Memimpinlah dengan gaya lap dance

JADI teringat kata-kata guru saat SMP dulu. “Dengan ilmu hidup menjadi mudah, dengan seni hidup menjadi indah, dan dengan agama hidup jadi terarah.”

***

Sesekali, para pemimpin negeri ini patut untuk memahami seni memimpin dengan mengacu pada gaya bercinta ala Lap Dance. Inilah posisi bercinta dimana wanita memegang kendalinya. Jangan parno dulu. Bukan sisi seksnya yang ingin diajak hayali, melainkan sisi seni memimpinnya yang hendak diajak hayati.

Memegang kendali dalam arti sebagai pemangku kebijakan berkait erat dengan seni mengendalikan kreatifitas anak negeri. Aturan memang pegangan dan sandaran juga panduan. Tapi, pemimpin yang penuh kreatifitas dan punya sense of art tidak akan kaku dalam menjalankan kepemimpinannya. Pemimpin yang kaku ujung-ujungnya hanya punya kemampuan menghambat, melarang, dan akhirnya menghukum serta memecat. Sebaliknya, bagi pemimpin yang menghayati gaya bercinta Lap Dance akan menghasilkan inspirasi-inspirasi yang memungkinkan bawahan memainkan peran, tugas dan kewajibannya dengan penuh kreatifitas.

Jika bawahan berani berinprovisasi, kaya gagasan dan inspirasi, sudah pasti sang atasan atau pemimpin akan mendapatkan bonus berlebih dari hasil kerja yang dilakukan dengan cara-cara menyenangkan oleh semua pihak dibawah kendali sang pemimpin.

Dalam ruang lingkup yang lebih luas, kepemimpinan yang memberi ruang yang luas kepada rakyat untuk berkarya, sudah pasti akan menghadirkan kesenangan yang membangkitkan gairah berkehidupan. Jika pemimpin adalah sosok yang kaku, maka rakyat akan hidup dalam ketakutan yang terkadang sangat berlebihan terhadap dirinya. “Bacut-bacut teumakot salah. Hana geubri izin le po nanggroe,” kata anak muda yang diajak untuk berkarya.

Kepemimpinan yang menghayati gaya Lap Dance, dimana rakyatnya yang didorong untuk berani berkarya sangat dipentingkan oleh kaum seniman dan budayawan. Mereka bukan makhluk yang suka melanggar batas diruang kebebasan. Tapi, mereka bisa jadi akan keluar batas (memberontak) manakala segenap ruang ekpresi mereka dikangkangi oleh kekuasaan.

Para penguasa hari ini mestinya paham darimana asal usul pembangkangan yang berujung runtuhnya kekuasaan. Ya, dari syair dan irama yang dihasilkan oleh kaum seniman dan budayawan. Sebaliknya, negeri ini indah dan bahagia juga disebabkan oleh peran kreatif kaum seniman dan budayawan. Jadi, tidak ada yang perlu ditakutkan dengan kaum seniman pada ruang-ruang kebebasan. Mereka memiliki kearifan paradigmatik untuk mengkritisi karya-karya yang dipandang bisa membuat sakit secara sosial dan budaya.

Sungguh, tidak ada dalam kasus dimana seniman menjadi pihak terduduh sebagai penghancur pembangunan negeri. Justru sebaliknya, kaum penghancur negeri itu berasal dari kaum politisi. Sebaliknya, ada banyak negeri yang hancur kemudian dibangkitkan lagi oleh “mantra” pembangkit semangat yang dilakukan oleh para seniman. Tidak boleh lupa, meski mereka kerap diabaikan, para seniman memiliki cukup kemampuan untuk menurunkan penguasa yang tiranik.

Menyenangkan rakyat memang menjadi tugas utama pemimpin. Tapi, makna kesenangan rakyat tidak selalu mesti diukur dengan ukuran-ukuran matari. Gedung yang menjemput bulan belum tentu bisa buat rakyat bahagia, tapi pemimpin yang mampu menyenangkan hati rakyat melalui penghargaan terhadap partisipasi dan ruang kreasi sudah pasti akan langsung dapat memberi kesenangan bagi rakyat. Dan, semua yang dilakukan dengan senang hati sudah pasti akan menghadirkan tanggungjawab.

Ayo para pemimpin, coba jujurlah pada diri sendiri dan singkirkan debu kemunafikan. Bukankah untuk menghibur diri kalian pastilah sesekali ikut menikmati karya-karya mereka para seniman. Bahkan, untuk kepentingan pencitraan kalian meminta atau membeli karya seniman, seperti karya melukis diri kalian dalam pose yang kalian anggap cukup menarik perhatian rakyat. Coba cermati gerak kaki kalian, yang juga ikut menari saat musik didendangkan meski mulut kalian mengelurkan ragam kutukan.

***

Wahai pemimpin, sudahi lakon pura-pura dan kembalilah pada khittah kepemimpinan yang memang dihadirkan untuk menyenangkan hati rakyat, bukan malah membuat rakyat menangis dan mengutuki polah tingkah kalian.

KOMENTAR FACEBOOK