Pura-Pura Jawai Melawan Syariat Penguasa

ADI Bergek yang sedang naik daun kemudian dicekal di Aceh Barat, Bireuen, dan Lhokseumawe. Atas nama penegakan syariat Islam, konser lagu jenaka itu pun dibanned oleh Pemerintah daerah atas rekomendasi MPU dan sokongan FPI.

Di Bireuen seorang akademisi pernah dibully di medsos karena mengecam pelarangan konser Bergek oleh MPU atas dorongan FPI. Namun ketika konser artis nasional digelar di lapangan Kodim Bireuen, dan konser Asraf di pendopo Bupati, FPI diam dan MPU tak melarang.

Demikian juga di Lhokseumawe, ketika artis Jakarta manggung di depan publik. Pemda tidak melarang, MPU tak bicara dan elemen lain pun tak bersuara. Tapi ketika Bergek hendak manggung, kecaman datang atas nama agama. Larangan pun keluar.

Model penegakan syariat Islam di Aceh, dalam berbagai sisi, selalu garang ke bawah dan manja ke atas. Kegarangan “singa-singa podium” itu mendadak hilang bila pelanggaran dilakukan oleh penguasa dan antek-anteknya.

Orang kecil yang mencoba berteriak atas keanehan gaya penegakan syariat Islam, segera dikeroyok beramai – ramai oleh orang yang mengaku cinta kepada agama. Berbagai label diberikan. Mulai dari sekuler, agen salibis, sampai murtad dan penjual agama.

Isu penegakan syariat Islam di Aceh kerapkali diboncengi oleh kepentingan politik penguasa. Sesuatu yang boleh dilakukan oleh penguasa dan mereka yang punya kekuatan, kerapkali tidak boleh dilakukan oleh rakyat kecil yang terhimpun dalam berbagai elemen.

Tentu kita akan bertanya, kenapa Geisha bisa konser di Lhokseumawe, mengapa Bergek haram untuk manggung. Bila Asraf dan band Jakarta bisa bermusik ria di Bireuen, lalu kenapa pula Bergek dilarang? Apakah lagu-kagu Bergek berpotensi merusak aqidah umat?

Fenomena mencari muka para penguasa kerap merusak orang lain. Hanya karena ingin mencitrakan diri peduli pada syariat, kelompok-kelompok kecil dihalangi untuk berekspresi. Lagi-lagi isu agama digadai untuk pencitraan.

Orang-orang yang mengaku melarang Bergek tampil karena dinilai bertentangan dengan ajaran agama, bila ditanya kenapa konser Geisha, Five minute, Asraf dan sepakbola tidak dilarang, mereka lebih memilih pura-pura jawai. Bahkan bila sudah “disanak” dengan perbedaan sikap mereka, maka diam adalah pilihan. Tak oernah akan ada jawaban, selain menginbox sejawatnya tentang orang yang kritis menggugat sikap mereka yang mendua dengan label-label yang sangat tidak islami.

Di Bireuen Muazzinah Yacob sudah menjadi “korban” bulliying ketika mempertanyakan kenapa orang-orang yang berteriak menolak Bergek, tapi tak bergerak ketika konser band Jakarta digelar di lapangan Kodim. Bahkan sebelumnya mereka juga beku ketika konser Ashraf digelar oleh Bupati Bireuen Ruslan M. Daud. Bahkan juga tak bersikap ketika turnamen sepakbola digelar. Padahal aurat pemain bola jelas-jelas terpampang.

Saya membayangkan bila saja penegakan syariat Islam tidak mendua seperti ini, sungguh kita akan cepat bisa keluar dari kemelut bangsa ini.

Bila benar-benar ingin membantu menegakkan syariat, maka bantulah dengan cara yang adil. Jangan sepenggal-sepenggal dan jangan parsial. Bila berani menghalau Bergek, maka halau pula grup lainnya.

Lalu,dakah pencekalan Bergek ada hubungannya karena penyanyi muda itu menolak naik panggung kampanye partai politik? Waktu yang akan menjawab. []

KOMENTAR FACEBOOK