[RESENSI] Aceh Nyaris Takluk Di Tangan Belanda

“Dalam pertempuran Belanda vs Aceh. Trilyun Golden uang Belanda lenyap. Hingga tahun 1914 saja, tak kurang 37.500 orang prajurit cekatan atau marsose tewas, meregang nyawa di Aceh. 500.000 lainnya, bersimbah darah. Bahkan, berbilang jenderal Belanda gugur di sini. Aceh bagi Belanda daerah kelam nan menyeramkan.”

Itulah sedikit cuplikan dan kesimpulan yang dapat kita petik dari buku Strategi Belanda Mengepung Aceh 1873 -1945 yang ditulis Yusra Habib Abdul Ghani, Nordin Hussin, dan Azlizan Mohd Enh.

Bagi penyuka sejarah, buku ini sangat menarik. Sebab, buku yang diterbitkan Bandar Publishing, Banda Aceh ini tergolong buku bernas. Kedalaman dan keluasan daya jelajahnya mengasyikkan.

Buku setebal 112 halaman, tidak saja memaparkan strategi Belanda secara militer dalam menaklukan Aceh dengan segala dinamika dan kronikanya.

Melainkan juga, buku ini membahas dengan gamblang dan tuntas, perlawanan Belanda terhadap Aceh dengan strategi, dan taktik nonmiliter.

Bahkan, buku ini dengan cerdas, mengungkapkan strategi Belanda dalam menerapkan taktik militer dan nonmiliter secara sekaligus. Yang dalam istilah penulis disebut dengan taktik “serampang dua mata”.

Kalaulah sejarah dunia, ketika itu, tidak “berkata lain”. Penerapan strategi serampang dua mata, nyaris berhasil mengepung dan menaklukan Aceh.

Nah, dari titik pemaparan strategi nonmiliter inilah, yang menjadi pemantik dan kehebatan sekaligus “pembeda” isi buku ini, dengan buku-buku serupa yang pernah ada.

Penulis telah berhasil “menyihir” naluri kognetif. Sehingga pembaca terkesiap dan berdecak kagum. Yang muaranya, membuat pembaca “tergila-gila” terus memolototi dan membaca lembaran demi lembaran buku bercover sketsa Kuta Raja Tempo Doeloe.

Ini karena penulis, bukan orang sembarangan. Ketiga penulis, adalah sosok profesor, doktor, dan ilmuan mumpuni. Mereka orang-orang bertalenta, telah malang melintang dalam dunia penelitian dan kepenulisan.

***

Tujuan kedatangan Belanda ke Aceh, ungkap penulis, sama dengan kedatangan Belanda ke Indonesia secara umum, yaitu, golden, glory, dan gosfel.

Namun, tiga misi yang diemban Belanda dalam rentang masa pendudukan di Aceh semuanya gagal.

Secara militer, Belanda mendapat perlawanan segit dari rakyat Aceh. Perlawanan Aceh terhadap Belanda dalam rentang (1873-1945), tidak pernah berhenti apalagi Aceh takluk. Rakyat Aceh berperang seperti orang “Pungo”.

Terhitung, berpuluh-pulih kali terjadi pertempuran dan serangan. Sehingga Aceh bagi Belanda, menjadi kota yang menyeramkan (baca hal 49).

Ini karena pejuang Aceh dalam berperang, selalu dirangsang dan tetap bersandarkan aqidah perang jihad fisabilillah yang dipadukan dengan lirik-lirik Hikayat Perang Sabi.

***

Kegagalan Belanda dalam menaklukkan Aceh, menimbulkan kesal yang luar biasa dan mendalam bagi Belanda.

Akhirnya, dengan melibatkan berbagai ahli dan para sarjana, Belanda mencari taktik, jurus-jurus, dan strategi lain untuk menaklukan dan mengepung Aceh. Strategi dan taktik tersebut, yaitu melalui taktik nonmiliter dan serampang dua mata. Artinya, taktik militer yes. Taktik nonmiliter yes juga.

Taktik nonmiliter yang Belanda lancarkan, adalah dengan merusak pola pikir dan menghancurkan seluruh potensi kekuatan Aceh. Mengubah isu dari kolonialisme menjadi pan Islamisme. (hal 50)

Yang lebih tragisnya, Belanda menciptakan perpecahan di kalangan umat Islam sehingga antar elite di Aceh terjadi konflik dan peperangan dengan sintimen agama dan strata sosial.

Apa yang dilakukan Belanda ini, ternyata berhasil. Banyak tokoh-tokoh Aceh yang semulanya sangat militan terhadap Aceh menjadi berkurang. Kekuatan semangat perang Aceh yang bersandar pada jihad fisabilillah yang dipadukan dengan lirik-lirik hikayat perang sabi, hilang begitu saja.

Tokoh-tokoh Aceh, banyak yang sudah bergelut dengan organisasi dan jabatan-jabatan. Persepsi dan pradikma berpikir mereka pun menjadi berbeda.

Untunglah, sejarah dunia berkehendak lain, Belanda takluk di tangan Jepang. Kalau, Jepang tidak datang, diprediksi Aceh akan sama nasibnya dengan daerah-daerah lain di Indonesia.

***

Sebenarnya, saat Jepang menyerah pada Sekutu, saat terjadi vakum of power, Aceh berhak memproklamirkan kemerdekaan sebagai Negara merdeka.

Karena status Aceh sebelum kedatangan Belanda ke Indonesia, adalah Negara merdeka dan berdaulat.

Namun hal ini, tidak terwujud dengan berbagai alasan. Salah satunya, karena keberhasilan pihak Belanda memecah belah para elite Aceh. Sehingga untuk memikirkan dan menggerakan kemerdekaan dalam momen itu, para tokoh Aceh tidak punya energi alias loyo. (hal 88).

***

Kehadiran buku ini, bukanlah tanpa kekurangan. Dari sisi editing, belum mendapat sentuhan yang serius. Sehingga sulit membedakan mana opini, fakta, ungkapan para pakar, dan analisa penulis.

Sisi bahasa dan kalimat yang dibangun, tanpa melihat profil penulisnya, kita bisa tebak bahwa penulis buku ini, Cikgu dari Malaysia.

Kendati begitu, menurut saya, buku ini layak disejajarkan dengan buku sejarah pergolakan sosial di Aceh.[]

KOMENTAR FACEBOOK