Bakong Ijo, Antara Manfaat dan Larangan

Ilustasi

Oleh Ikhsan Kurniawan
Bakong Ijo adalah kata yang sudah sangat familiar di Aceh. Tak ada orang Aceh yang tak mendengar kata itu walau tidak semua ikut mencicipinya. Ada yang mencampur hancuran daunnya dengan tembakau rokok yang kemudian dihisap dengan tujuan mencapai fly. Ada pula yang dicampur dengan dodol, campuran bubuk kopi. Untuk konteks bukan mencari “rasa tenang” bakong ijo juga dicampur dalam kuang beulangong dan aneka masakan daging di Aceh. Tujuannya untuk membuat kuah lebih “leumak” serta daging menjadi empuk.

Bakong ijo atau ganja (Cannabis sativa syn. Cannabis indica) adalah tumbuhan budidaya penghasil serat, namun lebih dikenal karena kandungan zat narkotika pada bijinya, tetrahidrokanabinol (THC, tetra-hydro-cannabinol) yang dapat membuat pemakainya mengalami euforia (rasa senang yang berkepanjangan tanpa sebab). Tanaman ganja biasanya dibuat menjadi rokok.

Menurut sejarahnya, ganja dibawa ke Aceh dari India pada akhir abad ke 19 ketika Belanda membuka perkebunan kopi di Dataran Tinggi Gayo. Pihak penjajah itu memakai ganja sebagai obat alami untuk menghindari serangan hama pohon kopi atau ulat pada tanaman tembakau. Walau Belanda yang membawanya ke dataran tinggi Aceh, namun menurut fakta yang ada, tanaman tersebut bukan berarti sepenuhnya berasal dari negaranya. Bisa jadi tanaman ini dipungut dari daratan Asia lainya.

Di kalangan anak muda nusantara, ganja lebih familiar disebut bakong ijo, gelek, cimeng atau rasta. Sementara sebutan keren lainya ialah tampee, pot, weed, dope.

Dalam kajian ilmiah tentang tanaman ganja, mulai dari batang, biji hingga daun memiliki manfaat bagi dunia kesehatan untuk terapi medis. Batang ganja dapat digunakan sebagai bahan baku kertas yang memiliki kualitas lebih bagus dari kayu. Perbandingannya: pada batang ganja terkandung sellulose 85 persen dan rendah lignin 5 persen, sementara pada kayu memiliki kandungan sellulose 50 persen dan tinggi lignin 34 persen. Batang tanaman ganja juga digunakan untuk pembuatan tekstil.

Bagi masyarakat Aceh, ganja seringkali digunakan untuk mengempukkan daging. Seiring perjalanan waktu, turut pula dicampur dalam bumbu mie Aceh agar terasa lebih “leumak”. Namun pemaiakan terbesarnya digunakan untuk dihisap sebagai narkoba oleh anak-anak muda dan orang tua yang belum tahu jalan pulang menjelang mati.

Kelompok yang menghisap ganja, adalah mereka yang terjebak pada tipuan pasar bahwa dengan menghisap ganja seseorang bisa lebih perkasa. Sehingga bila tanpa menghisap ganja maka sulit untuk berkonsentrasi.

Namun bila dilihat dari sisi medis, ganja memliki banyak manfaat. Ganja merupakan obat yang paling manjur untuk mengatasi depresi. Selain dianggap lebih alami dibanding obat-obatan, penggunaan ganja untuk mengatasi depresi tanpa adanya efek samping berbanding terbalik dengan obat-obatan hasil buatan manusia yang memiliki efek samping terutama pada ginjal.

Namun keinginan untuk melegalkan ganja tidak mungkin dilakukan karena pemerintah telah mengeluarkan undang-undang tentang larangan proses produksi, distribusi sampai tahap konsumsi ganja. Undang-undang No. 22 1997 tentang narkotika mengklasifikasikan ganja; biji, buah, jerami, hasil olahan atau bagian tanaman ganja termasuk damar ganja dan hasil sebagai narkotika golongan I yang berarti satu kelas dengan opium dan kokain.

Pasal 82 ayat 1 butir a UU tersebut menyatakan bahwa mengimpor, mengekspor, menawarkan untuk dijual, menyalurkan, menjual, membeli, menyerahkan, menerima, menjadi perantara dalam jual beli, atau menukar narkotika golongan I, dipidana dengan pidana mati atau pidana penjara seumur hidup, atau pidana penjara paling lama dua puluh tahun dan denda paling paling banyak satu milyar rupiah.

Dalam pandangan agama Islam Al-KHAMRU maa khaamaral aqla (arak ialah semua bahan yang dapat menutupi akal), suatu ungkapan yang pernah dikatakan oleh Umar Ibnul-Khattab dari atas mimbar Rasulullah s.a.w. Kalimat ini memberikan pengertian yang tajam sekali tentang apa yang dimaksud arak itu. Sehingga dengan demikian tidak banyak lagi pertanyaan-pertanyaan dan kesamaran.

Demikianlah, maka setiap yang dapat mengganggu fikiran dan mengeluarkan akal dari tabiatnya yang sebenarnya, adalah disebut arak yang dengan tegas telah diharamkan Allah dan Rasul sampai hari kiamat nanti.

Dari itu pula, semua bahan yang kini dikenal dengan nama narkotik, seperti ganja, marijuana dan sebagainya yang sudah terkenal pengaruhnya terhadap perasaan dan akal fikiran, sehingga yang jauh menjadi dekat dan yang dekat menjadi jauh, dapat melupakan suatu kenyataan, dapat mengkhayal yang tidak akan terjadi dan orang bisa tenggelam dalam mimpi dan lamunan yang bukan-bukan. Orang yang minum bahan ini dapat melupakan dirinya, agamanya dan dunianya serta tenggelam dalam lembah khayal.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam tinjauannya, mengatakan: “Ganja (hasyisy) adalah bahan yang haram, baik orang yang merasakan itu mabuk ataupun tidak. Hasyisy ini selalu dipakai oleh orang-orang jahat, karena di dalamnya mengandung unsur-unsur yang memabukkan dan menyenangkan. Biasanya dicampur dengan minuman-minuman yang memabukkan.
Bedanya hasyisy dengan arak, bahwa arak dapat menimbulkan suatu reaksi dan pertentangan. Tetapi hasyisy dapat menimbulkan suatu krisis dan kelemahan. Justru itu dia dapat merusak fikiran dan membuka pintu syahwat serta hilangnya perasaan semangat (ghirah). Justru itu dia lebih berbahaya daripada minuman keras.

Meski ganja yang sudah jelas-jelas diharamkan namun di Aceh penggunaan ganja sudah menjadi sebuah tradisi yang tidak bisa begitu saja dihilangkan. Selain itu dengan kondisi geografis yang sangat baik ganja dapat tumbuh subur di Aceh dan ladang ganja walau sudah sering kali dimusnahkan oleh aparat tapi tetap saja ladang ganja bermunculan hampir di seluruh daerah di Aceh. Bakong Aceh juga dikenal sebagai ganja terbaik no.1 di Indonesia dan merupakan daerah yang memiliki ladang ganja terbesar no.2 di Asia tenggara setelah Thailand.

Di Aceh sampai detik ini masih terjadi kontroversi antara halal atau haramnya ganja, legal atau ilegalnya. Terlepas dari hal tersebut sekarang tugas masyarakat Aceh untuk membantu pemerintah dalam menegakkan kebenaran memberantas pelanggaran-pelanggaran yang ada, dimulai dari dalam keluarga, dari pendidikan moral dan juga agama. Sebagai provinsi yang memegang kuat syariat Islam kita sepatutnya malu karena negeri kita dianggap sebagai penghasil dan pengguna barang yang haram tersebut. Sudah seharusnya kita menegakkan agama Islam agar tetap kuat di bumi Seuramo Mekkah ini.

Penulis adalah mahasiswa jurusan ilmu komunikasi, Universitas Syiah Kuala.

KOMENTAR FACEBOOK