Berdamai Dengan Realita

Dalam perjalanan ke kantor pagi tadi, terngiang di memori satu kaidah ushul fiqh yang pernah diajarkan semasa nyantri di Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah, Medan, Sumatera utara pada periode 1993 hingga 1999.

Kaidah tersebut berbunyi, “Ma la yu’khadzu kulluhu la yutraku kulluhu”. Secara bahasa, unggapan tersebut artinya: apa yang tidak bisa diambil semuanya tidak pula ditinggalkan semuanya.

Kaidah tersebut dibuat di antaranya untuk memudahkan proses penetapan hukum ketika menemukan permasalahan yang cukup pelik di tengah masyarakat. Baik problematika sosial, ekonomi, keamanan, politik dan sebagainya.

Dalam interaksi sosial, kaidah tersebut sangat penting digunakan agar tercipta harmoni dan sinergi. Tanpa kedua hal asasi tersebut, potensi-potensi kebaikan akan sangat mudah ditebas oleh kejahatan yang memiliki harmoni dan sinergi.

Kita ingin sesuatu yang sesuai dengan apa yang tergambar dalam imajinasi idealisme. Tidak ada yang salah dengan hal tersebut. Namun terkadang, realita berbicara sebaliknya. Pada titik inilah kaidah di atas sebaiknya digunakan.

Ya, idealisme harus digenggam erat. Sebab di situlah kesejatian sebagai manusia dipertaruhkan. Manusia yang dipegang janji (idealisme)nya. Sedangkan sapi yang dipegang talinya. Manusia mati meninggalkan budi.

Akan tetapi di sisi lain, kita hidup di dunia penuh warna warni. Kemampuan dan kemauan berdamai dengan realita akan membuat nafas menjadi lebih panjang. Terutama pada hal-hal yang tidak bersifat prinsipil.

Namun, yang harus digarisbawahi pula bahwa berdamai dengan realita itu tidak sama dengan melacurkan idealisme, menjual nilai luhur agama dan atau bersembunyi dalam jubah kepatutan sosial demi meraih keuntungan sesaat.

Berdamai dengan realita, seseungguhnya akan membuat sikap sang aktor berbanding terbalik dan tidak beririsan sama sekali dengan sikap hipokrit, pragmatis, permisif dan semacamnya.

Berdamai dengan realita lebih berupa kemampuan mengulur dan menarik benang kehidupan. Jika terus saja diulur, bakalan habis benang di genggaman. Sebaliknya, bila sering ditarik atau bahkan dihentak, benang pasti akan putus.

Inilah makna lain dari kaidah di atas. Wallahu a’lam bish shawab…

KOMENTAR FACEBOOK