Menyeruput Kopi di Puncak Buntul Kemala

ACEHTREND.CO, Redelong- Jarum jam menunjukkan angka 15:37 WIB. Udara gunung mencoba menembus baju kemeja yang saya gunakan. Langit sedikit mendung. Buntul Kemala, Kampung Pante Raya, Kecamatan Wih Pesam, Bener Meriah dibekap sejuk.

IMG_20160406_153627

Sri Wahyuni, Rabu (6/4/2016) menghidangkan french press coffee plunger alias ceret yang berisi kopi arabika premium yang di roasting light dengan blender halus.

“Maaf gula aren sudah habis. Kalau merasa pahit campur aja dengan sedikit gula pasir,” ujar Sri Wahyuni dengan mimik ramah.

Saya menuangkan ke dalam gelas yang ditaruh dalam talam yang terbuat dari kayu grupel. Aura hangat langsung menyergap ketika cairan kopi menelusuri tenggorokan.

Sri Wahyuni dan bunga segar rangkaiannya. Foto: Muhajir Juli.
Sri Wahyuni dan bunga segar rangkaiannya. Foto: Muhajir Juli.

Dalam waktu sekejap badan sudah terasa hangat. Sri Wahyuni, sang tuan rumah yang ramah, sambil sesekali menjelaskan tentang kopi, juga berbicara dengan sejawatnya dengan bahasa Gayo. Saya tidak mengerti.

Langkah kaki kemudian memasuki hamparan kebun kopi yang baru berusia tiga tahun, hasil karya Sri dan suaminya M. Husni Mukhtar.

Buntul Kemala adalah sebuah lorong di Pante Raya yang masih perawan. Tetumbuhan masih menghijau. Nyaris tidak ada space kosong yang menganggur. Ibarat apotek hidup, lingkungan di sini, cukup kaya dengan berbagai tumbuhan.

Di rumah Sri Wahyuni yang juga penggiat sosial dan lingkungan di Aceh, berbagai bunga dan tumbuhan lainnya tumbuh subur.

Waktu saya bertandang bersama M. Nazar- staf Forum Das Krueng Peusangan- perempuan berkacamata itu sedang merangkai bunga hidup untuk souvenir.

“Saya masih belajar merangkainya. Rencana mau buka usaha jual bunga segar untuk berbagai acara,” jelasnya sambil tersenyum.

Berkali-kali saya menyeruput kehangatan kopi arabica di puncak Kemala, serasa kemerdekaan hadir. Penat dan gelisah atas berbagai problema sejenak hilang. Ah, kopi dan kehangatan warga Gayo di Buntul Kemala memang memawa kesejukan.

“Ini kampung tua. Seingat saya sudah ada sejak agresi Jepang. Di dekat kaki Burni Telong yang tidak jauh dari sini masih ada bungker penjajah itu,” kata Sri mengenang.[]

KOMENTAR FACEBOOK