Anak Gadisku Bukanlah untuk Kursi Empuk Sang Bapak

Wahai Bapak, aku hanya ingin menyampaikan sedikit kegundahan yang lama terpendam dalam jiwaku. Ini bukanlah tentang aku yang sudah tua ini, tapi ini tentang anak gadisku. Bukankah Bapak kenal dengannya?, Yang dulu berkeliling kampung dari rumah ke rumah hanya untuk meyakinkan warga jika Bapak layak menjadi pemimpin kami?

Wahai Bapak, aku mulai resah. Aku sering mendengar bisikan tetangga jika wajah anak gadisku selalu menghiasi halaman pertama surat kabar kampung kita dan kampung tetangga kita. aku mendengar kalau anak gadisku ditangkap petugas karena berpakaian kurang layak saat mencari kerang di sungai belakang rumahku.

Tapi Bapak, bukan itu yang menjadi masalah. Ada hal lain yang jauh lebih besar dari itu. Akibat berita yang bertubi –tubi, anak laki-lakiku sering menyalahkan kakak perempuannya. Seolah – olah syariat islam di negeri kita tidak terlaksana hanya karena kakaknya semata yang lupa menutup kepala saat mencari tiram karena ia lapar dan terburu-buru.

Wahai Bapak, aku hanya ingin memohon kepada Bapak, tolong jangan terlalu menyalahkan anak gadisku yang masih fakir akan ilmu, bimbinglah dia. Negeri kita yang belum madani itu bukan sepenuhnya kesalahan anak gadisku. Dia masih muda, masih labil. Mungkin kita hanya perlu membimbingnya, seperti Bapak membekalinya pada saat menjadi tim sukses pemilu yang lalu. Mengapa Bapak bisa melakukannya saat itu? Mengapa Bapak tidak melakukan apa-apa sekarang? Dan juga, bukankah agama kita mengatur segala hal? bukan hanya tentang pakaian anak gadisku?.

Wahai Bapak, aku hanya tidak ingin anak gadisku selalu disalahkan. Masih ingatkah Bapak tentang nasehat yang Bapak sampaikan kepadaku? Waktu kita sama-sama tinggal di gubuk di tepi sungai sambil memperbaiki sepeda ontelku? Aku yakin Bapak masih ingat meskipun sekarang Bapak sudah pindah ke rumah baru yang cukup megah, sementara mobil baru Bapak tidak bisa melewati lorong dusun kita. Kala itu Bapak mengajariku bahwa perlakukan anak gadisku dan anak laki-lakiku dengan setara. Mereka sama dan berhak mendapatkan hak yang sama. Tapi mengapa sekarang kesalahan lebih dominan diarahkan kepada anak gadisku? Sangat tidak adil menurutku.

Wahai Bapak, jika kita berbicara pelanggaran terhadap hukum syariat, mengapa kita tidak berbicara secara menyeluruh? Bukankah anak laki-lakiku juga banyak melakukan pelanggaran? Tapi mengapa selalu anak gadisku yang lebih dominan menjadi berita utama? Tolong hargai anak gadisku, jangan korbankan dia hanya untuk kepentingan kita yang sudah tua ini. Anak gadisku adalah seorang perempuan, maka hargailah seperti seorang perempuan yang utuh, seperti ibu kita. Aku muak dengan hinaan – hinaan anak laki – lakiku terhadap kakaknya. Seakan hanya pakaiannya yang menyebabkan penegakan syariat di kota kita tidak berjalan seperti yang diharapkan.

Wahai Bapak, aku bukan tidak setuju dengan aturan yang berlaku di daerah kita, tapi ada hal – hal dalam pelaksanaan aturan dan hukum itu yang perlu disempurnakan lagi. Jangan tanyakan aku bagaimana caranya karena aku hanya warga biasa yang tidak berpendidikan. Apa yang menimpa anak gadisku adalah salah satu contoh yang perlu diperbaiki. Pemberitaan yang bertubi – tubi mengenai anak gadisku mengubah pola pikir anak laki-laki ku, bahwa syariat ini sulit ditegakkan hanya karena pakaian kakaknya.

Wahai Bapak, kalau aku tidak salah, syariat islam itu bukan hanya tentang pakaian anak gadisku. Syariat itu juga tentang kerang, tentang sungai, tenang gubukku, tentang rumah baru Bapak, tentang sepeda ontelku, tentang mobil Bapak, dan tentang bagaimana bapak menyemangati dan membekali anak gadisku kala itu untuk menjadi “pendukung” Bapak sehingga Bapak menang di pemilu sebelumnya. []

KOMENTAR FACEBOOK