Indahnya Perbedaan Zikir Aceh Dan Zikir Brunei Darussalam

Tgk Samunzir Husein menyampaikan Tausyiah di sela-sela acara Zikir (http://www.suaradarussalam.com)

Bagi masyarakat Aceh Pergi ke Brunei Darussalam tentu belum memuasakan sebelum kita melihat penampilan Zikir Brunei Darussalam yang sangat lembut namun menghayati denga irama yang sangat lembut. Ini bertolak belakang dengan zikir Aceh yang dominan keras dikarenakan sifat dan watak masyarakat Aceh yang sedikit keras namun juga tidak kalah saing dalam menghayati syairnya.

Saya sendiri sangat menyukai lantunan Zikir khas Aceh ini, terbukti selama saya di Brunei Darussalam menjadi pendamping Majelis Zikir Aceh pimpinan Tgk Abdurazzaq dan yatim berprestasi di undang ke Brunei Darussalam oleh Tgk Muhammad Mat Piah yang merupakan warga Aceh dan Direktur Establishment Kesehatan NUR AURA yang sudah bermukim di Negara Brunei Darussalam selama 20 tahun.

Insya allah selama 10 hari jamaah zikir dan anak yatim Aceh ini akan menampilkan beberapa persembahan zikir di berbagai tempat, seperti di rumah rumah warga dan University Brunei Darussalam, terbukti ketika memberikan persembahan Zikir di Kolej Perguruan Ugama Bandar Seri Begawan mereka sangat antusias dengan Zikir Aceh ini terlebih lagi Sang Rektor, Dr.Adnan Bin Haji Bashar sangat menyukai lantunan Zikir Aceh sehinga beberapa peserta zikir ditawarakan untuk diberikan beasiswa di kampus tersebut.

Brunei Darussalam memiliki group zikir yang di dominasi oleh orang tua sebagai penzikir sehingga lantunan yang dilafalkan juga lembut, mungkin saja ini menjadi faktor kelembutan zikir di Negara Islam Diraja Brunei Darussalam ini. Saya sendiri lebih menyukai lantunan zikir yang berasal dari Aceh karena berkalaborasi dengan Rapa’ie Geleng, sehingga pengikut Zikir mempunyai semangat yang dalam ketika melakukan Zikir bersama.

Melihat kehidupan masyarakat Brunei Darussalam, rakyatnya yang sangat antusias dengan Zikir dan selalu menjaga bahasa Jawinya sebagai identitas bangsa Brunei, terbukti ketika kita berjalan di kota dan disemua perusahaan di Brunei mereka menggunakan bahasa jawi dan setelah itu disusul dengan bahasa melayu dan bahasa inggris. Ini juga sebuah tantangan bagi rakyat Aceh agar selalu menjaga indentiti bangsa Aceh seperti kebudayaan lokal. Bahasa Aceh dan sifat rakyat Aceh yang gemar pemulia jame, sehingga masyarakat memiliki nilai sosial yang sangat tinggi.

Selain menjadi peminat zikir di Asia Tenggara warga Brunei Darussalam juga terkenal sebagai penderma biasa dikenal dengan sebutan (Muhsisnin) orang yang suka berbuat baik terhadap sesama seperti menjadi donator untuk sebuah pesantren dan menjadi donatur perseorangan dalam mebiayai kuliah warga asing yang sedang melanjutkan kuliah di Brunei Darussalam.

Semoga apa yang diaplikasikan rakyat Brunei darussalam menjadi panutan bagi masayarakat Aceh seperti menjadi peminat zikir agar menetramkan hati dan menjadi penderma ( Muhsinin ) terhadap anak yatim maupun anak anak yang kurang mampu dari segi financial agar terus di sokong oleh masyarakat yang mempunyai kelebihan harta sehingga tidak selalu berharap kepada pemerintah yang belum bisa adil dalam mengatur dan memberi pelayanan terhadap warganya.

KOMENTAR FACEBOOK