[Wawancara dengan Ketua Golkar Aceh]: “Untuk apa jadi kepala daerah, kalau tidak bisa membuat keadaan lebih baik”

TM Nurlif Ketua Golkar Aceh dan Calon Gubernur Aceh

ACEHTREND.CO, Banda Aceh – Partai Golkar Aceh baru saja menggelar kegiatan pengukuhan dan pelantikan pengurus periode 2016-2021. Bertempat di Hotel Hermes, Minggu (10/4/2016) kegiatan pelantikan juga dirangkai dengan kegiatan rapat kerja daerah sebagai bagian dari langkah konsolidasi. TM Nurlif, Ketua Golkar Aceh yang baru menegaskan bahwa badai yang sempat melanda Golkar Aceh akibat turbulensi di DPP kini sudah berlalu. “Badai sudah berlalu,” katanya kepada aceHTrend, Kamis (14/4/2016) sore.

Seberapa berlalukah badai politik di Golkar Aceh, apa agenda politik Golkar Aceh paska pengukuhan pengurus, dan bagaimana sikapnya yang sebagai bakal calon gubernur Aceh dan apa pandangannya terhadap Aceh, berikut penegasannya kepada aceHTrend.

Apa agenda Golkar Aceh paska pengukuhan pengurus DPD I Golkar Aceh?
Sekarang, agenda utama kita melakukan konsilidasi sampai ke tingkat desa

Konsilidasi apa yang paling diutamakan oleh Golkar Aceh saat ini?
Konsilidasi sruktural, konsolidasi kelembagaan, dan konsilidasi kadar

Apa agenda konsolidasi itu karena selama ini Golkar Aceh sempat mengalami turbulensi?
Ya, pasti. Akibat turbulensi di tingkat nasional (DPP Golkar) imbasnya sampai
ke daerah, tapi sekarang turbulensinya sudah selesai, badai sudah
berlalu.

Kalau dibuat persentase, berlalunya di angka berapa?
99,9 %

Sisanya?
Belum kelihatan

Bagaimana dengan persoalan Sulaiman Abda, sudah selesai?
Kini pelantikan DPD I Golkar Aceh sudah selesai dan masalah yang ada akan coba selesaikan sebaik-baiknya. Memang, dahulu itu akibat turbulensi di DPP Golkar Sulaiman Abda diberhentikan. Tapi, jauh sebelum Musda Golkar Aceh berlangsung kita sudah lakukan langkah-langkah untuk mengembalikan dengan menganulir pemberhentian, dan itu semua sudah sepakat dengan DPP Golkar. Sulaiman Abda kembali menjadi anggota partai Golkar, dan ini sesuai dengan keputusan Mahkamah Partai. Dengan sendirinya Sulaiman Abda sudah menjadi anggota DPRA lagi. Soal posisi, apakah tetap sebagai wakil ketua DPRA, sedang kita lakukan upaya-upaya untuk membicarakan dengan DPP Golkar. Saya di sini Ketua DPD I Golkar Aceh dan bukan ketua umum. Jadi, kita masih perlu konsultasi dengan DPP Golkar. Tapi, hal yang membahagiakan kita adalah adanya kesepakatan Sulaiman Abda dengan DPD I Golkar Aceh, juga DPP Golkar. Sulaiman Abda sudah mencabut gugatan di pengadilan dan kita juga dari DPD Golkar Aceh juga menyetujui pencabutan gugatan itu. Intinya, ada tahapan-tahapan yang mesti kita tempuh untuk menuju penyelesaian.

Golkar terkenal dengan slogannya sebagai Party of Idea, bagaimana Anda menempatkannya konsepsi ini di Aceh paska turbulensi politik yang terjadi di Golkar?
Saya kira kita sudah mulai menata partai Golkar untuk kembali menjadi partai yang punya ekspektasi, lebih optimistik, dapat memberikan harapan kepada rakyat, rakyat juga optimis, bukan hanya kita yang optimis terhadap apa yang akan dilakukan Partai Golkar. Maka itu, melalui Rakerda Golkar Aceh kemarin kita membuat program di mana program itu merupakan program aspirasi rakyat bukan hanya program untuk kepentingan partai, kita akan minta kepada kawan-kawan yang ada di DPRA untuk memperjuangkan program ini menjadi program pemerintah daerah juga meminta mereka untuk mewarnai dalam pembahasan RAPBA kedepan.

Apa program strategis Golkar Aceh?
Secara internal kita fokus ke konsolidasi, sedang secara ekternal lebih kepada program
partisipasi, yakni memperjuangkan yang menjadi kesulitan rakyat. Ini penting, sehingga kehadiran kita bisa menjawab optimisme terhadap apa yang sangat diharapkan rakyat, dan hal ini tidak cukup kita lakukan sendiri, kita akan melakukan koordinasi atau kerjasama dengan fraksi-fraksi lain yang ada di DPRA.

Salah satu isu politik yang sedang hangat dibicarakan di publik adalah soal usulan yang disampaikan Ketua Banleg terkait syarat calon perseorangan/independen. Apa tanggapan Anda?
(TM Nurlif tidak langsung menjawab. Ia balik mempertanyakan ukuran di respon oleh publik itu apa? “Bahwa itu dibaca oleh publik ya, kemudian ada beberapa respon di media sosial, juga iya…tapi bisa juga itu respon itu bersifat respon order atau bisa juga respon konsennya publik. Saya tidak khawatir.”

Pandangan Anda sendiri terhadap calon independen?
Semua punya aturan hukum, saya menghargai apapun dan oleh siapapun tapi jangan lupa, aturan apaun yang kita buat, harus selalu mengacu kepada peraturan perundang-undangan dan kita tidak boleh lupa juga ada Mahkamah Konstitusi (MK) yang berhak melakukan kostitusional review, dan itu sudah ada keputusan yang final dan mengikat.

Bagaimana posisi Anda sebagai calon gubernur Aceh, apakah masih tetap atau ada perubahan?
Sampai sekarang tidak ada perubahan, masih tetap.

Apakah akan tetap terus?
Yaa…Insya Allah makin tetap terus.

Sejauh ini untuk menuju kerja-kerja pencalonan, apa yang sudah Anda dilakukan?
Sebelum Rakerda dan sebelum Musda Golkar Aceh saya juga sudah lakukan langkah-langkah dalam rangka persiapan itu. Sebagai contoh, saya membentuk relawan-relawan di hampir semua daerah. Karena kemarin saya belum dilantik sebagai pengurus dan belum deklarasi, maka relawan itu belum menjadi bagian dari tim sukses di partai. Jadi menurut saya, makin banyak relawan yang mendukung maka semakin baik. Alhamdulilah, kita saat ini sudah selesai RAKERDA dan dalam waktu dekat kita akan bentuk tim sukses partai yang kemudian nanti kita akan berkoordinasi dengan relawan-relawan yang telah kita bentuk selama ini di seluruh kabupaten kota, sampai ke tingkat kecamatan.

Dari 23 kabupaten-kota sudah ada berapa relawan terbentuk?
Ada 12. Sebagai contoh Aceh Tenggara, Gayo Luwes, Aceh Tengah, Bener Meriah, Bireuen, Lhokseumawe, Aceh Utara, Aceh Timur, Langsa, Aceh Tamiang, dan di Pidie. Di daerah ini mereka sudah ada. Tinggal di kawasan Pantai Barat yang akan kita segera konsilidasikan. Jadi, kita punya potensi yang beda dengan calon perseorangan, sebab kita punya modal infrasuktur politik berupa partai. Jadi, modal utama ini beruapa infrasuktur politik partai (DPD 1, DPD II, juga sampai desa). Kemudian kita juga punya ormas juga, baik Pemuda Pancasila, AMPI dan lain-lainnya. Kemudian ditambah dengan relawan di luar infrastruktur politik partai. Jadi kita bukan relawan abab-abal, artinya relawan yang benar-benar tersruktur di tambah lagi ada relawan-relawan lain yang muncul. Itu adalah kreatifitas mereka sendiri untuk membentuk relawan, jadi kita tidak mesti mengarahkan harus ini, harus itu, yang penting apa yang mereka lakukan dalam perspektif yang sama dan tujuan yang sama.

Dengan siapa Golkar Aceh akan membangun koalisi untuk menuju pengusungan pasangan calon Gubernur Aceh?
Masih ada waktu 3-4 bulan lagi. Kita sedang dan akan terus melakukan komunikasi politik dengan partai-partai lainnya.

Boleh tahu dengan partai apa komunikasi paling akrab dilakukan?
Hampir semua partai, dan kita luwes saja berkomunikasi dengan semua partai politik. Kita juga membangun keakraban dengan semua partai.

Yakin?
Yakin! Kita berusaha akrab, saya ini bukan milik orang tertentu, saya ingin menjadi milik semua orang, dan berusaha menjadi sahabat semua orang, semua elemen dan semua komponen masyarakat.

Kembali ke struktur kepengurusan Golkar Aceh, berapa persentasi orang-orang muda di Golkar Aceh saat ini?
Hampir 60 %. Kita mau begitu ada regenerasi di partai itu tidak terjadi otomatis kepada orang perorang, dengan ada dalam struktur kita membuka ruang kepada mereka untuk berproses, sehingga saat mereka menjadi pimpinan bukan instant ada proses yang di lewati untuk menjadi pimpinan.

Kalau perempuan?
Perempuan 30%. Itu perintah undang-undang. Di samping ada di struktur partai, perempuan juga ada di ormas PPG. Dalam waktu dekat, kita mau menata ulang organisasi yang tergabung dalam Hasta Karya, kita konsolidasi segera,
bukan hanya provinsi tapi juga kabupaten kota. dan itu menjadi modal politik untuk meningkatkan optimisme kedepannya.

Aceh di mata Anda?
Aceh ini di mata saya sebuah negeri, sebuah daerah, tanah yang penuh berkah, baik di masa lalu, masa dalam perjuangan dan masa sekarang. Apalagi setelah kita keluar dari masa-masa sulit setelah konflik, yang membuat hampir runtuh semua sendi-sendi kehidupan. Tapi begitu Tuhan memberikan jalan kehidupan damai, kemudian lahir MoU dan lahir UUPA yang sebelumnya UU Otsus, dan kini kita memiliki modal yang tidak dimiliki orang lain, baik dalam bentuk kewenangan yang diberikan pemerintah pusat yang ada dalam UU maupun dalam bentuk pendanaan otsus yang tidak dimiliki semua daerah, dan ini merupakan modal yang sangat besar yang ada pada kita untuk membangun aceh kedepan.

Tapi, karena kita baru selesai konflik yang sangat panjang dan musibah Tsunami yang cukup besar, perasaan shock itu masih terasa di semua daerah dalam kurun waktu 2006 sampai sekarang, dan kita berusaha untuk melakukan perbaikan perbaikan atau recovery yang sudah barang tentu belum maksimal, sehingga angka kemiskinan masih tinggi, angka pengangguran masih tinggi, pertumbuhan ekonomi masih rendah, income
perkapita masyarakat masih rendah, sehingga ada orang yang beranggapan antara sumber yang kita miliki dan kita apa hasilkan masih anomali. Kedepen, kita harap melalui pilkada yang akan berlangsung pada 2017 kita bisa menghasilkan kepala daerah atau pimpinan-pimpinan yang bisa lebih akuntabel dan lebih kredibel sehingga pemerintah ini bisa memberikan optimisme kepada masyarakat untuk meraih harapan-harapan yang jauh lebih baik lagi.

Kalau Anda yang terpilih apakah yang Anda sebut tadi sesuatu yang akan Anda lakukan?
Pasti! Untuk apa jadi kepala daerah, kalau tidak bisa membuat keadaan lebih baik. Aceh harus lebih maju rakyat harus lebih sejahtera, dengan ukuran-ukuran yang bisa diukur secara statistik.

Anda salah seorang yang juga ikut serta dalam pertemuan MoU Helsinki dan juga ikut dalam merumuskan UUPA. Apa yang Anda bayangkan saat ini setelah 10 tahun berlalu?
Saya membayangkan pada saat MoU di tanda tangani kemudian kita terlibat secara langsung untuk mengartikulasikan MoU dalam bentuk UUPA pasti siapapun pada saat itu melihat bahwa Aceh ini memiliki harapan untuk bisa lebih baik lebih maju dengan apa yang diberikan pemerintah pusat dengan apa yang kita peroleh hari ini, tanpa saya ingin menyalahkan siapapun, saya tidak mengatakan pemerintah selama ini tidak berusaha untuk lebih mereka mungkin sudah berusaha untuk bekerja maksimal tapi mungkin hasilnya belum semaksimal yang kita harapkan, dan kita harus memberikan harapan baru kepeda masyarakat, harus ada ekspektasi baru kepada masyarakat, dan itu harus menjadi optimisme masyarakat bahwa kita bisa!