Membawa Pulang Quran ke Aceh (Pesan Abu Daud Bereueh)

Pada 20 Februari 2016 yang lalu, Tan Sri Sanusi Junid mengajak saya untuk menghadiri peresmian sebuah acara yang dinamakan Lets’ Read The Quran 2016 Campaign (Mari Membaca Al-Quran) di Kuala Lumpur yang pembukaannya dilakukan oleh mantan Perdana Menteri Malaysia, Tun Dr. Mahathir Mohamad. Program ini intinya mengajak semua pihak baik Muslim ataupun non-Muslim untuk membaca dan memahami isi Al-Quran.

Sasaran utama program ini adalah melahirkan individu-individu Muslim yang senantiasa belajar dan memahami isi Al-Quran sehingga dapat mengimplementasikan nilai-nilai dan pesan-pesan Al-Quran dalam keseharian kita. Aktivitas-aktivitas berkaitan dengan kampanye ini dilakukan dengan beberapa cara baik melalui media sosial seperti Facebook, Instagram dan Twitter, ataupun dengan penulisan artikel-artikel dalam blog dan media cetak mengenai pengalaman orang-orang yang sudah mencoba membaca dan memahami Al-Quran.

Tun Mahathir Mohamad ketika memulai kata sambutannya mengatakan bahwa beliau mahu datang untuk meresmikan program ini karena beliau tidak setuju dengan nama yang dipilih yaitu ‘Mari Membaca Al-Quran’. Beliau kemudian menambahkan bahwa seharusnya program ini diberi nama ‘Mari Membaca dan Memahami Al-Quran’ agar sesuai dengan misi yang ingin dicapai. Lagi pula, selama ini mayoritas Muslim membaca Al-Quran tetapi tidak memahami maknanya. Oleh karena Al-Quran adalah pedoman bagi setiap Muslim, maka sudah sewajarnyalah kita berusaha untuk membaca dan memahami isi Al-Quran, katanya lagi.

Beliau kemudian mengatakan bahwa penyebab masalah yang kita hadapi sekarang baik dalam kehidupan bermasyarakat ataupun bernegara disebabkan fokus kita selama ini lebih kepada menghafal Al-Quran tetapi tidak berupaya untuk memahami isinya. Salah satu pesan Al-Quran yang sering kita abaikan adalah masalah berlaku adil. Padahal, kata Tun Mahathir, Al-Quran berkali-kali memberi penekanan perlunya berlaku dan bersikap adil dalam segala aspek kehidupan kita.

Antara Tun Mahathir dan Abu Beureueh

Dalam perjalanan pulang, ketika acara ini selesai, Tan Sri Sanusi Junid kemudian menceritakan kepada saya bahwa banyak orang yang tidak tahu kalau sudah lama Tun Mahathir Mohamad melakukan aktivitas membaca dan mencoba memahami makna yang terkandung dalam Al-Quran setiap hari setelah shalat subuh. Hal ini sudah dilakukan oleh Tun Mahathir mulai tahun 1978, ketika beliau diangkat menjadi Wakil Perdana Menteri. Saat itu yang menjadi Perdana Menteri adalah Tun Hussein Onn.

Tan Sri Sanusi Junid kemudian menceritakan juga beberapa pengalaman beliau bersama Teungku Muhammad Daud Beureueh. Kebetulan isteri Tan Sri Sanusi adalah cucu kepada Abu Beureueh. Salah satu pengalaman yang paling berkesan adalah ketika Abu Beureueh sedang sakit menjelang akhir-akhir hayatnya.

Ketika itu Abu Beureueh sering jatuh pingsan, begitu ia terjaga terus saja menanyakan, “Pat Sanusi? (Di mana Sanusi?)”, lalu beliau bertanya lagi, “Pat Ina? (Di mana Ina”? Sanusi yang beliau maksudkan adalah Tan Sri Sanusi Junid, sedangkan Ina adalah cucunya yang bernama Nila Inangda Manyam Keumala yang merupakan isteri Sanusi. Hal ini terjadi berulang-ulang sehingga akhirnya pihak keluarga mengambil inisiatif untuk segera memberitahukan peristiwa ini pada Tan Sri Sanusi.

Tan Sri Sanusi yang ketika itu sudah menjadi salah seorang Menteri di Malaysia segera berangkat ke Aceh bersama-sama isterinya untuk berjumpa Abu Beureueh. Begitu Abu Beureueh bertanya “Pat Sanusi?”, Tan Sri Sanusi terus menggenggam tangan Abu Beureueh seraya berkata, “Nyoe Pat Sanusi, Abusyiek” (Ini Sanusi, Abusyiek). Lalu Abu Beureueh bertanya lagi, “Pat Ina?” Lalu Nila Inangda Manyam Keumala pun terus memegang erat tangan kakeknya Abu Beureueh seraya berkata, “Nyoe Ina, Abusyiek” (Ini Ina, Abusyiek). Abu Beureueh pun terus berpesan pada Tan Sri Sanusi, “Sanusi, tulong puwoe Quran u Aceh” (Sanusi, tolong bawa pulang Quran ke Aceh). Pesan ini disebut oleh Abu Beureueh berkali-kali. Tan Sri Sanusi pun mengiyakan pesan tersebut dan berjanji untuk membawa pulang Al-Quran ke Aceh.

Pesan Abu Beureueh, menurut Tan Sri Sanusi Junid, tentunya memiliki makna yang dalam. Di Aceh waktu itu sudah tentu banyak sekali dijumpai Al-Quran hampir di setiap rumah penduduk Aceh. Ulama-ulama di Aceh waktu itu juga sudah banyak sekali dan rata-rata mereka memiliki pondok pesantren tempat mereka mengajarkan berbagai ilmu pengetahuan kepada murid-murid yang belajar di sana. Sudah pasti, pesan Abu Beureueh tidak boleh difahami secara tekstual yaitu dengan membawa salinan naskah Al-Quran ke Aceh dalam jumlah yang besar. Akan tetapi pesan Abu Beureueh ini haruslah kita lihat secara kontekstual di mana beliau mengajak orang Aceh untuk belajar dan mengamalkan isi dan pedoman yang sudah diberikan oleh Allah kepada kita di dalam Al-Quran.

Impak Pengamalan Al-Quran
Melihat rekam jejak Abu Beureueh, seperti yang dinukilkan oleh James Siegel (1969), yang memainkan peranan yang instrumental menggerakkan masyarakat untuk swadaya membangun mesjid, jalan, jembatan, dan saluran irigrasi, maka terlihatlah bagaimana Abu Beureueh mengajak masyarakat untuk menerapkan nilai-nilai yang dituntut oleh Al-Quran. Abu Beureueh, ketika itu berkata bahwa mungkin ada di antara kita yang berfikir bahwa kerja swadaya seperti memperbaiki jalan itu bukanlah ibadah. Mungkin ada yang berfikir bahwa ibadah itu cukuplah hanya dengan shalat dan membaca Al-Quran saja. Namun sebenarnya, kata Abu Beureueh, semua kerja swadaya itu adalah implementasi nilai-nilai yang diajarkan dalam Al-Quran.

Impak dari pemahaman kontekstual Abu Beureueh terhadap Al-Quran sangatlah fenomenal. Betapa tidak, untuk membangun saluran irigasi contohnya, setiap hari paling kurang 300 orang bekerja secara sukarela. Kadang-kadang seramai 2.000 orang turun untuk kerja membangun saluran irigasi itu. Hebatnya tidak seorangpun yang dibayar. Kalau saja pemerintah yang membangun saluran tersebut biayanya untuk saat itu diperkirakan mencapai US$100.000.00 atau senilai Rp. 100.000.000.00 (sekarang lebih kurang Rp. 1.320.002.976.00 atau Satu Milyar Tiga Ratus Dua Puluh Juta Dua Ribu Sembilan Ratus Tujuh Puluh Enam), sebuah angka yang fenomenal di waktu itu.

Sepertinya Abu Beureueh mengimplementasikan ajaran Al-Quran mengenai pentingnya berdikari seperti yang termaktub dalam Firman Allah yang artinya: “Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri”. (QS. Ar-Ra’du:11) Satu ayat inilah yang juga menginspirasikan Presiden Korea Selatan, Park Chung Hee melancarkan program Saemul Undong (Self-Help) yang menjadi tonggak pesatnya pembangunan Korea Selatan sehingga mereka menjadi salah satu negara yang paling maju di dunia sekarang ini.

Melihat realitas di Aceh sekarang, di mana besarnya APBA dan dana bagi hasil migas masih belum berbanding lurus dengan kesejahteraan masyarakat, maka tidak salah kiranya jika kita semua kembali untuk membaca dan memahami serta mengamalkan Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari kita untuk menemukan solusi penyelesaian. Setidaknya pengalaman Carla Power (2015), seorang non-Muslim yang berusaha memahami makna-makna dan pesan-pesan Al-Quran yang dituangkan dalam bukunya “If the Oceans Were Ink” dapat menjadi inspirasi kita untuk memahami Al-Quran secara terus menerus demi menggali dan mengamalkan pesan-pesan Allah untuk kemaslahatan hidup kita. Semoga.

KOMENTAR FACEBOOK