Memaknai Arti Kebahagiaan

Kebahagian itu ternyata benar kata para bijak “sederhana”. Syaratnya cukup satu – mensyukuri. Saya sendiri punya pengalaman menarik, setidaknya menurut saya. Bahagia karena mensyukuri meski atas soal – soal kecil – sederhana.
Kisah ini tentang kebahagian yang saya rasakan karena melihat fakta-fakta kecil dari putri sekaligus anak sulung saya, Fayza Afifatunnisa, umurnya kini hampir 9 tahun.

Salah satu kesukaannya sedari kecil adalah mendengarkan cerita. Nyaris setiap malam, sebelum tidur, saya wajib bercerita, minimal dua cerita. Melihatnya antusias mendengarkan, menanyakan perihal isi cerita, duduk lalu bangun, lalu tidur bangun lagi karena antusias, memang kecil, tetapi yang saya rasakan adalah sensasi kebahagian.

Kebiasaan mendapatkan cerita sebelum tidur, kalau belum terpenuhi, Fayza nggak akan mau tidur. Bila perlu nangis sebagai cara melobby saya. Hingga pernah terbersit di hati saya, menyesal mengenalkan aktivitas ini kepada anak saya. Saat dia ketagihan saya jadi capek ngeladeni.


Astagfirullah – padahal karena itu saya merasakan kebahagian saat itu dan bertahun tahun kemudian.

Pernah, suatu waktu saya dinas keluar kota – Medan. Ketika itu umurnya baru 3,5 tahun. Saya ingat sekali waktu itu sedang mengemudi. Malam sudah larut, mungkin di kisaran pukul 22.00 WIB. Masuk telpon dari Istri, katanya “Fayza nggak mau tidur dari tadi merengek minta cerita dan yang cerita harus Abi”. Oh My God. Terpaksa ganti supir, karena saya harus fokus. Nggak mungkin tangan kiri pegang HP, tangan kanan pegang setir. Bahaya pula nanti jadinya.

Sayapun bercerita sekira 15 menit, lalu Fayza pun nun jauh di sana berangkat tidur.

Begitulah kecintaan anak ini pada cerita. Kondisi seperti ini berjalan sampai Fayza TK. Ketika mulai masuk SD Fayza mulai membaca. Kalau saya enggan, dia akan baca sendiri. Hingga saat ini saat dia sudah kelas 3 SD, salah satu kesukaannya adalah membaca cerita. Sebagai orang tua, tentu saja saya bahagia sekali melihat buah hati rajin membaca.

Pernah ke Gramedia, dia hilang ntah kemana. Ohh, susahnya sekali rasanya – takut. Cari punya cari eh ternyata Fayza sedang duduk di lantai, membaca buku, khusyuk sekali. Hingga keningnya berkerut. Rasa was berubah jadi bahagia melihatnya asyik dengan buku. Sederhana, cuma melihat Ia sedang membaca.

Ketika saya tanya “nak mau buku itu?” Fayza jawab “Jangan bi, mahal kali, kakak baca aja sikit lagi.” Nanti kita cari yang murah lagi.” Ahh senyum – senyum sayanya. Bahagia Sekali, suka buku itu dia ingat kantong saya.

Pernah kami jalan-jalan di daerah Lapangan Merdeka, pusat pedagang kaki lima yang khusus jualan buku di Medan. Saya bilang ke Fayza, “Kakak cari aja buku yang kakak suka, nanti bilang sama Abi.” Begitu dapat langsung saya bayar. Fayza pun larut dalam bukunya – nggak rewel, lumayan lama, sampai satu jam lebih nungguin saya. Padahal anak saya ini type bosenan. Tapi kali ini tidak.
Bahagia sekali, melihatnya larut dalam buku.

Saat perjalanan pulang, saya singgah di sebuah kantor desa. Saya mau ke toilet. Sudah ciri saya kalau urusan buang besar, butuh waktu lama. Mungkin sampai setengah jam. Saya teringat di luar anak nunggu, tapi kok nggak manggil saya. Padahal udah lama. Saat keluar saya liat Fayza sedang duduk di teras kantor, asik, diam dengan buku. Ohh Bahagia sekali.

Seringkali saat menjelang tidur, kami asyik dengan gadget. Saya, Istri, Fayza pun begitu. Ketika saya intip ternyata dia asik dengan aplikasi cerita nabi. Ini saya temukan ini berulang kali, pada malam-malam yang berbeda. Hati saya tiba tiba sejuk. Bahagia.

Inilah pengalaman tentang kebahagian-kebahagian yang sejatinya karena hal- hal sederhana. Melihat potongan-potongan kejadian anak sedang membaca. Karena itu disyukuri, maka bahagialah yang saya dapatkan. Semoga selalu begitu, semoga kita semua bahagia, meski bukan karena hal-hal besar. Walaupun karena hal-hal kecil.

Moral Story
1.Sedari kecil biasakan mencari hal – hal positif untuk anak, misalnya Menceritakan Cerita.

2.Bercerita kepada anak secara rutin sejak dini akan menumbuhkan kecintaan anak pada cerita, lalu anak akan membaca sebagai jalan mendapatkan cerita.

3.Syukuri hal hal kecil, karena kebahagian ternyata tidak hanya lahir dari hal-hal besar.[]