Memotong Mata Rantai Pengemis di Aceh

Tulisan Ini semua berangkat ketika penulis pulang dari Pustaka Wilayah menuju Darussalam Tanjung Selamat, Senin (4/4/2016) pukul 11.58 WIB, waktu itu penulis melihat seorang ibu dengan seorang anak di depannya, keduanya berjalan kaki di pinggir trotoar jembatan Lamnyong. Sejenak penulis perhatikan, sang ibu memakai sandal, sedangkan si anak tidak. Setelah melewati mereka, hati saya berkecamuk kecam. Sungguh tega sang ibu membiarkan anaknya jalan di atas beton yang panas tanpa alas kaki.

Bocah kecil itu selalu mencoba memberikan senyum kepada ibunya yang tidak ramah. Candaan-candaan kecil si bocah yang tersita masa mainnya itu, ditanggapi dingin oleh perempuan itu. Ah, sungguh lelaki kecil itu dulu ketika bayi juga diperlakukan sama oleh sang wanita. “Sungguh malangnya nasibmu aneuk lon sayang,”.

Bocah itu terancam masa depannya. Dia tidak sekolah. Buta huruf. Tentu dengan pendidikan yang diberikan sang ibu, tidak bisa menjamin masa depannya untuk bahagia.

Begitu juga dengan nasib sejawatnya yang harus menerima nasib yang sama, mereka anak kecil tidak tahu apa-apa, mereka adalah objek dari tingkah orangtuanya yang tidak bertanggung jawab. Sehingga kebiasaan diajarkan sejak kecil sebagai pengemis sudah menjadi titik keberlangsungan hidupnya.

Rasanya tidak berlebihan, jika penulis katakan “mereka dilahirkan untuk mengemis”. Kata-kata ini sebenarnya pantas dikatakan bila dikaitkan dengan hadis nabi “setiap anak yang dilahirkan adalah suci,”. Kondisi sebagai seorang manusia yang suci, harus diakui, namun nasib mereka yang sejak bayinya telah diajarkan meminta-minta, maka dari itu perlu adanya perhatian dari pemerintah, dinas sosial. Sebab bila mengharapkan kesadaran orangtuanya untuk tidak mendidiknya dengan cara mengemis, sampai kiamat pun tidak dihiraukan.

Generasi dan jiwa pengemis
Pemerintah yang berwenang dalam menggulangi pengemis tentunya harus berperan aktif serta membuat program-program baru demi menciptakan yang terbaik bagi mereka. Sekarang ini, banyaknya pengemis dilakukan seorang ibu, bapak dan bahkan sekeluarga untuk meminta-minta yang melibatkan keikutsertaan anak mereka, hal memperihatinkan sekali.

Tentu jika ini dibiarkan, satu atau dua tahun ke depan, jalan raya, dan perempatan lalu lintas akan dipenuhi oleh pengemis-pengemis. Dengan demikian, pengemis di tanah rencong tidak bakalan habis. Sebab selalu saja ada generasi berjiwa pengemis setiap mereka melahirkan. Tidak hanya itu, permasalahan ini juga menjadi penilaian terhadap kesuksesan pemerintah di masa kepemimpinannya.

Maka dari itu, perlunya pertimbangan dari dinas sosial Aceh dalam menagani kasus ini. Penulis menyarankan kepada pemerintah yang berwenang menangkap para pengemis yang berkeliaran di jalan raya, rambu jalan lalu lintas dan menitipkannya ke panti asuhan. Selanjutnya pemerintah juga menangkap orangtua pengemis yang membawa anaknya, kemudian memisahkan keduanya.

Tetapi tidak terhenti di situ saja, pemerintah harus membuat program pendidikan khusus bagi anak-anak yang selama ini telah diajarkan orangtuanya untuk mengemis. Agar mereka dapat mengecap dunia pendidikan.

Dengan program di atas, penulis yakin, pengemis-pengemis di Aceh akan berkurang dan bahkan tidak lagi untuk generasi ke depannya. Semoga tulisan kecil ini menjadi transformasi bagi kita semua, khususnya bagi pemerintah Aceh agar bisa menjadi pertimbangan, untuk mewujudkan Aceh bersih dari pengemis, baik pejabatnya ataupun masyarakatnya. []

KOMENTAR FACEBOOK