Sun Tzu dan Sofyan Dawood

Sofyan Dawood bersama pasukannya saat dulu di GAM

Membaca tulisan sdr. Haekal Afifa tentang Membaca (Ulang) Sofyan Dawood menjadi motivasi untuk saya menuliskan artikel ini. Memori saya kembali bernostalgia tentangnya pada tanggal 17 Januari 2008, kebetulan saat itu saya masih bekerja di World Bank dan mendapat tugas untuk mewawancara para tokoh Gerakan Aceh Merdeka. Salah satunya adalah Teungku Sofyan Dawood. Bagi saya, sosok Sofyan Dawood merupakan salah satu mantan Panglima GAM yang memiliki kapasistas intelektual, cerdas dan berwawasan, walaupun saat itu tidak begitu lama berinteraksi dengan Sofyan Dawood, saya bisa menilai itu dari pertemuan saya denganya selama dua jam disalah satu Hotel di Banda Aceh. Nostalgia dan hasil reportase itulah yang akan saya tuliskan disini. Hal ini, menjadi penting mengingat bagaimana perjalanan mantan tokoh GAM yang saat ini sudah melakukan transformasi, politik, ideologi dan pergerakannya pasca damai di Aceh.

Sosok yang akrab disapa “Adun” ini lahir di Pantonlabu, Aceh Utara pada 10 Oktober 1966. Sofyan adalah anak dari tiga bersaudara. Ayahnya bernama Muhammad Dawood atau sering dipanggil Dawood PM karena pensiunan Tentara Republik Indonesia (TNI) yang berpangkat Kapten. Sosok yang tegas, disiplin dan jujur. Tahun 1975, ayahnya terlibat dalam Komando Jihad salah satu organisasi yang berkembang dari Darul Islam dengan tujuan mendirikan Negara Islam Indonesia dan dibentuk oleh sisa pimpinan Darul Islam dan Tentara Islam Indonesia yang saat itu dibawah pimpinan Sekarmaji Maridjan Kartosuwiryo. Hal ini terjadi, saat Sofyan masih berumur 10 tahun. Medio tahun 1976 sampai dengan 1980 terjadi penangkapan secara besar-besaran, dengan target membasmi pentolan Komando Jihad di Sumatera. Lantas, Ribuan orang tertangkap. Muhammad Dawood akhirnya memutuskan bergabung dengan Aceh Merdeka, gerakan yang dikomandoi Tengku Hasan Muhammad di Tiro yang kemudian dikenal dengan Gerakan Aceh Merdeka. Saat itu, pada Mei 1977 terjadi kontak senjata antara Aceh Merdeka dengan Militer Indonesia di Desa Alue Ie Udeung, Aceh Utara. Muhammad Dawod tertembak dan akhirnya meninggal dunia dilokasi kejadian. Rekan seperjuangannya yang berjumlah 20 Orang ikut tertangkap dan dipenjara. Dipihak TNI, dua prajuritnya juga meninggal dunia. Peristiwa ini sangat sulit terhapus dalam ingatan Sofyan.

Tidak hanya itu, pada tahun 1982, demonstrasi besar pecah di Kec. Baktiya, Alue Ie Puteh, Aceh Utara sekarang. Demonstrasi yang didominasi oleh orang-orang Tionghoa tersebut berjumlah ribuan orang. Entah, Sofyan tidak lagi ingat tuntutan apa yang diperjuangkan. Untuk membubarkan aksi demonstrasi tersebut, Pemerintah menurunkan pasukan Lintas Udara 100 Medan atau yang dikenal dengan Linud 100 Medan. Sofyan yang saat itu masih berumur 16 tahun ikut berorasi dan bergabung dengan para demonstran. Akibatnya, dia juga ikut tertangkap dan disiksa pasukan pemerintah. Sikap ini menunjukkan bagaimana kritisnya Sofyan Dawood muda dalam melakukan advokasi dan menuntut keadilan pada pemerintah.

Dua peristiwa diatas masih kerap hadir dalam ingatan Sofyan Dawood. peristiwa yang mengubah pandangan dan hidupnya terhadap realitas sosial di negara ini. Tidak hanya itu, tragedi itu membuatnya menjadi manusia mapan dan mandiri. Sofyan muda harus membantu perekonomian keluarganya disamping dia juga dituntut untuk melanjutkan pendidikannya. Untuk itu, dia memutuskan menjadi distributor ikan di Kota Panton Labu atau yang sering dijuluki “Kota Pisang Sale”. Dimana ikan tersebut didatangkan dari Belawan, Medan, Sumatera Utara.

“Selama lima tahun, dalam sehari saya hanya tidur selama empat Jam. Dari pukul 08.00 sampai pukul 13.00 jadwal sekolah, siangnya mencari uang untuk menutupi kebutuhan dan malamnya untuk ikut pengajian” ujar Sofyan suatu ketika dulu kepada saya dengan mata berbinar. Pendidikan Dasar dan Menengah diselesaikan di kampungnya, Panton Labu. Malamnya, untuk mengejar pendidikan agama, seorang Teungku (Ustadz) selalu mengajarkannya dikamar tidur, hal itu dilakukan karena Sofyan tidak bisa mengikuti pengajian yang seharusnya pada siang hari. Ini demi dia memenuhi tanggung jawab ekonomi kepada keluarganya.

Lantas, muncul dalam benaknya bahwa militer itu kejam, pongah, dan biadab. Asumsi itu membuatnya berpikir bagaimana agar dia menjadi tentara militer guna melakukan pembalasan atas kematian orangtuanya dan menegakkan keadilan. Keinginan itu terdengar sampai ke telinga Yusuf Ali, tokoh Aceh Merdeka di wilayah Aceh Utara yang baru bebas dari tahanan dan juga teman seperjuangan ayahnya. “walaupun orangtua mu sudah meninggal, keinginanmu untuk bergabung dengan militer adalah tindakan yang tidak direstui ayahmu. Apalagi tujuanmu untuk melawan kekerasan alat negara dan menegakkan keadilan” ujar Yusuf Ali memberikan pandangan kepada Sofyan.

Pandangan Yusuf Ali, membuat Sofyan mendapatkan jawaban yang sebenarnya kenapa ayahnya ditembak oleh Tentara Nasional Indonesia. Demikian juga, Yusuf Ali menceritakan apa yang sebenarnya dilakukan oleh ayahnya dan apa yang dilakukan oleh Tengku Hasan di Tiro memiliki koneksi yang jelas untuk melawan ketidak-adilan. Sofyan merasa puas dan bangga, bahwa ayahnya dihabisi karena tujuan yang mulia, menegakkan Islam dan melawan kezaliman penguasa. Sebelumnya, orang-orang menganggap bahwa ayahnya ditembak karena seorang penjahat, sehingga dia selalu dicibir dan dihina. Hal inilah, yang akhirnya membuat Sofyan bergabung dengan Aceh Merdeka.

Tahun 1986, Gubernur GAM wilayah Samudra Pasee Teungku Kamal mengajaknya untuk ikut latihan militer di Tripoli, Libya. Negara yang dikenal sering menjadi fasilitator bagi gerakan-gerakan pembebasan nasional di dunia. Karena mengkhawatirkan ibunya, Sofyan memilih untuk tidak ikut. Bukan hanya itu, yang paling esensial baginya dalam perjuangan ini adalah bagaimana berjuang secara frontal di Aceh. tempat dimana kekerasan dan kezaliman selalu disaksikan olehnya. Pun demikian dia ingin melanjutkan perjuangan orangtuanya. Paradigma antara moral dan keyakinan ini menjadikan Sofyan sosok yang visioner dalam melihat perjuangan Aceh. Saya sepakat, seperti apa yang disampaikan sdr. Haekal Afifa dalam tulisa sebelumnya bahwa Sofyan Dawood adalah pribadi yang memiliki vitalitas dan integritas dalam hidupnya. Saya sudah melihat itu saat dulu bertemu dengannya.

Pada tahun 1988, saat pasukan Aceh Merdeka yang berlatih di Libya pulang ke Aceh. Sofyan mulai aktif dalam GAM. Posisi Juru Bicara wilayah Samudra Pasee dipercayakan oleh Yusuf Ali kepadanya. Dirinya mulai diburu oleh Tentara Republik. Untuk mencarinya, rumahnya dibakar dan abangnya, Muhammad Adid ditangkap oleh militer yang saat itu sedang menggelar operasi Jaring Merah, saat Aceh masih dibawah status Daerah Operasi Militer (DOM). Setelah bebas dari tahanan, Adid menyatakan bergabung dengan GAM. Langkah ini juga akhirnya diikuti oleh adik Sofyan, Imran Dawood.

Keputusan itu harus dibayar mahal oleh Adid. Pada 8 Januari 1990, TNI mengepung markas Aceh Merdeka, Adid menjadi salah satu korban yang meninggal dalam pengepungan itu. Sofyan dan Imran selamat, hingga 10 hari kemudian Imran menyusul menjadi korban. Sampai saat ini, makam Imran tidak diketahui berada dimana. Peristiwa ini menjadikan Sofyan sosok yang tegar dan tangguh, seluruh keluarga dekatnya menjadi korban. Tidak mudah secara psikis untuk menghadapi apa yang sudah dilalui oleh Sofyan Dawood, walaupun dia menyadari bahwa ini adalah resiko perjuangan yang tidak membuatnya gentar dan takut. Satu tahun kemudian, Yusuf Ali tokoh Aceh Merdeka yang paling dicari di Aceh Utara meninggal ditembak oleh Komando Pasukan Khusus (Kopassus). Hal ini, menguatkan tekadnya untuk terus berjuang dan melawan penguasa walaupun dia harus merelakan cita-citanya untuk melanjutkan pendidikan hingga ke perguruan tinggi. Baginya, lebih baik mati daripada menyerah kepada musuh. Semua cara ditempuhnya untuk tetap melawan dan bertahan dalam gempuran senjata.

“Para pejuang yang baik akan menempatkan diri mereka di luar kemungkinan kekalahan, dan menunggu kesempatan untuk mengalahkan musuh” teori dan strategi perang Sun Tzu, penulis buku filsafat militer Cina Kuno yang sangat berpengaruh ini dipraktekkan oleh Sofyan Dawood. Sehingga, demi masa depan perjuangan dan menanti kesempatan yang baik untuk melawan maka pada tanggal 29 September 1991 Sofyan memutuskan untuk hijrah ke Malaysia. Negara yang menjadi dominasi para pelarian politik para tokoh Gerakan Aceh Merdeka saat itu. Teori yang dikenal dengan “zig-zag” ini menjadi salah satu alternatif baginya untuk mengumpulkan kekuatan, mempelajari musuh, dan kemudian balik menyerang. Bagaimana perjalanannya kemudian di Malaysia ini, saya akan menulisnya pada kesempatan yang lain. Jelasnya, Sofyan Dawood telah mengajarkan saya bahwa perang adalah seni bagaimana menyerang dengan strategi. Jika Sun Tzu seorang filsuf yang kaya dengan teori perangnya, maka Sofyan adalah pembaca yang sanggup menerapkannya.

KOMENTAR FACEBOOK