ARI: Ada Kesalahan Metodelogi Riset Maarif Institute

ACEHTREND.CO, Banda Aceh- Aceh Research Institute (ARI) menilai hasil riset yang dikeluarkan oleh Maarif Institute tentang Indek Kota Islami (IKI), sarat dugaan muatan merecoki pelaksanaan Syariat Islam di Aceh. Direktur ARI,
Muhammad Syarif, S.HI.M.H, Rabu (18/5/2016) menyebutkan nangkringnya Banda Aceh di urutan 19 sebagai bagian kesalahan pemahaman Maarif Institute dalam merumuskan Indikator Indek Kota Islami.

“Jika keliru metodelogi dalam melakukan penelitian maka hasilnya pun juga keliru. Bukan hanya itu bagaimana mungkin Denpasar, Bali berada pada rangking tiga terbaik Indek Kota Islami se-Indonesia, dengan Skor (IKI) 80,64. Ini kah aneh bin ajaib,” ujar Syarif.

Dia juga mempertanyakan letak islaminya Denpasar. “Bukankah ketika kita bicara Islam, bicara tentang Hukum Allah sesuai tuntunan Rasul Muhammad SAW. lalu di mana pula Bali menerapkannya?,” gugat Syarif.

Dia juga menyebutkan ada kesumiran indikator mazhab Maarif Institute. Apakah saat Banda Aceh melarang aliran sesat GAFATAR, menertibkan rumah ibadah tanpa izin dinilai Banda Aceh tidak menjamin kebebasan beragama? Syarif menilai Maarif Institute menafikan Konteks Islam sebagai Aqidah ketauhidan. Sehingga Islam dipahami sebagai pemahamanan yang sempit. Bukankah Pemaknaan Islam itu sesuai ajaran yang dibawa Nabi Muhammad yang diawali mengucapkan dua kalimah syahadat, shalat, puasa (baca rukun islam dan rukun Iman).

Lalu apakah disaat Jogyakarta memberikan kebebasan bagi tokoh LGBT, Irshad Manji, memberikan kebebasan berkembang paham pluralisme agama lalu disimpulkan Jogyakarta sebagai Kota Islami? Untuk itu Syarif menghimbau kepada ummat muslim di Aceh terutama Kota Banda Aceh agar tidak terpancing dengan hasil penelitian tersebut yang pada akhirnya, terjadi gesekan sesama anak bangsa di Kota Serambi Mekkah. “Semoga kita di Aceh tidak latah apa lagi secara sadar mengkampanyekan seolah-olah penerapan Syariat Islam gagal dalam membawa kedamaian, keamanan, kesejahteraan dan kebahagiaan,” imbuhnya.

Berdasarkan pemberitaan di beberapa media online, Pelaksanaan penelitian ini memakan waktu 1 Tahun dengan mengambil sampel 29 Kota di Indonesia. Ada tiga Variabel Kota Islami menurut Imam Mujadid Rais, Direktur Riset Maarif Institute.

Pertama; Variabel aman Kota meliputi: Kebebasan Beragama dan keyakinan, perlindungan hukum, kepemimpinan dan pemenuhan hak politik perempuan, hak anak dan difabel.

Kedua: Variabel Sejahtera meliputi: tingkat pendidikan, pekerjaan, pendapatan, kesehatan serta Ketiga: Variabel bahagia yang dinilai antara lain berbagi dan kesetiakawanan dan harmoni dengan Alam. Adapun hasil skor IKI secara keseluruan dapat dilihat dibawah ini:
1. Yogyakarta – 80.64
2. Bandung – 80.64
3. Denpasar – 80.64
4. Bengkulu – 78.40
5. Pontianak – 78.14
6. Serang – 77.82
7. Metro – 77.50
8. Semarang – 75.58
9. Palembang – 74.36
10. Malang – 73.72
11. Ambon – 73.53
12. Surakarta – 72.66
13. Salatiga – 71.22
14. Mataram – 70.71
15. Manado – 70.10
16. Batam – 69.94
17. Surabaya – 69.74
18. Tasikmalaya – 69.65
19. Banda Aceh – 69.62
20. Jayapura – 68.53
21. Banjarmasin – 66.79
22. Palu – 66.15
23. Pangkalpinang – 65.71
24. Jambi – 63.91
25. Tangerang – 61.99
26. Padang Panjang – 61.67
27. Kupang – 59. 39
28. Padang – 58.37
29. Makassar 51.28

KOMENTAR FACEBOOK