Nilai-nilai Hidup: Dari Aceh Code Sampai Pandang ke Timur

KERINDUAN melihat dan merasakan kembali Aceh yang darussalam, damai dan sejahtera merupakan harapan dan impian semua rakyat Aceh. Kerinduan ini lebih besar dan lebih hebat dari rindunya Napoleon Bonaparte kepada Josephine. Bayangkan, di tengah-tengah medan peperangan Napoleon berhenti berperang lalu menulis surat cinta kepada Josephine. Dia menulis sebanyak 6,000 pucuk surat cinta. “Josephine kekasihku, sebagaimana tembakan-tembakan yang menembusi dada musuh, begitulah tajamnya cintaku kepadamu”, kata Napoleon dalam suratnya kepada Josephine. Begitu hebatnya kerinduan dan cinta Napoleon kepada kekasihnya, namun kerinduan Napoleon ini tidak ada artinya dibandingkan dengan kerinduan rakyat untuk hidup makmur, sejahtera, damai dan membesar bersama Aceh.

Kerinduan ini sangatlah wajar mengingat selama ini rakyat Aceh terus hidup dalam kemiskinan dan penderitaan serta didera konflik panjang dan terakhir sekali bencana tsunami pada tahun 2004 yang lalu. Kini tatkala damai telah hadir tentunya masyarakat mengharapkan adanya perkembangan yang signifikan dalam segala sektor baik ekonomi, pendidikan, pertanian, peternakan, perikanan, hukum maupun sosial budaya. Harapan ini tidaklah berlebihan mengingat sekarang ini begitu banyak orang-orang pandai di Aceh yang bergelar Professor, Doktor, Master maupun pakar-pakar dalam berbagai bidang lainnya. Hal ini ditambah lagi dengan banyaknya anak-anak muda Aceh yang sedang menuntut ilmu di berbagai universitas di mancanegara. Sungguh, masa depan yang cerah menanti Aceh.

Namun dalam realitas keseharian, di samping ada beberapa kemajuan yang telah dicapai, masyarakat masih terus dihadapkan pada berbagai persoalan klasik mulai dari kemiskinan, korupsi, kolusi, ketidakadilan dan berbagai ketimpangan lainnya.

Kita pasti akan bertanya di manakah silapnya? Tentunya ada mata rantai yang terputus sehingga situasi yang carut marut ini masih ada. Tentu ada alasan mengapa kondisi ini masih terjadi. Di sini saya tidak mau menyalahkan ataupun menyudutkan siapa-siapa. Bagi saya, kondisi yang terjadi selama ini diakibatkan kita semua telah mengabaikan pentingnya nilai-nilai dalam keseharian kita.

Mungkin ada yang menganggap saya naif karena menyatakan hal tersebut, namun sejarah dan fakta-fakta yang ada membenarkan pandangan saya di atas. Selama ini saya selalu bertanya-tanya apa rahasia kejayaan Aceh masa silam dan apa rahasia sukses pembangunan Jepang, Korea Selatan dan Malaysia yang begitu cepat dan pesat? Jawaban yang selalu diberikan adalah karena ilmu pengetahuan yang mereka miliki. Perancis, Inggris dan Jerman juga memiliki ilmu pengetahuan, akan tetapi mereka tidak melakukan pembangunan secepat yang dilakukan oleh Jepang dan Korea.  

Saya tidak menafikan penting dan sentralnya peran  ilmu pengetahuan dalam proses pembangunan di Jepang, Korea Selatan, Malaysia dan Aceh pada masa silam. Apa yang ingin saya tekankan di sini adalah kesuksesan tersebut bukan karena ilmu pengetahuan semata. Kalau hanya semata-mata karena ilmu pengetahuan, maka sungguh tidak masuk akal dengan banyaknya orang pintar di Aceh serta banyaknya anggaran belanja daerah ternyata Aceh masih belum mencapai kemajuan dengan pesat.  

Kunci Kejayaan

Lalu apa rahasia kesuksesan Aceh dahulu, Jepang, Korea Selatan dan Malaysia? Tan Sri Sanusi Junid, seorang putera keturunan Aceh yang lama menjadi Menteri dalam Kabinet Malaysia, dalam banyak kesempatan menyatakan bahwa semangat Aceh Code pada Kerajaan Aceh Darussalam, semangat Bushido orang Jepang, semangat Hwarang orang Korea Selatan dan kebijakan Pandang ke Timur di Malaysia sebagai faktor pendorong yang utama di balik kesuksesan yang mereka raih.

Aceh Code atau sering disebut Pohon/Dasar Kerajaan Aceh merupakan 21 pasal yang menjadi kewajiban seluruh rakyat Aceh kala itu. Aceh Code ini pertama sekali diperkenalkan oleh Sultan ‘Alaiddin Johan ‘Ali Ibrahim Mughayat Syah sebagai pedoman bagi seluruh rakyat Aceh. Di sini, saya tidak akan menyebutkan satu per satu pasal tersebut (hal ini akan saya bahas dalam tulisan terpisah). Dari hasil penelusuran, didapati bahwa ke 21 pasal Aceh Code tersebut sebenarnya merupakan penjabaran dari lima nilai-nilai hidup yang utama yaitu jujur, berani, disiplin, rajin dan setia. Itulah kunci kejayaan Aceh masa itu.

Di Jepang pula, ternyata samurailah dengan semangat Bushido yang mendirikan lima perusahaan besar Jepang pada tahun 1873 setelah Restorasi Meiji pada tahun 1868. Perusahaan tersebut adalah Mitsubishi, Mitsui, Marubeni, Sumitomo dan Dai-Ichi Kangyo (sekarang C. Itoh). Kelima perusahaan inilah yang menjadi motor penggerak perkembangan ekonomi Jepang. 

Korea Selatan pula mulai membangun sejak Park Chung-hee menjadi Presiden pada tahun 1963. Park Chung-hee dalam membangun Korea Selatan diinspirasikan oleh semangat Hwarang yang menjadi kunci sukses kemenangan Laksamana Yi, dengan armada kura-kuranya, mengalahkan Shogun Toyotomi Hideyoshi dari Jepang. Semangat Hwarang jugalah yang memainkan peran yang instrumental kejayaan Dinasti Silla di Korea pada masa silam. Presiden Park memperkenalkan dan menanamkan semangat Hwarang kepada seluruh masyarakat Korea Selatan baik pegawai negeri maupun karyawan swasta. Hasilnya sungguh luar biasa. Nilai-nilai dari semangat Hwarang ini juga sama dengan semangat Bushido yaitu jujur, berani, disiplin, rajin dan setia. 

Sekarang mari kita lihat bagaimana negeri jiran kita Malaysia mencapai kemajuan yang sangat pesat sejak Tun Mahathir Muhammad menjadi Perdana Menteri Malaysia yang keempat. Tun Mahathir memperkenalkan Visi 2020 sebagai pedoman pembangunan Malaysia. Untuk mencapai tujuan tersebut beliau juga memperkenalkan kebijakan Pandang ke Timur. Kebijakan Pandang ke Timur ini lahir setelah dilakukan kajian terhadap berbagai negara di dunia dalam rangka mencari suatu formula pembangunan yang sesuai dengan Malaysia. Pandang ke Timur merupakan sebuah kebijakan dengan menjadikan Jepang dan Korea Selatan sebagai contoh dalam membangun.

Ternyata yang membuat Malaysia menerapkan kebijakan Pandang ke Timur adalah mereka menemukan kunci sukses Jepang dan Korea Selatan dalam membangun, kunci tersebut adalah adanya penerapan nilai-nilai hidup yang menjadi pedoman serta patokan dalam setiap langkah yang mereka lakukan. Nilai-nilai jujur, berani, disiplin, rajin dan setialah yang membuat Malaysia mantap menerapkan kebijakan Pandang ke Timur untuk melakukan pembangunan. Nilai-nilai ini ternyata merupakan nilai-nilai Islami. Hasilnya Malaysia dikenal sebagai salah satu negara yang sangat pesat pembangunannya dan menjadi model untuk negara-negara dunia ketiga yang mahu membangun. Sekarang, kita lihat ketika pemerintah Malaysia meninggalkan nilai-nilai murni ini, berbagai berita negatif tentang perilaku korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan di Malaysia menghiasi halaman muka media-media di seluruh dunia.

Melihat kondisi Aceh sekarang ini, saya rasa tidak ada salahnya kita kembali melihat dan mewajibkan pengamalan kelima nilai hidup tersebut bagi semua pemangku kepentingan di Aceh mulai dari pemerintah, pengusaha, sektor filantropi serta seluruh lapisan masyarakat. Saya yakin pengamalan nilai-nilai tersebut akan kembali membawa Aceh berada pada koridor yang benar dalam meraih kejayaan dan kemajuan. Jika di negara lain penerapan nilai-nilai ini membawa keberhasilan, maka tidak ada alasan kenapa kita tidak bisa menerapkannya di Aceh. Sekali lagi kita perlu ingat bahwa dengan banyaknya orang pintar dan anggaran belanja yang tersedia untuk daerah, nilai-niai inilah yang jadi mata rantai yang selama ini terputus. Nilai-nilai ini adalah nilai-nilai yang Islami dan memiliki rekam jejak yang menakjubkan.

KOMENTAR FACEBOOK