Kambing Hitam Dunia Perkakaoan

Dunia kakao saat ini sedang dihantui dilema, “Ngeri-ngeri Sedap”, perusahaan-perusahaan besar pengolahan biji kakao dibuat deg-degan karena secara perlahan akan dihadapkan pada defisit produksi. Dalam sejumlah literasi dan prediksi, para ahli mengestimasikan produksi kakao tahun 2020 akan mengalami defisit satu juta ton dari kebutuhan 4 juta ton sekarang. Kegelisahan ini kerap mengemuka dalam berbagai event yang berskala lokal, nasional dan internasional, kesimpulannya menuju pada satu titik bahwa hampir tidak ada satupun negara penghasil Kakao mampu mempertahankan produktifitas kakao lebih dari 1 ton/ha dengan catatan lebih dari 3 tahun masa produksi. Produktivitas Kakao rata-rata di seluruh dunia hanya mampu berada di kisaran 500 Kg/ha, malahan menurut Organisasi Kakao Internatisional (ICCO) produktifitas per ha sudah kurang dari 400 kg/ha. Data terakhir Kakao dunia ada dalam web ini: statista. Dalam web ini dijelaskan bahwa tahun 2016, Indonesia hanya mampu berproduksi 300,000 ton dari total wilayah 1,8 juta ha, sebuah angka yang sudah sangat jauh berbeda dengan kondisi tahun 2006 dimana Indonesia berhasil berproduksi 760.000 ton. Produksi dunia masih masih didominasi Pantai Gading dan Ghana.

Lebih jauh, bila kita mendalami kondisi Kakao Aceh hari ini bahwa data resmi yang dikeluarkan pemerintah luas wilayah produksi komoditi ini di Aceh 102.000 ha, pertanyaan kemudian berapa produksi Kakao Aceh dengan luas sebesar ini, kenyataannya, sampai saat ini pemerintah belum melakukan pemutakhiran data berapa produksi Kakao Aceh sesungguhnya. Menurut estimasi penulis produksi kakao Aceh sekarang tidak melebihi 15.000 ton. Aceh pernah mengalami produksi tertinggi 35.000 ton. Kondisi ini terkonfirmasi dari observasi langsung penulis dilapangan bahwa lahan produktif kakao saat ini kurang dari 50 % dari total 102.000 ha, sejumlah lahan kakao ditebang dan digantikan dengan komoditas lain, selebihnya lahan dibiarkan begitu saja menjadi hutan Kakao atau perawatan asal-asalan dengan hasil dibawah 200 kg hingga 500 kg/ha setahun, sebuah angka yang sangat jauh dari harapan hasil usaha.

Lantas siapa yang salah, selama ini berbagai upaya dilakukan pemerintah terutama di Direktorat Jenderal Perkebunan Kementrian Pertanian melalui berbagai program dan kegiatan reguler dengan berbagai metode pelaksanaannya. Kementrian bahkan mengeluarkan Standard Operasional Prosedur (SOP) yang kemudian menjadi “kitab” petani/pebisnis Kakao. Lalu kemudian apakah SOP yang salah atau petani yang dituduh membuat kesalahan dengan tidak mengikuti SOP, dalam banyak kesempatan, petani selalu menjadi objek kesalahan dengan lebel “malas, mentalitas, batat dst”.

Rasanya sangat berlebihan apabila pemerintah menuduh petani tidak taat kepada SOP, mari kita lihat contoh apakah benar petani yang salah. PTPN XII adalah perusahaan milik pemerintah yang berada di Jawa Timur memilih Kakao sebagai komoditas bisnis dengan luas 6000 ha. Apa hasilnya, dalam laporan resminya, perusahaan ini mengalami kerugian milyaran rupiah dalam beberapa tahun terakhir akibat tidak tercapainya target produksi dalam skala bisnis. Apa yang salah dengan perusahaan ini, apabila petani saat tidak memiliki bibit unggul, tidak ada ilmu dan teknologi yang cukup, keuangan yang kurang, serta peralatan yang minim. Namun sebaliknya dengan PTPN XII, mereka memiliki semuanya, mulai klon bibit terbaik, manajemen perkebunan professional, tenaga ahli yang mempuni,serta sumber permodalan yang tidak terkendala. Faktanya, perusahaan ini merugi, lalu apakah SOP yang salah atau ada yang lain.

Mari kita telusuri akar permasalahannya dan berhenti mencari kambing hitam. Hama dan penyakit Kakao seperti Penggerek Buah Kakao (PBK), serangan jamur di pucuk daun yang berakhir dengan rontoknya dahan-dahan kakao, Vascular Strike Dieback (VSD), jamur busuk buah (Phytoftora), jamur yang mengeras buah (Antracnose), hama heldopeltis, kanker batang dituduh merupakan kambing hitam utama dalam dunia perkakoan.

Ketika 10 tahun yang lalu disaat produksi Kakao Dunia masih surplus, parameter yang yang digunakan adalah kurva Demand dan Supply yang diprediksikan produksi kakao akan tetap surplus. Para Ilmuwan tidak begitu tertarik dengan riset kakao, karena diseluruh dunia, hampir tidak ada perusahaan besar yang terjun di industri on farm kakao. Industri on farm kakao dianggap sektor agribisnis yang gurem. Kemudian, dari sudut industri bisnis, memproduksi agro input disinyalir kurang menguntungkan, selain ada anggapapan kalau kakao adalah tanaman hutan yang tidak butuh penanganan serius.

Perkebunan kakao rakyat oleh banyak pihak dianggap sebagian kalangan sebagai usaha marginal, cara padang seperti inilah kemudian mendorong banyak kalangan termasuk pemerintah dan kalangan NGO menentukan bentuk pendekatan penyelesaian masalah dengan konsep Community Development (CD). Untuk itu, tidak mengherankan apabila semua program berbagai pihak lainnya adalah pendekatan berbasis CD yang mengutamakan peningkatkan aspek sosial; inclusion, and participation, namun sangat minim dalam aspek up grading teknologi.

Sesugguhnya problem Kakao adalah kompleksitas reaksi biokimia dalam proses fisiologis kakao untuk menghasilkan biji atau Butter Cocoa (lemak kakao) yang kandungannya sekitar 50%-60%. Jumlah elemen organic dan anorganik spesifik, serta balancing antar elemen sangatlah menentukan efisiensi dalam proses metabolisme dalam jaringan kakao. Disinilah titik lemahnya, dalam 25 tahun terakhir, belum banyak peneliti yang memperlajari ini secara detil fisiologi Kakao secara mendalam. Inilah yang saya coba dalami selama ini bersama rekan-rekan yang tergabung dalam TAC (Tropical Agricultural Center), yang kemudian mengeluarkan konsep fisiology rejuvenation dan format ulang sel tanaman dengan top soil balancing, microrganisme balancing dan top soil balancing. Selain itu, secara bertahap melakukan penyeleksian bibit yang tahan perubahan iklim, respon terhadap agroinput, dan produktifitas tinggi, serta konsisten dalam waktu lama.

Banyak pihak belum menyadari adanya pengaruh signifikan pemanasan global dan perubahan iklim terhadap dunia Perkakaoan. Laju fotosintesis sangat tergantung pada suhu dan radiasi matahari. Suhu yang terlalu tinggi dan radiasi Ultra Violet dan Infra Red yang terlalu tinggi telah membakar sel fotosintesis sehingga mengalami disfungsi. Efisiensi fotoseintesis menurun drastis, dalam beberapa kasus hanya sisa 50%. Hasil fotosistesis yang tersisa 50%, dalam proses fisiologis lanjutan menjadi buah kakao dan biji kakao serta jadi butter cocoa akan mengalami proses biokimia yang rumit. Disinilah dibutuhkan elemen organik sangat spesifik untuk mentransportasi hasil fotosintesis ini menjadi biji kakao dan butter cocoa. Rekayasa biokimia komplek dalam nutrisi kakao, akan mampu meningkatkan efisiensi fotosintesis mencapai nett energy 85%. Dengan demikian akan mampu berproduksi 10 ton/ha. Seandainya banyak pihak terus mempertahankan pola perlakukan kakao seperti sekarang maka keberhasilan sempurna menjadi butter cocoa tidak lebih dari 10% hasil fotosistesis, ini adalah salah satu fakta penyebab turunnya produksi kakao.

Solusi
Melakukan rekonstruksi dan penyesuaian dengan pemanasan global dan perubahan iklim dengan jalan melakukan up grading teknologi adalah keharusan, tindakan konkrit permulaan bida dilakukan dengan melakukan seleksi bibit unggul yang paling tahan perubahan iklim. Introduksi Complex Nutrisi yang merekontruksi penciptaan lingkungan pendukung kakao seperti kondisi tanaman ketika pertama kali tumbuh di lahan hasil penebangan dan pemembakar hutan rimba yang ratusan tahun menyimpan nutrisi untuk tanaman.

Introduksi spesifik nutrisi yang mampu mengantisipasi dampak pemanasan global dan perubahan iklim dan mengatasi masalah utama cherelle wilt baik pada usia buah 40-50 hari, maupun cherelle wilt pada fase akhir usia 80-90 hari dengan gejala mirip PBK. Introduksi Spesifik Mikroorganisme tanah yang distimulasi dengan nutrisi untuk meningkatkan daya larut dan kemampuan akar menyerap makanan dan immunitas terhadap penyakit akar.

Mari bergerak dengan ilmu, semangat, SDM dan permodalan untuk menyahuti kegelisahan dunia. Untuk pemerintah, dan pihak lainnya, berhentilah memilih pola yang terbukti gagal dan faktanya telah menurunkan produksi kakao nasional dari 750.000 ton 2006 hingga 300.000 ton 2016. Berhentilah mencari kambing hitam, karena kambing hitam sesungguhnya adalah keterlambatan upgrading pengetahuan yang mampu beradaptasi dengan perubahan zaman, berhentilah mengklaim diri ahli apabila tidak bisa memberi bukti, marilah bersama saling berbagi dan mengisi untuk mencapai kesejahteraan penduduk negeri. Saat nya mengisi defisit kakao dunia, mulai dari Aceh kenapa tidak?? Stop mencari kambing hitam. []

KOMENTAR FACEBOOK