Kerajaan Jeumpa, Tanpa Tapak Sejarah & Garis Keturunan yang Kabur

TIBALAh saya di Gampông Blang Seupeung sekira ±jam 10:00 Waktu Aceh Utara (WAU). Usai menanti lama seorang teman dari Bandar Teluk Samawië (Lhokseumawe kini-pen) yang beberapa kali telah tersasar arah dan silap masuk, hendak ke tempat diselenggarakannya acara “SEMINAR SEJARAH KERAJAAN JEUMPA” oleh Majelis Adat Aceh (MAA), begitu nama acara yang sempat saya baca di undangan .

Menurutku, teman kita ini sangat memungkinkan sesat. Oleh sebab tiada denah alamat yang akurat tertera di kertas undangan seminar kerajaan pertama di Negeri-Negeri Jawi (bangsa-bangsa yang menggunakan bahasa Melayu Samudra Pasai-pen) ini, selain hanya nama “Gampông BlangSeupeung”.

Beliau menempuh perjalanan yang jauhnya ±100 km ke arah barat dari Negeri Samudra Pasai—di Utara Aceh, sebuah Kerajaan lama di Sumatera yang banyak meninggalkan jejak sejarah selain Kerajaan Aceh Darussalam. Jejak berupa epigrafi, tulisan kaligrafi yang terpahat di batu nisan petinggi kerajaan dan berbagai temuan benda artefak lainnya yang kesahihannya mampu dipertanggungjawabkan (selengkapnya, baca buku DAULAH SHALIHIYYAH DI SUMATERA, oleh Teungku Taqiuddin Muhammad. Lc, epigraf Aceh-pen)—ke Negeri Jeumpa (konon, negeri Kerajaan Islam tertua di Kenegerian Melayu dulu. Dan, kini hanya sebuah nama kecamatan di kabupaten Bireuen-pen).

Kukira kami telat, rupanya protokol baru memulai acara mengikut prokoler acara sekira ± jam 11:00 WAU, sejenak setelah tibanya rombongan bupati Bireuen dan rombongan Sultan Noor Jan Shah, Sultan dari Negeri Malaka di Malaysia. Acara pun dipersingkat, menimbang waktu yang semakin sekarat. Dimulai dengan pembacaan ayat suci al-quran dan lalu menampilkan tari seudati oleh anak-anak sebuah SLTP di kecamatan Jeumpa. Seudati yang disambut dengan tepuk tangan bergemuruh dan decak kagum dari tamu luar negeri. Tepuk kagum serupa “cina menonton rapai, yang entah tahu-atau tidak bait-bait yang dilantunkan oleh syeh seudati cilik kita itu.

Acara pun berlanjut seusai bupati Ruslan sebagai pemangku adat Bireuen memberi kata sambutan ke acara, “penyerahan bungöeng jaroë tanda seunambông kerajaan jeumpa dengan kerajaan malaka”. Kulihat Bupati memakaikan baju kuning bermanik dan kopiyah meukeutôp, pakaian adat aceh ke badan Duli Yang Maha Mulia (dymm) dari Negeri Malaka yang juga disahut dengan tepukan gemuruh oleh kami, sebagai penonton budiman di acara adat yang terlihat aneh ini. Janggalnya karena seharusnya “baju kebesaran kerajaan jeumpa”lah yang patut disemat. Ya sudahlah, tiada manfaatnya seorang tamu peserta sepertiku berkomentar dalam bab ini.

Acara selanjutnya, sang Tuanku dari Malaka memaparkan hubung-kait antara Kerajaan Malaka dengan Kerajaan Jeumpa. Beliau mengaku, darah birunya bermuasal dari Raja-Raja yang menguku besi di Kerajaan Jeumpa dulu. Indatunya berasal dari Jeumpa sini, sebelum berhijrah untuk menyebarkan Islam dan menancapkan kukunya dengan membentuk Kerajaan Malaka di tanah seberang lautan.

Dhuhur tiba, sebelum shalat segenap kami diminta untuk menikmati kenduri raja. Dan, acara pun ditutup sejenak, setelah Tu Min (Teungku Muhammad Amin di Blang Blahdéh), seorang ulama kharismatik Aceh membacakan do’a penutup. Kulihat rakyat jelata dan sekalian anak yatim makan nasi bungkus di bawah tenda, di bawah pohon kelapa dan di bawah sengatan terik matahari. Sedangkan pararaja dan hulubalang sekalian dan petinggi pasar politik dan beberapa di antara kami yang berdiri kokoh-berfikiran picik dan doyan menjilat punggung penguasa dhalim disambut bak raja mencicipi hidangan kenduri dari uang rakyat yang dihidangkan di dalam Meunasah. Dihormati sini, kebanggaan kami memuncak, melesak ke jiwa yang hina lagi tamak.

***

Memasuki jam 13:40 WAU, shalat dhuhur telah usai, seminar pun dibuka. Drs. Abdurrahman Kaoy mewakili MAA memaparkan “Asal Usul Kerajaan Jeumpa”. Diikuti oleh pemateri, Ir. Razuardi, MT melalui gambaran lukisan “Koneksi Kerajaan Islam Jeumpa dengan Dinasti Sasania”. Nyakman Lamjame, aktivis muda pembaca hikayat mop-mop Aceh mewakili Syeh Razali memaparkan “Perkembangan Kerajaan Jeumpa dari Masa ke Masa”. “Konstribusi Kesultanan Islam Jeumpa Dalam Islam Nusantara” oleh Abiya Dr. Saifullah, S.Ag M.Pd. Dan yang terakhir ditutup oleh Waled Nu, Tgk.H.Nuruzzahri Yahya, Rais Syuriyah NU Aceh dengan pemaparan, “Kerajaan Islam Jeumpa dalam Pandangan Ulama”.

Islam masuk ke Jeumpa pada sekira abad ke-8 M (abad ke-3 H) dibawa oleh Shahiran Salman dari Parsi (Iran-pen). Salman Al Parsi naik tahta di Kerajaan Jeumpa setelah kawin dengan anak Raja Jeumpa, Mayang Seuleudang. Lalu dari Jeumpa sini menyebarlah islam ke segenap Negeri-Negeri Jawi melalui ekspansi dan perdagangan dan perkawinan. Begitu pemaparan singkat yang dapat kusimpulkan.

Jika ditelisik yang memusykilkanku di sini; yang pertama, abad ke-3 hijriah islam baru menapak kaki di sekitaran semenanjung Arab dan paling timur baru hingga ke India. Kedua, gelar Raja/Sultan di dalam islam baru ditabal seusai Daulah Umayah dan Daulah Abbasiyah runtuh, dan itu tahun dan abad ke berapa? Ketiga, batu nisan yang diklaim sebagai batu jeurat Raja Jeumpa hanya batu bulat berjenis batèë ië biasa yang banyak tersebar di mana pun di makam rakyat jelata. Dalam hal ini meragukanku. Sebab banyak tinggalan nisan raja/sultan dan parapetinggi di bekas Kerajaan Samudra Pasai di Aceh Utara dan Kerajaan Aceh Darusssalam di Bandar Aceh dan Aceh Rayeuk adalah batu yang dipahat sedemikian eloknya dan banyak yang dilengkapi tulisan khat berinskripsi bahasa arab dan jawi.

Namun demikian, di mataku Seminar yang pertama sekali dibuat untuk Kerajaan Jeumpa ini adalah sebagai bentuk perhatian oleh berbagai pihak yang merasa bertanggungjawab untuk dimunculkan ke khalayak. Agar ke depannya rakyat Bireuen khususnya dan Aceh pada umumnya dapat sedikit tahu tentang sejarah bangsa besar ini. Ianya juga akan terbuka untuk dikaji-gali kembali oleh para tim ahli. Oleh epigraf, penjejak, arkheolog, anak seni dan berbagai kalangan lainnya. Karena sejarah yang belum pasti kesahihannya terbuka untuk ditelusuri dan dikaji ulang melalui tinggalan tapak sejarahnya. Jejak yang berupa batu nisan, temuan pinggan lama, möen tuha, manuskrip dan berbagai hal lainnya.

Akhirul kalam, terima kasih untuk semua pihak yang telah bersusah payah menyelenggarakan acara ini. Salam ta’zim!

Arhas Peudada; pembantu informasi untuk Central Information for Samudra Pasai Heritage (cisah) & Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (mapesa), melalui temuan nisan dan möen tuha di Kedaulatan Peudada dan sekitarnya.

KOMENTAR FACEBOOK