Listrik (Lagi- lagi) Padam

Lelaki belia itu bernama Zikril Hakim. Siswa SMP 1 Peusangan, Bireuen. Dia memilah buku untuk dibaca di tengah kebosanannya menunggu PLN kembali menghidupkan daya. Bakda magrib, Selasa (3/5/2016) listrik (kembali) padam. Malam itu, lilin menjadi pilihan.

Mutia Dewi (28) kakak Zikril harus sibuk memindahkan beras setengah matang dari rice cooker ke kanot bu biasa. Listrik yang padam tiba-tiba membuatnya harus ekstra kerja keras meracik menu makan malam. Semua alat bantu yang menggunakan daya listrik tidak berfungsi.

“Tadi siang juga padam. Akhirnya saya baru selesai menyuci baju sore hari. Listrik sudah dua kali padam hari ini. Saya juga harus memanggang semua ikan, karena tidak bisa disimpan di kulkas,” ujarnya.

Dari Teupin Mane, Kecamatan Juli, Khairalina (28) mengirim pesan singkat kepada saya dengan kalimat: Lagi, PLN kehilangan daya di sini. Tiap hari mati lampu. Duh, semua pekerjaan harus bergeser jadwal.

Di media sosial seperti facebook, sumpah serapah kepada PLN yang dinilai semakin tidak profesional membahana. Mulai kelas bawah, sampai kaum elit mengutuk layanan PLN yang dinilai amburadul.

Saya juga membaca sederet keluh kesah guru ngaji yang gagal mendidik anak manusia karena listrik padam. “Mate lampu kiban tabeut?,” begitu mereka berujar.

Lagi- lagi, PLN yang tidak menyalakan listrik, segala binatang menjadi sasaran makian fber. Misal: PLN lage bui!, PLN lage keube. Asee paleh kah PLN! Dll.

Bila saja kerbau, babi, anjing dan binatang lain sempat membuka facebook, sungguh mereka akan menuntut manusia karena pencemaran nama baik. PLN yang letoy melayani pelanggan, Pemkab Bireuen yang menunggak membayar rekening listrik, eh malah kaum binatang yang kena maki. Sungguh terlalu!.

Terlepas atas berbagai argumentasi yang dibangun oleh pihak PLN kepada mahasiswa yang ikut bersama mereka beberapa hari lalu, saya termasuk rakyat yang acapkali menjadi korban ketidak istiqamahan PLN dalam menyuplai energi. Saya kesal kepada PLN.

Bayangkan pemirsa, ketika asyik- asyik menulis dan tiba- tiba listrik padam. Kebayang gak sih sakitnya gimana? Apalagi ketika sedang mengedit naskah, duh! Taubat saya.

Tulisan ini tidak bermaksud apa- apa. Tidak mengandung hate speech seperti surat edaran Kapolri. Bila pun dianggap demikian, ya silahken, saya tak peduli. Saya begitu orangnya.

Ketika menulis ini, saya terus berharap agar di komplek PLN tidak padam listrik. Semoga saja seluruh manajemen dan keluarganya tidak harus merasakan terpaksa membeli lilin, rice cookernya rusak, setrika listrik hangus, hanya gara-gara listrik byar pet sesuka hati.

Harus membeli lilin di tengah kemunduran ekonomi Aceh bukan persoalan kecil. Apalagi harus mengalami penderitaan peralatan rumah tangga yang rusak karena PLN berlaku sesuka hati. Saya merasa dizalimi siang malam, pagi sore. 17 prosen rakyat Aceh miskin. Saya termasuk di dalamnya. Kebayang gak sih rasanya gimana? Tiap hari harus menservice peralatan dapur. Duh! Seteres saya.

Ah sudahlah. Berharap PLN segera move on tentu bukan persoalan gampang. Sama halnya dengan berharap Pemerintah Aceh segera berubah menuju sirath yang lurus. Susah dan butuh waktu.

Bagi anda yang punya kekecewaan serupa, ayo tuliskan keluhannya secara panjang lebar dan kirimkan saja ke aceHTrend. Saya kira orang- orang di redaksi akan senang hati memuatnya. Tapi jangan maki babi ya. Kasihan mereka. Sebab akhir- akhir ini babi selalu menjadi topik di Aceh. Oh babi, malang nian nasibmu. Investor! Mana investor? Semoga babi cepat di eksport ke Hongkong. Agar orang Aceh tidak lagi menyalahkan mereka, ketika PLN kembali membuat ulah.

“Dasar PLN lage manok potong!,” Lha, kok ayam pula yang kena maki? []

KOMENTAR FACEBOOK