Menggendang Demokrasi Memilih “Presiden” Walhi

ACEHTREND.CO, Palembang- Hari ini, Rabu (27/4/2016) Dining Hall wisma atlit Jakabaring, Palembang bergemuruh. Tiga calon Eksekutif Nasional berdiri di panggung untuk menyampaikan gagasan tentang apa yang kelak akan mereka lakukan bila terpilih sebagai “presiden” Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI).

Pertama, Arie Rompas, berturut kemudian Mardan Pius Ginting dan terakhir Nurhidayati (Yayat) naik panggung untuk menyampaikan gagasan pembangunan Walhi ke depan.

Kemudian “rakyat” Walhi yang berasal dari puluhan Eksekutif Daerah Walhi dan lembaga anggota bertanya tentang berbagai isu terkait denfan lingkungan hidup.

Amatan aceHTrend.Co, sesi kampanye untuk calon direktur nasional serupa kampanye akbar terbuka ketika pilpres atau pilkada. Jargon-jargon perjuangan ditebar, walau semua tahu, bahwa perang antar kandidat sudah sejak hari pertama PNLH XII Walhi, sudah dimulai.

Mulai dengan teknik ajakan minum kopi, membayar pulsa, menemani pemilik suara belanja. Bahkan ikut memberikan barang pribadi -seperti syal- pun dilakukan.

Para timses berseliweran ke berbagai pemilik suara. Menjanjikan program kerja, bahkan sampai komitmen kemberikan tiket pesawat, uang belanja dan service lainnya.

Tim lainnya setiap malam rajin menempeli stiker di tiap – tiap pintu kamar dengan atribut salah satu kandidat.

Namun layaknya organisasi profesional lainnya, pemilihan ini tidak mengenal istilah massa mengambang. Tidak ada wilayah abu-abu. “Semua pemilik suara sudah punya pilihan. Kampanye hanya pemenuhan protokoler saja. Kalaupun mau kudeta suara, sudah dilakukan sebelum kampanye terbuka dilakukan,” ujar seorang senior WALHI.

Hasil amatan aceHTrend.Co, dari tiga kandidat Direktur Eksekutif Nasional yang maju, Yayat adalah yang paling banyak menerima sambutan. Mungkinkah dia akan terpilih? “Mari menunggu hasil pemilihan!,” ucap seorang PNLH XII Palembang. []