Menggagas Badan Wakaf Universitas di Aceh

Ilustrasi: Kampus Timur Universitas Almuslim, Bireuen.

ARTIKEL ini bertujuan untuk menggagas pembentukan Badan Wakaf Universitas (BWU) pada universitas-universitas di Aceh sebagai salah satu sumber pendanaan untuk membiayai kelangsungan dan pengembangan institusi pendidikan tinggi. Di sini penulis akan memaparkan latar belakang gagasan membentuk BWU di Aceh, apa dan bagaimana cara kerja BWU, kisah sukses BWU serta diakhiri dengan menawarkan model sederhana BWU untuk dikembangkan oleh universitas di Aceh.
Latar Belakang dan Konsep BWU

Sejak lama penulis ingin sekali melihat universitas-universitas di Aceh memiliki sumber pendanaan tambahan selain biaya reguler berupa dana dari pemerintah ataupun dari biaya SPP mahasiswa. Gagasan pembentukan BWU ini pernah penulis utarakan pada beberapa pihak terkait tetapi belum ada yang merealisasikannya.

Baru-baru ini, dalam sebuah diskusi sambil bernostalgia dalam sebuah group WhatsApp ‘MAPK/MAK Banda Aceh Lintas Generasi’ ide ini kembali terlintas dalam pikiran penulis begitu mengetahui ada salah seorang anggota grup, Reza Indria, yang sedang melanjutkan pendidikan doktoral di Universitas Harvard yang dikenal luas sebagai salah satu universitas yang memiliki Badan Wakaf (di sana dikenal dengan nama Endowment Fund) yang sangat bagus dan sampai saat ini memiliki kekayaan sebesar 37.6 miliar dolar Amerika Serikat atau sekitar 495 triliun rupiah, sebuah angka yang sangat fantastis.

Penulis kemudian mengatakan ke depan BWU harus dibentuk di Aceh minimal di universitas yang anggota grup WhatsApp ini menjadi petinggi nantinya. Kebetulan juga Dr. Kamaruzzaman Bustamam Ahmad yang merupakan salah seorang anggota grup ini menyambut baik ide pembentukan BWU dan bertanya bagaimana konsepnya agar dia bisa berdiskusi dengan pihak terkait di universitas tempat dia mengabdikan diri selama ini.

Secara sederhana, BWU ini pada dasarnya merupakan pengembangan dari konsepsi wakaf. Sepengetahuan penulis, salah satu definisi terbaik mengenai konsepsi wakaf diberikan oleh Monzer Kahf (2000) di mana dia menyebutkan wakaf adalah menahan harta baik secara abadi ataupun sementara, untuk dimanfaatkan langsung atau tidak langsung, dan diambil manfaat hasilnya secara berulang-ulang di jalan kebaikan, umum maupun khusus.

Jadi, dalam konteks ini BWU diartikan sebagai badan investasi yang dibentuk oleh suatu institusi di mana hasil dari investasi akan digunakan untuk mendukung aktivitas yang sedang dijalankan oleh institusi terkait ataupun tujuan-tujuan khusus yang akan ditentukan kemudian. Dana yang akan dialokasikan untuk aktivitas universitas adalah hasil dari keuntungan investasi, bukan dari dana awal investasi itu sendiri.

Dana investasi BWU bisa diperolehi melalui donasi dari donatur baik dalam bentuk barang bergerak atau tidak bergerak, uang tunai dan saham baik dari Aceh ataupun luar Aceh untuk mendukung kegiatan pendidikan dan riset di universitas terkait. Semua donasi yang didapatkan itu diinvestasikan kembali untuk mendapatkan keuntungan yang nantinya akan digunakan untuk memberikan beasiswa atau bantuan finansial kepada mahasiswa, memajukan kegiatan akademik dengan memberikan dana riset dan publikasi bagi dosen-dosen di universitas itu bahkan bisa digunakan untuk memberikan tambahan gaji, sesuai dengan proporsi masing-masing, bagi semua staf baik yang berstatus PNS atau non-PNS.

Salah satu cara yang paling efektif untuk menginvestasikan dana BWU ini adalah dengan membangun rumah-rumah sewa untuk disewakan kepada mahasiswa. Pengelolaan BWU ini bisa dipercayakan pada tim khusus yang terdiri dari badan pengurus dan badan pelaksana harian.

BWU di Luar Negeri
Di berbagai negara terutama negara-negara Barat, salah satu sumber utama pendanaan mereka adalah BWU atau endowment fund. Universitas Harvard misalnya, berdasarkan laporan finansial yang berakhir pada 30 Juni 2015, menyebutkan bahwa sepertiga dari biaya operasional mereka berasal dari dana wakaf. Dana wakaf Harvard terdiri dari lebih dari 13 ribu macam dana yang dikelola dalam satu entitas di bawah lembaga yang dinamakan Harvard Management Company (HMC), sebuah badan non-profit yang dimiliki sepenuhnya oleh Universitas Harvard.

Misi HMC ini hanya satu iaitu mendukung sepenuhnya universitas dengan melakukan investasi dan mengembangkan sumber-sumber keuangan universitas untuk jangka panjang.

Hampir semua aspek operasional universitas didanai dengan dana wakaf yang dikelola HMC diantaranya gaji untuk dosen, beasiswa untuk S1, S2 dan S3, unit kegiatan mahasiswa (UKM), perpustakaan, pengadaan dan perawatan fasilitas kampus serta beragam aktivitas lainnya.

Kesuksesan serupa dalam pengelolaan BWU juga ditunjukkan oleh International Islamic University Malaysia (IIUM) melalui lembaga yang diberi nama IIUM Endowment Fund (IEF). Tujuan utama IEF ini adalah membantu mahasiswa IIUM yang berprestasi dan memiliki potensi besar ke depan tetapi menghadapi masalah finansial. IEF juga mendanai kegiatan pengembangan riset dan publikasi di IIUM. Untuk tahun 2012 yang lalu saja IEF berhasil menggalang dana sebesar RM16 juta atau sekitar 50.8 miliar rupiah.

Model BWU
Untuk universitas di Aceh, struktur BWU dapat dibagi kepada dua yaitu badan pengurus dan badan pelaksana harian. Badan pengurus diketuai oleh Rektor, wakil ketuanya adalah Pembantu Rektor bidang Kemahasiswaan dan Dekan-dekan Fakultas menjadi anggota. Badan pelaksana harian dikepalai oleh seorang Direktur. Di bawah direktur bisa dibentuk unit-unit seperti Unit Investasi dan Pengembangan Bisnis, Unit Humas, Unit Wakaf, Zakat dan Tabung Alumni serta unit-unit lain jika perlu.

Salah satu unit yang cukup prospektif adalah Wakaf, Zakat dan Tabung Alumni karena semua universitas di Aceh tentunya sudah memiliki ribuan alumni. Kalau saja setiap alumni mendonasikan nominal Rp.50.000.,- per bulan maka jumlah yang akan terkumpul untuk dikelola cukup besar. Tidak tertutup kemungkinan ada alumni yang sudah menjadi pengusaha sukses akan mendonasikan uang dalam jumlah yang besar untuk tabung alumni almamaternya.

Program lain yang bisa digulirkan dengan unit ini adalah program anak asuh di mana alumni akan memberikan beasiswa kepada mahasiswa yang membutuhkan bantuan keuangan. Sebagai contoh, untuk satu anak asuh biaya bulanan yang diperlukan adalah Rp. 1.000.000.,- per mahasiswa. Alumni yang mahu menjadi orang tua asuh bisa memilih apakah dia akan menjadi sponsor penuh atau seperdua, sepertiga, seperempat atau seperlima dari biaya yang diperlukan setiap bulan. Orang tua asuh boleh membayar biaya ini setiap bulan, setiap dua bulan, setiap tiga bulan, setiap empat bulan, setiap enam bulan ataupun setahun sekali tergantung kemampuan dan opsi yang diambil oleh mereka. Program seperti ini akan sangat membantu mahasiswa yang mengalami kesulitan biaya selama masa perkuliahan di berbagai universitas di Aceh.

Berdasarkan rekam jejak BWU di negara lain dan potensi besar yang dimiliki untuk mendirikan dan mengembangkan BWU serta kuatnya tradisi filantropi dalam masyarakat kita, maka sudah tibalah waktunya untuk mengambil inisiatif mendirikan BWU di semua universitas di Aceh. Jika ini bisa direalisasikan, penulis yakin, pendidikan di Aceh akan berkembang dengan lebih pesat dan berada di garda paling depan setidaknya di ranah Asia Tenggara. Semoga.

KOMENTAR FACEBOOK