[Laporan Dari Mekkah] Ingin Cepat Kaya? Jadilah Tukang Cukur di Mekkah

Hasan Basri M. Nur dan Khairul Amal, swadaya selfie setelah tahallul.

Mekkah adalah kota suci umat Islam. Prosesi ibadah haji dan umrah dipusatkan di kota tua ini. Di musim haji lebih dari tiga juta umat Islam dari berbagai penjuru dunia berkumpul di sini. Sementara di luar musim haji diperkirakan sekitar 1 juta manusia silih berganti mendatangi Mekkah.

Salah satu rukun haji dan umrah adalah tahallul yang secara lughawi bermakna penghalalan apa yang tadinya diharamkan. Prosesi ibadah umrah diakhiri dengan tahallul yaitu memotong dan atau mencukur rambut.

Nah, di sinilah peluang bisnis dapat dimainkan. Setiap jamaah umrah yang saban hari mengunjungi tanah suci pasti membutuhkan tukang cukur, meski sebagian dari mereka saling membantu pangkas dengan temannya sesama jamaah.

Tapi, tak sedikit jamaah yang secara khusus mendatangi warung-warung pangkas yang ada di seputaran Masjidil Haram. Bahkan, petugas pangkas ada yang secara khusus menunggu di depan pintu keluar masjid dan menawarkan jasa tahallul dengan tarif 10-15 Riyal.

Namun, sesampai di warung pangkas beberapa tukang cukup “mengolah” (menipu-red) pelanggan yang telah didapat. Seorang kenalan kami dari Jakarta harus membayar 110 Riyal (setara Rp.407 ribu, kurs 1 Riyal = Rp.3700) usai tahallul di warung pangkas.

“Bukan hanya itu, ayah saya terpaksa merogoh 150 Riyal (setara Rp. 555 ribu) untuk membayar tukang cukur. Padahal kerjanya tidak sampai 30 menit,” ujar kawan kami asal Lhokseumawe, Aceh.

Jadi, bisa cepat kaya menjalankan bisnis pangkas ini. Tapi semua itu didapatkan dengan cara “mengolah” pelanggan. Bagaimana mereka mengolah pelanggan?

Menurut Khairul Amal, anggota DPRA F-PKS 2004-2009, sambil mencukur mereka menawarkan paket-paket tambahan seperti membersihkan kepala yang berketombe, memijat, atau merapikan jambang dan sebagainya.

“Jadi kita harus hati-hati di sini. Jangan asal angguk ketika mendengar tawaran tambahan”, kata Amal yang juga ikut bersama rombongan PT. Abusiraj Semesta Qur’ani Banda Aceh.

Setelah menampung semua informasi, saya mencoba bertahallul di sebuah warung pangkas dekat hotel tempat kami menginap. “Berapa ongkos untuk pangkas gundul,” Tanya saya kepada petugas pangkas, yang dijawab “10 Riyal”.

Sebelum dimulai dipangkas saya menguatkan bahwa ongkos pangkas hanya 10 Riyal, tidak ada tambahan biaya lainnya. Tukang pangkas pun menyetujuinya. Jadi, tukang pangkas itu pun tidak mempunyai kesempatan berbisnis di kepala saya yang dia botaki.

Nah, bagi Anda yang berminat untuk menjalankan bisnis pangkas di Saudi Arabia peluang ini masih terbuka lebar. Berbisnis dengan jujur dan tidak mengolah pelanggan saja bisa kaya karena jamaah umrah super banyak. Apalagi kalau mau membumbui dengan sedikit “olahan”. Selamat mencoba! (Hasan Basri M.Nur dari Mekkah, Saudi Arabia)

KOMENTAR FACEBOOK