Membaca (Ulang) Sofyan Dawood

Sofyan Dawood

BAGI generasi yang pernah merasakan dan menyaksikan baik sebagai objek maupun subjek konflik bersenjata antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Pemerintah Indonesia, khususnya dalam kurun waktu 1998-2005. Tentu, tidak asing dengan nama Sofyan Dawood, sosok yang kerap menghiasi media massa baik lokal, nasional maupun internasional ini sering kali membuat militer Indonesia kelimpungan dalam menghadapinya. Bukan hanya karena sosoknya yang misterius, tapi juga argumentasinya terkadang sanggup mematahkan militer Indonesia. Sehingga, saat itu dia berhasil memainkan perannya sebagai propagandis yang memiliki vitalitas dan reputasi tinggi.

Figur Sofyan Dawood menjadi pilihan untuk dianalisa dan membaca ulang tentangnya. Disamping dia sebagai tokoh lapangan dalam GAM dulunya, juga terlibat sebagai aktor reintegrasi pasca perdamaian Aceh. Dalam dimensi tranformasi politik yang dilakukan oleh mantan GAM hingga hari ini, Sofyan berhasil memposisikan dirinya sebagai aktor intelektual danthink tank dalam gerakan politik yang representatif dari partai lokal. Menariknya, Sofyan tidak terlihat ambisius seperti kebanyakan mantan petinggi GAM lainnya untuk menduduki posisi strategis dalam politik. Walaupun tidak bisa dipungkiri ada sederet nama tokoh mantan GAM lainnya yang serupa seperti Teungku Nashruddin Ahmad dan Bahktiar Abdullah. Sofyan memiliki kelebihan, karena dia adalah tokoh lapangan yang dulu sangat eksis memainkan peranannya dalam perang urat saraf.

Secara pribadi, saya tidak mengenal Sofyan Dawood dan tidak punya keterikatan apapun dengannya. Tapi gerakannya dalam transformasi politik Aceh dan perannya saat konflik Aceh serta paradigmanya tentang masa depan Aceh membuat saya salut, disamping beberapa tokoh lainnya seperti Alm. Ishak Daud, Alm. Abdullah Syafi’i, Abu Arafah dan lainnya. Sayangnya, mereka tidak sempat merasakan perdamaian dan berperan dalam dinamika politik hari ini. Jika tidak, mungkin irama politik mantan GAM akan terasa berbeda.

Salah satu ingatan saya terhadap peran Sofyan Dawood saat konflik Aceh dulu adalah penguasaannya terhadap komunikasi propaganda, dia sanggup memposisikan dirinya sebagai Juru Bicara GAM yang handal dan menempatkan opini publik dalam posisi Die Luftartigen Position, menciptakan kondisi lawan dan kawan berada dalam dimensi abu-abu. Sehingga, posisinya saat itu sangat sulit untuk ditemukan oleh Pemerintah Indonesia. Disini, Sofyan menunjukkan kelasnya sebagai propagandis professional. Pasca damai Aceh, ketika para mantan GAM sedang mencari format untuk menunjukkan eksistensinya melalui Partai Politik Lokal, Sofyan justru menentang pemakaian atribut GAM sebagai atribut politik partai, hal ini untuk mengantisipasi agar perjuangan dan para tokoh GAM tidak terjebak dalam politik perpecahan. “Saya tidak mendukung bendera yang dulunya besar sekarang menjadi kecil. Dulu, itu bendera Aceh, sekarang menjadi bendera partai. Tidak ada bedanya dengan bendera sepak bola” kata Sofyan suatu saat dulu. Analisa ini terbukti kemudian, bahwa segala atribut yang dulu menjadi simbol perlawanan Aceh terhadap Republik justru tidak lagi mendapat tempat yang seharusnya. Lebih-lebih, Indonesia pun menentangnya.

Pemikiran ini, menjadi bukti bahwa Sofyan Dawood adalah figur yang mengerti bagaimana menempatkan politik sebagai alat komunikasi dan menjadikan ideologi sebagai instrumen yang harus dijaga dan dihormati. Kapan harus digunakan dan kapan pula harus disimpan. Walaupun keputusan kolektif dari para mantan petinggi GAM tidak sanggup disanggahnya, hal ini dikarenakan sangat sedikit para mantan GAM yang berpikir visioner antara politik Aceh dan Indonesia. Bagi Sofyan, ideologi perjuangan Aceh tidak bisa diklaim milik sekelompok orang atau komunitas politik. Narasi ideologi bergerak dalam relasi yang abstrak seakan menjadi nyata, sebagaimana teori Althusser. Tetapi, merespon ilusi sebagai realitas sesungguhnya itu bukan hal mudah. Inilah, yang menurut saya membuat Sofyan jeli membaca bagaimana teori seharusnya berjalan sesuai dengan kenyataan sosial dan politik.

Demikian juga, ketika hari ini para petinggi GAM sedang bertarung merebut kursi kekuasaan di Aceh mulai dari tahun 2006 sampai 2016. Muncul sejumlah nama baik yang sudah pernah mendapat jabatan sebagai legislatif atau eksekutif maupun jabatan pemerintahan lainnya seperti Irwandi Yusuf, Muzakir Manaf, Sarjani, Ridwan Abu Bakar, Zaini Abdullah, dan lain sebagainya. Justru Sofyan Dawood menempatkan dirinya pada posisi yang sulit ditebak, dia lebih memilih mendukung Tarmizi Karim misalnya yang notabene nya bukan tokoh GAM. Pun jika dia berada dalam lingkaran GAM seperti PNA, Sofyan tidak muncul sebagai nama yang seharusnya ikut bertarung dalam politik, dulu dan hari ini. Andai, dulu Sofyan Dawood bersanding dengan Irwandi (bukan dengan Muhyan Yunan) mungkin sudah lain jalan dinamika politik partai lokal di Aceh. Guna menebak dan memahami gagasan politik seorang Sofyan Dawood, kita membutuhkan ulasan khusus yang lebih menukik secara subtantif tentangnya.

Bukan hanya karena Sofyan Dawood memiliki elektabilitas, tapi juga dia tokoh yang sangat berperan dalam narasi konflik Aceh. Posisi yang hampir sama dimainkan oleh Darwis Djeunib, bedanya Darwis menegaskan dirinya secara frontal bahwa dia berada dibawah Partai Aceh dari dulu hingga sekarang. Sofyan mampu memainkan nalar dan instingnya untuk membaca arah politik Aceh secara dinamis dan visioner.

Memang, tidak cukup menulis satu artikel untuk menganalisa pandangan para tokoh petinggi GAM sekaliber Sofyan Dawood yang dulu bersama Alm. Ishak Daud kepalanya dihargai 150 Juta oleh militer Indonesia. Kita harus membuka lembaran lama untuk melihat bagaimana pemikiran politiknya, kiprahnya, dan keahliannya serta gebrakan kekiniannya dan ini adalah artikel pembuka untuk mendeskripsikan bagaimana dia seutuhnya. Bagi saya, Sofyan Dawood adalah salah satu tokoh yang mewakili dan mewarisi nilai Tiroisme. Bagi seorang mantan kombatan, hal itu sangat menentukan sikap dan gagasannya untuk pembangunan, dan idenya untuk kemajuan. Sebaliknya, dengan melihat lompatan paradigma para mantan tokoh GAM kita akan mudah melihat indikator keberhasilan dan daya tawar Aceh dengan Indonesia.

Merdeka bermakna bahwa kita sudah memberikan tanggung jawab penuh terhadap diri kita, bangsa kita dan negara kita. Merdeka bermakna bahwa kita tidak lagi dibayangi oleh rasa takut akan kesusahan, bahaya, sakit atau kematian. Merdeka bermakna bahwa kita sudah memelihara sesuatu yang jauh sebelumnya ada. Ungkapan Tengku Hasan M. di Tiro ini seakan masih hadir dalam benak beberapa mantan tokoh petinggi GAM seperti Sofyan Dawood. Hanya saja, tidak mudah menempatkan gagasan ini dalam rekonstruksi perdamaiaan dan politik Aceh, lebih lagi dalam komunitas politik yang kolektif. Dalam pradigma ideologis, Sofyan Dawood mampu membaca; Bagaimana seharusnya dengan perdamaian, Aceh tidak lagi terjebak dalam politik Rhah ek ngon kulet drien, leubo teuh luka ek teuh tan gleh? Semoga tidak!

KOMENTAR FACEBOOK