Siapa Zaini Abdullah?

“Saya akan keluar dari Partai Aceh”

Hanya Zaini Abdullah yang tahu bagaimana perasaannya kala melontarkan kalimat itu. Semua orang tahu, tidak mudah menghadirkan Partai Aceh, dan Zaini Abdullah salah seorang yang ikut membidani kelahiran PA yang sejak damai menjadi penguasa di Aceh.

Tapi, ketika ia menyertakan kalimat penegas bahwa ia akan kembali lagi, publik jadi mengerti bahwa keluarnya Abu Doto hanya sementara. Kemengertian publik makin jelas ketika Gubernur Aceh itu menjelaskan isi dalam Partai Aceh.

“Tidak ada lagi demokrasi di Partai Aceh saat ini.”

Ini bukan kesimpulan yang mudah. Ini kritik yang teramat keras. Tapi begitulah adanya Abu Doto. Dahulu, sekitar 2008, kepada wartawan yang menayakannya soal perjuangan apa yang dilakukan di negeri (Swedia) yang memberikan kesejahteraan kepada para warganya itu, Zaini menjawab: “Justru disinilah kami secara langsung belajar tentang pemerintahan. Bagaimana negeri ini bisa memberikan kesejahteraan kepada masyarakatnya. Bagaimana rakyat bisa mengkritik pemerintah. Bagaimana demokrasi dijunjung tinggi.”

Jadi, bagi Zaini kritik bagian dari kesadaran lama yang memang ada dan tumbuh di dalam sanubarinya. Ketika ia mengkritik Partai Aceh yang juga partainya sendiri maka itu bukan untuk meruntuhkan Partai Aceh, dan karena itu ia akan kembali untuk mereformasi Partai Aceh, menegakkan konstitusi dan mengembalikan posisi Tuha Peut sebagai forum pengambil keputusan.

“Majelis Tuha Peut Partai dilecehkan, dan tidak dianggap, semua keputusan partai diputuskan secara personal oleh ketua umum, dan ini kesalahan besar di tubuh PA saat ini,” terang Zaini.

Kritiknya adalah kecintaanya, dan itu jelas ditegaskan bahwa “Saya cinta Partai Aceh dan saya berjanji akan memperbaikinya nanti.”

***

Janji itu mungkin sama dengan keinginannya untuk kembali mencalonkan diri sebagai gubernur Aceh. Itu juga menjadi alasan mengapa ia keluar dari Partai Aceh hanya untuk sementara. Ketentuan memang mewajibkan bahwa bagi calon perseorangan wajib kelaur dari partai.

Memang, sudah tidak ada jalan lain bagi Zaini untuk maju melalui Partai Aceh. Ketua Umum Partai Aceh, Muzakir Manaf sudah menutup pintu. Kunci pintu yang ada pada Tahu Peut, meminjam ulasan Zaini, sudah dipegang oleh Muzakir Manaf, yang juga sudah menegaskan maju sebagai calon gubernur Aceh.

Zaini memang bukan sosok biasa. Usianya boleh senja. Tapi, semangat dan daya gebrak politiknya masih penuh daya tempur. Sebagai pribadi yang dididik dari dekat oleh Hasan Tiro, Zaini bukan sosok yang mudah dilemahkan, dijatuhkan, dikunci, apalagi disingkirkan.

Baginya, kritik bukan ukuran. Seperti peluru di zaman konflik, ia tidak kecut apalagi takut sehingga memilih untuk menyerah. Tekadnya untuk terus berjuang demi Aceh tetap kokoh meski pada akhirnya harus memilih berjuang di jalur diplomasi.

Begitu juga dengan hujan kritik berbagai kalangan terhadap pemerintahan yang otomatis dikendalikan oleh dirinya seorang sejak ia ditinggal secara politik oleh pasangannya, Muzakir Manaf. Sendiripun ia siap melangkah, dan dengan segenap kemampuan yang kini ia miliki dukungan terus datang siang dan malam.

Sungguh, usia tuanya bukan halangan, kesendirian dalam politiknya bukan hambatan, sebab tekadnya telah menjadi bara yang menerangi dan membakar semangatnya untuk kembali bertempur di Pilkada 2017.

Bagi lawan-lawan politik jelas keberaniannya tidak bisa diabaikan, meski ia kini sendiri memimpin pertempuran politik 2017.

KOMENTAR FACEBOOK