Mie Simpang Keumangan dan Kenangan Perang Cumbok

sumber foto: www.griyawisata.com

Hari ini saya melakukan perjalanan singkat pulang-pergi Banda Aceh-Bireun.

Seperti biasanya, perjalanan kali ini juga dalam rangka membuhul silaturrahmi. Sekalipun jauh dan melelahkan, saya terus mencoba menyenangi silaturrahmi lebih lebih Rasulullah saw menjanjikan bahwa silaturrahmi itu menambah umur dan keberkatan rizki.

Dalam perjalanan darat jalur Banda Aceh-Medan ini saya terinspirasi ternyata sejak masa kemerdekaan sampai hari ini sesungguhnya banyak peristiwa sejarah yg terjadi sepanjang jalan negara ini. Banyak peristiwa politik dan peristiwa kekerasan terjadi jalur ini.

Sepanjang perjalanan saya berpikir, andai semua orang Aceh yg lalu lalang di jalan ini mencermati peristiwa politik dan.kekerasan masa lalu di Aceh sepanjang jalan ini , maka mungkin saja di tengah tengah kita akan muncul kesadaran kolektif utk tidak lagi mengulangi kesalahan masa lalu. Kesadaran inspiratif utk tidak masuk ke lobang yang sama ke sekian kali.

Tapi kenyataannya tidak demikian. Kita boleh saja bolak balik di jalan raya Medan-Banda Aceh ini, tetapi kita tetap a-historis. Kita tetap saja belum mampu mengambil pelajaran dan hikmah dari sejumlah peristiwa politik sepanjang jalan ini.

Perang Cumbok
Salah satu peristiwa politik yang sampai hari ini masih berbekas dan menoreh luka adalah peristiwa Perang Cumbok.

Perang Cumbok adalah perang yang terjadi pada tahun 1946 hingga 1947 dan berpusat di Pidie, timbul karena adanya kesalahan peran dan tafsir dari kaum ulama dan Uleebalang (kaum bangsawan) terhadap proklamasi Indonesia, 17 Agustus 1945.

Bagi kaum ulama, proklamasi ini berarti telah berakhirnya kezaliman yang sudah lama dialami bangsa Indonesia, khususnya Aceh dari penjajahan Belanda dan Jepang. Sementara, sebagian pihak lain dari kaum bangsawan melihat larinya Jepang harus diganti dengan Belanda sebagai upaya untuk memulihkan kekuasaan tradisional mereka yang sebagian besar telah diminimalkan Jepang dan besar ketika Belanda berkuasa.

Ulama Aceh dipimpin Teungku Daud Beureueh dengan Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA), melihat proklamasi sebagai yang harus dimaknai secara nyata di Aceh.

PUSA didirikan atas musyawarah ulama untuk mempersatukan pola pikir para ulama, dalam perkembangannya PUSA menjadi motor yang menggerakkan berbagai konflik dalam sejarah Aceh, termasuk dalam peristiwa Perang Cumbok.

Sebagian warga Aceh pro Ulee Balang memplesetkan PUSA sebagai pembunuh Uleebalang Seluruh Aceh. Tidak semua Uleebalang ingin Belanda kembali dan berkuasa.

Proklamasi hanya menjadi momentum puncak untuk terjadinya konflik antara ulama dan Uleebalang di sekitar Pidie. Akhirnya, Uleebalang dipimpin Teuku Keumangan dengan Panglimanya T.Daud Cumbok dan perlawanan rakyat dipimpin Daud Beureueh dengan panglimanya Husin AL-Mujahid.

Dalam perlawanan, pasukan Cumbok bahkan telah menguasai kota Sigli, Pidie. Namun penguasaan itu tidak berlangsung lama karena adanya mobilitas perlawanan rakyat yang dilakukan ulama mengakibatkan pasukan Cumbok terpaksa kembali ke markas di Lamlo atau kota Bakti. Sesampai di Lamlo, pasukan Cumbok digempur pasukan rakyat dan pemberontakan ini akhirnya dapat ditumpas pada Januari 1946. Teuku Daud Cumbok ditangkap dan dihukum mati, sementara harta peninggalan para Uleebalang dikuasai kaum Ulama.

Dalam perjalanan kali ini saya sengaja singgah di Simpang Keumangan, sebuah persimpangan di dekat Pasar Beureunun. Di persimpangan ini saya sengaja berhenti dan makan mie rebus. Konon cerita kawan kawan mie rebus Simpang Keumangan ini terkenal enak.

Sambil menikmati Mie Simpang Keumangan saya berpikir keras, andai dulu tetua Aceh tanpa mengedepankan curiga dan prasangka serta membuka lebar ruang dialog, maka sungguh petaka sejarah ini tidak akan terjadi.

Paling tidak, sejumlah pelajaran sejarah yang dapat kita ambil dari Simpang Keumangan ini.

Pertama, kita harus bertekad kekeliruan sejarah masa lalu kita jangan pernah kita ulangi lagi. Sebaliknya, hal hal lain yang baik dan positif di masa lalu pada tempat nya kita lestarikan kembali di Aceh ini. Maksudnya sederhana, agar mata rantai sejarah Aceh tidak terputus dengan masa lalu.

Kedua, konflik sepanjang sejarah Aceh terlalu karena ada kepentingan personal yang dibonceng atas nama kepentingan rakyat. Lalu, begitu konflik berhasil diledakkan, yang yang menderita korban sedangkan personal elit pemicu konflik menikmati keuntungan.

Ketiga, konflik di Aceh sering terjadi karena prasangka yang berlebihan dan ketiadaan ruang dialog. Prasangka segera memicu konflik ketika ruang dialog dinisbikan. Karena itu, apapun peristiwa kekinian di Aceh sikap kita harus jelas: meminimalkan prasangka dan memaksimalkan ruang dialog.

Sambil meenikmati hangat dan pedasnya Mie Simpang Keumangan, yang berpikir, paling tidak tiga hal di atas lah yang telah memicu konflik ulama_ulee Balang dalam Perang Ceumbok.

Saya kira, kedepan di Aceh konflik sosial versi lain dapat saja ke eepan muncul di Aceh bila tiga hal di atas juga tersaji dengan baik di altar sosial politik Aceh masa depan.

Seperti bersemangatnya saya menghabiskan mie Simpang Keumangan, saya juga berharap semangat yang sama dari semua lini di Aceh untuk segera menghabiskan sisa sisa konflik yang ada serta memastikan bahwa masa depan Aceh bukanlah ladang subur untuk konflik, pelaku konflik dan penikmat hasil konflik.

Minus Gagasan
Hal lain yang saya cermati selama perjalanan saya Banda Aceh- Bireun hari ini adalah dinamika PILKADA yang begitu terasa.

Spanduk dan baliho dengan berbagai varian dan kualitas narasi yang digunakan bertaburan sepanjang jalan.

Namun sepanjang perjalanan saya, ketika melihat baliho dan spanduk spanduk itu, di media kampanye itu belum ternarasikan sama sekali “Debat Gagasan” terang masa depan Aceh yg lebih baik. Media kampanye yang ada itu baru sekedar menyajikan rayuan gombal dan diksi saling ejek.

Saya merenung, apakah Aceh masa hadapan masih relevan dirajut dengan narasi narasi dhaif seperti itu.

Dari Simpang Keumangan, saya berharap Aceh ke depan lebih baik, makin dewasa, aman dan sejahtera.

Alhamdulillah, Mie Simpang Keumangan memang enak. Lain waktu saya singgah lagi. Ialliqai insya Allah.

Sayapun melanjutkan kembali perjalanan. Bismillahimajriha. [].

Simpang Keumangan, 21/5/2016. Pukul 15.38.

KOMENTAR FACEBOOK