medium publik lewat media massa. Maka, di Sumatera ada ISI Padangpanjang di Sumatera Barat dan ISBI Aceh di Jantho Aceh Besar, baik mahasiswa dan alumni serta dosennya akan menjadi kritikus.

Khusus untuk Aceh dengan adanya ISBI Aceh melalui Prodi teater akan lahir kritikus-kritikus muda untuk dunia teater, sehingga akan terjadi kemajuan yang dapat dibanggakan. Perkembangan teater modern di Aceh tentu menuju ke perkembangan yang lebih baik. Betapa tidak, nantinya akan lahir kritik-kritik yang membangun dari setiap pertunjukan yang dikemas oleh sutradaranya. Kritik itu boleh jadi di muat di media-media nasional yang membuat seluruh masyarakat teater di Indonesia membacanya lalu akan mengenal komunitas teater tersebut. Hal ini membuat kemajuan bagi kebedaraan teater modern di Aceh, di kenal di tingkat nasional sehingga jika ada event teater yang bertaraf nasional pasti akan diundang.

Jadi, kritik-kritik yang di tulis di media oleh kritikus akan menjadi kurasi yang di baca oleh event-event organizer di tingkat nasional dan bahkan internasional. Hal ini yang selama ini terjadi di Sumatera Barat, kritikus teater muncul dari kalangan akademisi jurusan Teater ISI Padangpanjang, tulisannya tersebar di seluruh Koran nasional dan lokal, tentang pertunjukan teater, oleh sebab itu komunitas teater di Sumatera Barat dikenal dalam kancah nasional maupun internasional. Hal ini menyebabkan komunitas teater di Sumatera Barat sering diundang pentas di tingkat nasional, bahkan internasional. Melalui jurusan teater ISBI Aceh warga teater modern di Aceh merindui lahirnya kritikus teater yang berkualitas, mungkinkah (?) Siapa yang berani tunjuk tangan, tentu ditunggu kemunculannya. Bravo! []

KOMENTAR FACEBOOK