Sofyan, Anak Muda yang Siap Memajukan Lhokseumawe

ACEHTREND.CO, Lhokseumawe- Walau sudah familiar di mata publik, namun kemunculannya sebagai bakal calon Walikota Lhokseumawe mengguncang jagat politik. Aktivis jalanan ini kini mencoba “naik kelas”.

Namanya Sofyan. Lelaki kelahiran Cot Girek, Aceh Utara pada 2 April 1983, adalah seorang aktivis politik dan demokrasi di Aceh. Kiprahnya sudah sangat dikenal luas, khususnya di kawasan Aceh Utara dan Lhokseumawe. Lelaki yang beralamat di Gampong Blang Pulo, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe, adalah salah satu mantan aktivis mahasiswa Universitas Malikussaleh yang kemudian bergabung pada kegiatan politik praktis, dengan tetap mempertahankan idealisme.

Lalu apa yang melatarbelakangi Sofyan untuk ikut ambil bagian pada Pilkada 2017? “11 tahun sudah perdamaian Aceh. Dana Otsus dan dana lainnya bertabur masuk ke sini, tapi hasilnya apa? Rakyat tetap miskin, tidak berdaulat atas sumber ekonomi,” ujar Sofyan, Kamis (5/5/2016).

Lhokseumawe, sebagai kota besar di Aceh menyimpan banyak persoalan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Lhokseumawe tahun 2015, sebanyak 12,47 penduduk berada di bawah garis kemiskinan.

“Angka itu sangat tinggi. Ini berbahaya bagi generasi bangsa ini. Ternyata pembangunan ekonomi tidak berjalan dengan baik. Kemiskinan tetap berada di kantung- kantung yang dulu,” kata Sofyan.

Sofyan juga mengatakan dirinya sudah tidak percaya kepada pemerintah sekarang dan calon- calon lain yang mulai bermunculan. Dari sudut pandang politisi muda nan berani ini, mereka semua tidak punya konsep dalam membangun Lhokseumawe. Sehingga yang muncul hanya maju karena punya uang.

“Saya tidak menafikan posisi uang dalam politik. Tapi kalau tanpa konsep, gimana mau membangun. Terbuang-buangnya dana Otsus kan akibat dari tidak adanya konsep pembangunan, ” katanya.

Dalam kacamata Sofyan, Pemkot Lhokseumawe saat ini memang melakukan pembangunan kota. Tapi sifatnya hanya fisik dan tanpa master plan yang matang. Sehingga menjadi tumpang tindih dan kehilangan manfaatnya.

“Padahal yang harus juga dibangun adalah pondasi ekonomi kerakyatan. Kalau semua dana pembangunan dihabiskan untuk fisik semata atau program subsidi, kapan kita punya kekuatan sendiri. Pemulihan income rakyat menjadi sangat penting, agar uang bisa merata di semua kalangan dan produktif,” terangnya.

Sejauh ini, Sofyan sudah menyampaikan gagasan pembangunan kepada berbagai kalangan. Semua menerima dengan catatan bahwa gagasan Sofyan harus dia wujudkan sendiri. Karena apa yang dia sampaikan berupa konsep pembangunan ekonomi fundamental, namun tidak berorientasi Mega proyek yang dananya bisa dibagi-bagi bagi seperti selama ini.

“Dalam konsep yang sudah saya pelajari, kekuatan ekonomi akan kuat, bila pemerintahnya tidak terfokus pada serapan semata. Tapi lebih fokus pada azas manfaat,” sebutnya.

****
Jalan masih panjang. Sofyan sudah berikrar. Perubahan harus secepatnya diraih. Dia sudah berkomitmen untuk maju dan berjuang dari dalam sistem.

Dukungan mulai mengalir dari berbagai kalangan. Dia turun ke kampung untuk mensosialisasikan gagasannya. Politik Sofyan tidak menjadikan uang sebagai kekuatan. Semua bersedia bekerja sukarela.

“Saya tidak punya uang untuk membayar mereka. Alhamdulillah, semua siap dan sedang bekerja untuk saya. Insya Allah, dengan niat yang tulus dan bukan hendak membeli kekuasaan, Allah pasti akan memberi jalan,” pungkas anak muda yang dikenal bersih itu.[]

KOMENTAR FACEBOOK