Antara Ruslan dan Khalili, Keduanya Belum Pasti?

Partai Aceh DPW Bireuen terus memberikan dinamika politik yang naik turun, tegang, penuh intrik dan padat kejutan. Walau Ketua Umum Partai Aceh, Muzakir Manaf sudah memberikan dukungan nyata kepada Ruslan- Efendi, namun bukan berarti kans Khalili, SH yang diusung oleh 26 Sagoe dan tiga daerah KPA Bate Iliek otomatis tertutup.

Nampaknya baik Khalili maupun Ruslan masih harus terus “bertempur” di lapangan. Spanduk keduanya yang masing-masing memasang foto Darwis Djeunib dan Muzakir Manaf terpampang di mana-mana.

Ada semacam keyakinan bahwa dukungan petinggi belumlah final walau sudah “dikorankan”.

Ada apakah ini? Siapa yang sebenarnya didukung oleh PA secara real? Mungkinkah masih ada “tarian” lain yang dimainkan hingga jelang pendaftaran calon untuk Pilkada 2016? Apalagi tersiar kabar bila masih ada calon lain yang “disimpan” untuk dimunculkan pada detik-detik terakhir.

Dari sudut lain muncul juga nama Husaini alias Teungku Bate yang oleh beberapa kalangan menyebutkan bahwa kian gencar bermanuver untuk mendapatkan kepercayaan Bang Darwis dan Mualem. Beberapa kegiatan sosial yang dibuatnya, kini mulai menggunakan pernik khas PA.

Namun sejauh ini, nama Ruslan masihlah yang dipegang oleh petinggi PA untuk diusung kembali.

Terlepas dari itu semua, sepertinya PA dan KPA Bireuen harus kembali duduk bersama untuk membahas ini dalam rapat internal yang dihadiri oleh semua perwakilan kelompok. Dinamika yang kian liar di lapangan harus didudukkan dalam pelukan demokrasi.

Bang Darwis selaku pemimpin tertinggi di KPA/PA Bireuen harus segera membuka ruang dialog dengan semua elemen di lingkar pinggang. Kisruh Khalili- Ruslan tidak boleh berlarut-larut.

Sebagai top leader, Darwis punya kewajiban menjadi ayah, wasit, pengamat dan payung bagi semua kader PA dan anggota KPA, sehingga semangat kebersamaan tidak selalu terpecah menjelang musim politik.

Membiarkan para pendukung untuk berperang spanduk dan argumen di lapangan tentu tidak bagus. Cukup satu orang yang menjadi korban pemukulan hanya gara-gara beda dukungan. Ini tidak boleh berlanjut. Karena masih banyak hal lain yang harus dilakukan selain dakwa-dakwi tak bermutu itu.

Para kader baik dari kalangan PA maupun KPA juga harus mendorong Darwis untuk menggelar rapat dengar aspirasi. Bukan rapat mendengar keputusan petinggi. Ruang demokrasi harus diperjuangkan agar melahirkan sebuah keputusan yang dipatuhi oleh semua kalangan.

Pada akhirnya baik Darwis Djeunib maupun orang lain harus mengerti bahwa politik bukan sekedar mematuhi keinginan para petinggi. Tapi juga menghargai aspirasi kader partai. Maka bila itu menjadi pedoman, rapat Akbar yang mewadahi semua Sagoe dan daerah menjadi sebuah keniscayaan. Wajib dan harus segera.

Biarlah nanti rapat yang memutuskan apakah sepakat mendukung Ruslan, Khalili atau malah Husaini. []

KOMENTAR FACEBOOK