Kami bukan Pengikut Abdullah Bin Ubay!

Arhas di situs legenda Bate Raya, Kecamatan Juli, Bireuen.

WAHAI alam, bersahabatlah dengan kami, para manusia yang mendurhakaimu selamanya! Engkau kenal kami melebihi diri kami sendiri. Sebagai hamba-Nya yang sok ta’at, kami telah berbuih mulut berkoar agar hukum addin al-haq ditegakkan di muka bumi ini pada umumnya. Dan khususan di negeri Aceh, Bangsa “Teuleubèh” yang kami kencingi dan beraki tanah airnya setiap hari terang dan malam kelam. Namun kami malas menerapkannya. Bahkan di keluarga kami sendiri. Enggan menerima kebenaran yang sememangnya benar yang tak tertolakkan sepertimana yang addin ajarkan. Yang sedari beringusan kami tuntut. Di “balèë beüt”. Di bawah tunjuk-ajar “gurèë rangkang”. Sambil menghapal dan merapal kata. Ya, kami terlalu dhaif mengimplementasikannya di keseharian kami.

Pada suatu ketika, di suatu senja duka, saat khabar burung mencuat. Entah rahmat atau petaka. Ke “seurayuëng” perteduhan kami tiba. Langsung saja kami klaim sesatkan sesiapa yang berlainan dengan kami. Tanpa mahu periksa. Langsung saja kami hakimi, “si fulan sesat”. Beramai-ramai. Bermassal massa kami galang. Atas khutbah sang penebar khabar. Yang berdiri tegap di atas mimbar kaki lima. Yang bermuka tebal. Yang berjidat dihitam-hitamkan. Yang hentakan parau suaranya bercirikhaskan “beryakni” itu mampu menghipnotis khalayak. Bahkan elit bermisai lebat yang setiap pagi duduk bergelung di gedung merapat, masyuk membahas perihal detail demi rakyat, pun terikat. Oleh dengung bujuk-rayu sang pembisik. Sungguh picik.

Melebihi pengikut “Abdullah Bin Ubay”, kami terima dengan lapang dada segala pemburukan siapa pun. “Si fulan awak koëh puriëh, si Fulen cuw’ak!”, teriak kami, merasuk-rasuki diri. Hingga ke setiap inci permasalahan tanpa pernah kami pertanyakan kesahihan. Bangga mengunyah bangkai saudara kami yang dulu kami sepakattuturkan, “sikrak gafan saboëh keurunda”.

Wahai hewan, yang kehausan berkeliaran di padang tandus, mintalah siram hujan lebih untuk kami! Karena kami spesies dengan kaummu juga. Meskipun malu, kami tetap mengaku, juga hewan. Hanya mampu berbicara saja yang membedakan kami dengan kalian.

Wahai tumbuhan, yang masih tersisa dari kami gundulkan, serapkanlah nikmat hujan yang Rabb kita turunkan! Karena kami tak berupaya menghalangnya derasnya. Bahkan, seyakinnya kami akui, kamilah sumber penyebab rahmat ini terhalang.

Wahai alam, please, bersahabatlah dengan kami! Jangan kutuk kami lagi. Atas salah yang kami ulang! Sebab kami juga hamba-Nya yang belum sempurna akal.

Batèë Raya, Juli, 2016.

Note;
-Teuleubèh= Terlebih/termulia
-Balèë beüt= Balai pengajian
-Gurèë rangkang= Guru pengajian/Teungku.
-Seurayuëng= Emperan.
-Beryakni= Lebai
-Abdullah bin Ubay= Tokoh Pembawa khabar dusta.
-Awak koëh puriëh= Pengkhianat
-Cuw’ak= mata-mata musuh.
-Sikrak gafan saboëh keurunda= ikrar mahu ditanam dalam sebungkus kain kafan dan dalam sebuah keranda.