Berbagi Tidak Pernah Merugi

MASIH segar dalam ingatan, media cetak dan elektronik memuat laporan yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh pada awal Januari 2016 lalu. Bahwa jumlah penduduk miskin di Aceh per September 2015 mencapai 859 ribu orang atau 17,11 persen.

Dengan kata lain, terjadi peningkatan sebanyak delapan ribu orang miskin baru dibandingkan dengan jumlah orang miskin Aceh pada periode sebelumnya, Maret 2015.

Angka tersebut membuat tingkat kemiskinan di Aceh sebagai tertinggi kedua di pulau Sumatera setelah Bengkulu. Sedangkan di level nasional, Aceh masih menempati urutan ketujuh termiskin. Di sisi lain, angka pengangguran di Aceh juga masih berada di urutan tertinggi di Indonesia yakni 9,93 persen.

Kepala Bagian Humas Pemerintah Aceh mengungkapkan, bahwa kondisi Aceh sangat berbeda dengan daerah-daerah lainnya di pulau Sumatera. Aceh merupakan daerah yang dahulunya pernah mengalami konflik berkepanjangan, Juga pernah mengalami bencana besar berupa gempa bumi dan tsunami.

Kondisi geografis Aceh, lanjut Kepala Humas Pemerintah Aceh, sangat rawan dilanda bencana alam, seperti gempa bumi, banjir bandang,dan tanah longsor. Berbagai bencana alam itu terjadi dalam beberapa tahun terakhir, yang mengakibatkan hancur dan hilangnya faktor-faktor produksi masyarakat, yang umumnya hidup di daerah pedesaan dengan mata pencaharian sebagai petani dan nelayan.

Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Aceh  mengatakan banyak faktor membuat jumlah penduduk miskin di Aceh meningkat. Di antaranya adalah harga berbagai produk pangan dan industri relatif mahal dibanding daerah lain, baik di level regional maupun level nasional.

Tujuh puluh persen mata pencaharian penduduk Aceh, lanjut Kepala  BAPPEDA adalah petani, petambak, peternak, dan lainnya. Sedangkan berbagai kebutuhan industri pangan harus dipasok dari luar daerah dengan harga tinggi. Kondisi ini tak mampu membantu kenaikan harga produksi pertanian di Aceh, sehingga nilai tukar petani tak naik signifikan.

Berbagi Yuk

Menyelesaikan segudang permasalahan tersebut tentu tidak dapat dilakukan oleh pemerintah secara sendirian. Namun diperlukan kontribusi masyarakat melalui lembaga-lembaga sosial kemanusiaan dan sebagainya  agar terwujud kehidupan yang lebih bermartabat.

Tulisan ini tidak akan menyerapahi tata kelola pemerintah yang memang sangat layak diserapahi. Namun, tulisan ini lebih sebagai upaya mengajak pembaca semua untuk bertanya ke dalam hati sendiri.

Apa kontribusi yang telah dilakukan untuk mewujudkan senyum ceria anak negeri? Adakah manfaat diri bagi gampong yang kita tinggali? Atau, jangan-jangan wujud kita tak lebih baik dari seekor sapi?

Untuk bisa berbagi tidak harus menanti kaya terlebih dahulu. Sebab kita tidak pernah tahu dengan pasti apa yang akan terjadi pada detik, menit, jam, siang atau malam berikutnya. Justeru kematian yang pasti akan menghampiri. 

Berbagi tidak melulu soal uang atau materi. Ilmu, pengalaman kerja, hikmah kehidupan, keterampilan atau waktu pun bisa dijadikan medium untuk berbagi. Kuncinya ada pada 2 M. Yaitu, mampu dan mau.

Banyak buku tentang kekuatan berbagi telah ditulis. Banyak kisah perihal kejaiban berbagi telah dinukil. Banyak hikmah dari berbagi kepada sesama telah dituturkan. Semuanya bermuara pada satu kesimpulan. Bahwa tidak akan pernah merugi siapa saja yang mau berbagi. []

KOMENTAR FACEBOOK