Wartawan Ibarat Nyala Lilin

PERHATIKAN nyala lilin di tengah kegelapan. Benda yang dibuat dari ekstrak minyak yang dipadatkan itu mampu memberi terang kepada orang lain bila PLN padam. Namun pelan-pelan akan meredup seiring habisnya batang yang dilalap api nan kecil di ujung benang.

Demikianlah umpama nasib seorang wartawan. Dia yang dibutuhkan, namun pelan akan menghilang, dilupakan, bahkan dibuang ketika dianggap sudah tidak lagi berguna. Cukup banyak kisah wartawan yang kemudian harus menderita di usia tua. Tidak sedikit pula yang hidup miskin sampai ajal menjemput.

Menjadi wartawan adalah pilihan yang mulia. Tapi profesi ini rapuh dan rentan. Dunia jurnalistik adalah sebuah alam pengabdian, yang oleh pelaku profesionalnya yang dipenuhi oleh idealisme yang menggebu-gebu acap mengabaikan asas feedback kepada pribadi. Sehingga acapkali mereka terjerumus dalam bingkai: Orang miskin yang menulis tentang kemiskinan orang lain.

Dalam dinamika dunia jurnalistik bisa dihitung dengan jari wartawan yang kaya raya. Mayoritas kuli tinta hidup pas-pasan bahkan banyak yang di bawah garis kemiskinan. Lalu siapa pula yang kerap menangguk untung? Siapa lagi kalau bukan pemilik media. Jurnalis sendiri terkungkung dalam berbagai aturan etika.

Lalu apa strateginya? Haruskah seorang wartawan melanggar kode etik? Tidak! Solusinya bukan itu. Lalu? Jangan terus memperjuangkan nasib orang lain. Jangan lupa bahwa sehebat apapun tulisan anda, anak, istri, orang tua, membutuhkan penghidupan yang layak. Jangan terjebak pada adagium: pasangan wartawan adalah mereka yang siap hidup susah demi orang lain. Pertanyaanya, orang lain itu siapa?

Sehebat apapun anda sebagai seorang jurnalis, jangan pernah lupa bahwa anda tersebut juga manusia. Butuh penghidupan layak. Butuh hiburan. Butuh makanan bergizi. Butuh tempat tinggal yang bagus. Anak anda juga harus sekolah tinggi. Butuh jaminan hari tua.

Untuk itu membuat plan B adalah keharusan. Anda harus punya sumber penghidupan lain yang juga halal. Tidak perlu besar. Mulai dari hal kecil.

Ingat satu fakta, kemerdekaan menulis itu lahir dari pikiran yang tenang. Bagaimana hendak merdeka ketika sedang menulis, istri atau anak meminta uang. Orang tua minta dibelikan sajadah baru. Padahal saat itu honor menulis belum cair. Anda tidak punya uang!

“Jangan terus-menerus menjadi lilin. Kamu harus fokus membangun fondasi ekonomi keluarga. Apa yang kamu lakukan ini baik dan benar, tapi jangan korbankan masa depan anak dan istrimu.

Kamu harus segera buat keputusan. Fokus! Kamu harus punya unit usaha. Jadikan menulis sebagai sampingan.karena suatu saat engkau akan tergerus zaman. Ketika sadar usia telah renta. Saat itu engkau baru ingat bahwa dirimu tidak membangun apapun untuk dirimu dan keluarga,” pesan Wak Li, seorang tua yang bijak kepada saya ketika singgah di bengkel roasting kopinya di Timang Gajah, Bener Meriah, Aceh. []

KOMENTAR FACEBOOK