Sebelum Mualem Kehilangan Muka di Bireuen

Kumis Bang Darwis tidak lagi keramat! Itulah pernyataan seorang teman di warung kopi. Kalimat ini tidak main- main dan bukan guyonan. Karena keluar dari mulut orang yang selama ini sangat memuji Panglima KPA Bate Iliek itu.

Hal ini dipicu oleh persinggungan dua kubu KPA yang masing-masing mendukung Ruslan kembali berkuasa dan satu lagi mendorong agar Khalili dipilih sebagai bakal calon Bupati Bireuen dari Partai Aceh. Grup kedua ini berharap agar di tubuh KPA/ PA Bireuen dibuka wadah demokrasi.

Kelompok kedua semakin tidak sabar ketika Darwis Djeunib kemudian mensahihkan keputusannya untuk mendukung petahana Ruslan M. Daud. “Demokrasi telah mati!,” ucap seorang eks kombatan GAM.

Idris Juli, Panglima Daerah II KPA Bate Iliek bereaksi. Dia menyebutkan mereka mendukung Khalili, karena sarjana hukum itu punya track record bagus dan juga orang lama dan ureueng droe dalam perjuangan Aceh Merdeka tempo lalu.

Dia juga menyebutkan, sedangkan Ruslan yang alumni salah satu dayah di Bireuen itu, selain tidak berada dalah shaf perjuangan, juga terlibat dalam beberapa kasus dugaan korupsi.

“Coba bayangkan, jangankan yang lain, pabrik padi hibah Pemerintah juga dibangun di tanah milik keluarganya. Dia juga tidak peduli terhadap penegakan syariat. Sebab bila yang melanggar syariat adalah orang dilingkar pinggangnya, maka tidak ada yang dicambuk,” sebut karib Apa Rih.

Perang baliho pun kemudian terjadi. Masing-masing mengklaim sebagai bacalon sah. Konflik tak bisa dielakkan. Rabu (6/4/2016) sekelompok KPA yang dimotori Sufri alias Boing, Panglima KPA Daerah III menyerbu kantor PA Bireuen untuk menurunkan baliho milik Khalili.

Untung! Ya ini sebuah keuntungan. Minimal tidak sampai terjadi chaos. Khalili meminta pendukungnya menahan diri. Dia tidak ingin terjadi persinggungan fisik. Ini zaman demokrasi.

Lalu, apa selanjutnya? Muzakir Manaf selaku Panglima tertinggi KPA harus turun tangan. Dia harus keluar dari sarang dan datang ke Bireuen untuk menyelesaikan persoalan ini.

Teman-teman KPA dan PA di Bireuen jangan dibiarkan berlarut-larut dalam konflik. Pada titik paling serius PA harus menggelar konfensi. Ini mutlak karena PA adalah partai kader yang kuat di Aceh. Pasti banyak aspirasi, jaringan dan lainnya yang ingin mjncul atau dimunculkan.

Sudah tidak zamannya lagi mengandalkan peunutoh. Apalagi peunutoh yang lahir tanpa musyawarah. Idris alias Apa Rih Juli sudah memberi signal bahwa dia menolak patuh pada “peunutoh sesat”.

Mualem harus segera ke Bireuen. Saya melihat kedua kubu masih percaya kepadanya. Bila dia membiarkan ini diselesaikan sendiri oleh eks TNA yang terpecah karena berbeda pilihan hati namun tak ingin meninggalkan PA, maka dia harus bersiap-siap kehilangan muka.

“Saya berharap cukup Bang Darwis yang kehilangan kekeramatan kumisnya. Semoga marwah brewok Mualem terjaga kehormatannya. Datanglah ke Bireuen selesaikan persoalan ini!,” harap seorang kader. []

KOMENTAR FACEBOOK