Menyoal Tri Dharma Perguruan Tinggi

PERGURUAN tinggi memiliki tiga pilar dasar sebagai aktualitas yang penting bagi keberadaannya di negeri ini, disebut Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan harapan jika dipedomani dan selaras dilaksanakan akan menghadirkan intelektual yang mampu menciptakan perubahan besar bagi bangsa, tentu saja sejak menjadi mahasiswa pun tujuan-tujuan nasional penting didorong pencapaiannya oleh kaum muda.

Dari tiga dharma itu yakni;(1) Pendidikan, (2)Penelitian dan Pengembangan serta (3) Pengabdian pada Masyarakat, di dalam tulisan ini lebih ditekankan tentang bagian ke tiga yakni Pengabdian pada Masyarakat. Sebab kehadiran mahasiswa juga pengelolaan kampus mereka yang sebaiknya membuka diri untuk mampu mengakses kepentingan-kepentingan masyarakat sekitarnya patut terus dikembangkan seiring era keterlibatan kaum intelektual muda menjadi bagian dari penghubung masyarakat dengan pemerintah.

Mahasiswa merupakan agen perubahan yang sangat dekat dengan rakyat, memahami apa dan bagaimana kepentingan, kebutuhan maupun harapan yang ada di benak rakyat sehingga kondisi realistis rakyat dengan demikian dapat mereka deskripsikan sebijak mungkin dalam kaitannya menawarkan pilihan pengabdian yang bagaimana sepantasnya perguruan tinggi berikan kepada rakyat. Tidak jarang kondisi mahasiswa justru lemah untuk mampu memenuhi peran ini. Padahal perguruan tinggi yang mewadahi mahasiswa tersebut berkuliah belum maksimal menangkal persoalan terkait kebutuhan akses masyarakat tersebut. Contohnya ketika masyarakat justru tidak mendapatkan kesempatan ikut merasakan perkembangan yang ada di dalam kampus, masyarakat bahkan merasa makna-makna kehadiran perguruan tinggi di wilayahnya justru tidak membawa dampak bertambah meningkatnya kesejahteraan atau yang terkait dengan mengalirnya nilai-nilai kemajuan ilmu pengetahuan agar turut merasakan perubahan yang baik bagi masyarakat tersebut.

Belum lagi masih ada perguruan tinggi yang dikelola secara sangat dingin dan terkesan tidak menjadikan masyarakat setempat sebagai satuan wilayah yang sama-sama membutuhkan akses kemajuan pendidikan. Bisa dibayangkan jika sebuah perguruan tinggi negeri di suatu wilayah justru diisi oleh lulusan sekolah yang hampir seluruhnya tidak berasal dari masyarakat setempat, tentu kenyataan ini telah ada dampaknya bagi kurangnya para pimpinan perguruan tinggi mengupayakan terbangunnya peningkatan nilai lulusan sekolah di sekitar kampus. Ketidakpedulian akademisi di kampus terhadap problem pendidikan di wilayah sekitar kampus yang selanjutnya semakin menciptakan jarak pengabdian dari makna aslinya. Selain itu masih banyak pula arogansi pengelola perguruan tinggi yang dengan kewenangan miliknya tidak memperbolehkan mahasiswa melaksanakan pengabdian masyarakat secara lebih meningkat nilai guna, proses guna dan hasil guna dari bagian ketiga Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pengabdian.

Pengabdian adalah sebuah inisiasi yang melahirkan makna kehadiran. Perguruan tinggi sepatutnya mampu mengabdi bagi lingkungan masyarakat. Tidak semata-mata menjadikan masyarakat sekitar sebagai user dan modalitas. Pada waktunya sebuah perguruan tinggi harus melahirkan nilai-nilai luhur pendidikan yang tidak bertentangan dengan kebutuhan lingkungan, namun justru membela kepentingan rakyat dan turut mengontrol kebijakan pemerintah yang sekiranya tidak searah, tidak sesuai dengan janji-janji, tidak menghadirkan ketentraman, bersinggungan dengan hukum yang pemerintah itu sendiri harus jalani, pada saat demikianlah kiranya perguruan tinggi sebagai lembaga pengkaji ilmu pengetahuan dan permasalahan kehidupan harus memberikan andil mensosialisasikan pemecahan berbagai masalah yang dihadapi masyarakat dan pemerintah.

Tidak jarang ditemukan perguruan tinggi yang peran serta mengabdi pada masyarakat di sekitarnya sekedar saja, seolah tidak harus bertanggung jawab atas kondisi sosial, perkembangan ilmu pengetahuan di masyarakat yang ditempatinya. Pemimpin perguruan tinggi yang kelihatannya memanfaatkan dan mengeksploitasi kepentingan pribadi maupun golongannya sendiri untuk menajamkan kuku kekuasaan yang justru dilakukan di lembaga terhormat, maka terlahirlah para koruptor di perguruan tinggi, ini adalah bahaya yang kian merusak citra lembaga pendidikan di negeri ini, semua hal negatif tidak sepatutnya dibiarkan atas upaya ekslusifisme akses perguruan tinggi terhadap masyarakat kampus itu sendiri sangatlah bertentangan dengan azas keterbukaan.

Beberapa persoalan pengabdian kepada masyarakat oleh perguruan tinggi justru cenderung ditutup-tutupi untuk tujuan mengalihkan isu, melindungi para pelaku arogan di lingkungan kampus. Mahasiswa hanya dianggap penonton, peramai dan pemandu sorak. Sedangkan para pemimpin di lembaga perguruan tinggi terus saja merong-rong tugas Tri Dharma Perguruan Tinggi yang seharusnya mereka laksanakan. Berbagai kasus pengrusakan kampus, demonstrasi anarkis yang mengatasnamakan kepentingan-kepentingan tertentu sepatutnya tidak terulang ketika masyarakat telah mendapatkan akses kemajuan dan pengabdian perguruan tinggi di lingkungan mereka secara baik dan berkesinambungan. Pada akhirnya upaya mencapai kemajuan bersama dalam rangka menjadikan bangsa dan negara lebih sejahtera amatlah membutuhkan kerja sama antara pemerintah, rakyat, dan perguruan tinggi.

Penulis bernama asli Muhammad Rain adalah akademisi pendidikan, mengajar di SMA Negeri 4 Langsa, saat ini sedang menyelesaikan pendidikan Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Unsyiah.

KOMENTAR FACEBOOK