Alor, Aku Pulang!

12 tahun bukan waktu yang singkat. Terbenam dalam lumpur nun jauh di pelosok Republik Indonesia. Nyaris abadi di tengah kesunyian dan kebersahajaan petani yang mengolah tanah harapan. Pengabdian, itulah alasan mengapa tubuh lemah ini terkubur belasan tarikh di bawa lumpur pekat tsunami yang meluluhlantakkan bumi aulia pada 26 Desember 2004.

Aku terperangkap dalam sepi, ketika teman-teman satu korps gagal menemukan tubuh rapuh ini di sebalik tetimbunan tanah berlumpur bercampur belerang yang dimuntahkan samudera Hindia ke atas bumi Aceh kala itu. Mereka, teman-teman ku telah berupaya mencari. Namun diantara 56 jenazah bhayangkara yang berhasil diangkat dari sana, jasadku tidak berada di antaranya.

Aku hanya bisa menatap kosong! Gagallah mimpi untuk kembali ke tanah impian, Alor tercinta.

Nun jauh ribuan kilometer, dipisahkan oleh berbagai pulau dan laut, Herlin Messakh–istriku tercinta– ayah, ibu, adinda, kakanda menunggu kabarku dengan gelisah. Ingin aku berteriak ” Hei, aku disebalik lumpur di tanah Gampong Blang Dalam, Darul Hikmah, Aceh Jaya!,”

“Hei, aku di sini! Aku tersiksa sepi!,”

Aku sempat berpikir, diri ini sudah dilupakan, setidaknya oleh bangsa ini. Beratus purnama kiranya hamba sudah terbenam, walau aku masih bisa merasakan sentuhan doa-doa dan harapan yang mengalir dari orang-orang tercinta yang masih bisa menghafal dengan baik nama wasiatul Al-Iswan Tallo, seusai shalat mereka.

Kiranya Allah telah menyimpan satu rahasia besar. Walau tubuh ini dilamun remuk milyaran bakteri, identitas ku masih tetap terpelihara. Tiada rusak baju dan celana. Inikah pertanda bahwa aku akan bisa melampiaskan rindu kepada ayah, ibu, adik, kakak, istri dan tanah Alor tercinta? Aku kira iya!

Tuhan mengembalikan diri ini–dengan hanya tersisa rangka– kepada para pendoa yang tiada berputus harapan ingin bersua dengan hamba. Doa-doa cinta itu termakbul tanpa hijap. Kini aku bahagia.

Bang Satriawan Kalping Tallo, pasca diberitakan oleh media, datang menjemputku. Ada jutaan duka bergelanyut berat di pundaknya. Aku bisa menangkap diorama maha duka di wajah yang teduh karena sering berjumpa air wudhuk. Dia hendak menangis, namun sebagai lelaki Timur, dirinya ingin perkasa di hadapan manusia lainnya. Dia hanya menatap belulangku dengan mata berkaca-kaca.

Dia berdoa kala itu, aku bangga dia datang menjemputku.

Kini, aku pulang. Bang Satriawan atas jerih payah semua pihak, akan membawa diri ini kembali ke tanah Alor. Ke bumi di mana aku dilahirkan dan dibesarkan dengan penuh cinta. Usai disambut di Halim Perdana Kusumah oleh teman seangkatan di Detasemen A, Mako Brimob Kelapa Dua, Depok Jawa Barat, aku dibawa pulang ke tanah di mana Juwita Tallo sedang menungguku–ia sangat ingin memelukku– dengan harap-harap cemas.

Ayah, Bunda, Herlin, Juwita, dan semua yang tercinta, aku pulang! Sambut aku dengan segenap rasa rindu. Peluk aku dengan penuh keihlasan. Aku rindu kalian. Alor, semoga tanah mulia ini menyambutku dengan ramah. Aku ingin bersemanyam dengan tenang, di tanah kelahiran.

Ayah, ibu, Herlin, Juwita, aku tidak pulang sebagai seorang prajurit Polri. Aku tidak pulang sebagai alat negara. Aku pulang sebagai seorang anak lelaki yang masih harus engkau bimbing, wahai ayah dan bunda! Aku pulang sebagai seorang suami, wahai istriku tercinta. Aku Pulang sebagai kakak yang sangat menyayangi adiknya, wahai Juwita Tallo.

Untuk itu, sambut aku di beranda rumah. Wasiatun Al-Iswan Tallo, sudah berada di halaman depan. Bukan sebagai Bharaka Iswan Tallo, tapi sebagai seorang lelaki yang pantas untuk kalian cintai. []

*Redaksi aceHtrend mengucapkan rasa duka mendalam kepada keluarga yang telah ditinggalkan di tanah Alor. Semoga almarhum diterima di sisi-Nya dengan sebaik-baiknya tempat. Tulisan ini hanya sebuah isi hati imajinatif atas sebuah kerinduan.

KOMENTAR FACEBOOK