Hasil Studi Banding Wak Leh

Ilustrasi: Sumber: www.ganto.or.id

Namanya Saleh. Usianya 45 tahun. Baru terpilih sebagai pemimpin tertinggi Negeri Bawah Angin (NBA) pada sebuah ajang pemilihan yang penuh teror, intrik kotor serta manipulatif. Dia unggul dengan persentase yang sangat tinggi, karena tiap suara yang masuk atas namanya, merupakan hasil manipulasi kelas tinggi oleh badan penyelenggara yang diawasi oleh pengawas meuangen (masuk angin-red).

Tidak, hamba tidak bermaksud mengungkap tentang cerita kecurangan yang terjadi beberapa tahun lalu. Karena selain semua orang juga tahu, bagi hamba itu tidak begitu penting untuk saat ini. Nasi sudah jadi bubur, mengungkit di tengah zaman pembangunan, bermakna mengganggu roda pemerintahan.

Pasca terpilih dan dilantik sebagai penguasa tertinggi NBA, Wak Leh–begitu ia akrap dipanggil– melakukan beberapa kunjungan kerja. Baik ke luar negeri mahupun ke dalam negeri, di luar teritori yang ia pimpin. Tujuannya–sesuai dengan rencana kerja yang tertulis dalam dokumen RPJM– hasil kunker yang dibalut dengan nama studi banding itu, untuk melahirkan berbagai program pembangunan, berdasar pengalaman dari luar.

Setelah dihitung-hitung, dari 16 kali studi banding dalam tiga tahun, dengan anggaran yang maha besar–mencapai miliaran–, tak satupun yang maujud dalam program nyata.

Dalam sebuah konferensi pers, seorang wartawan bertanya: “Wak Leh, dari sekian banyak studi banding yang anda lakukan, dan terakhir ke Turki, yang anda kunjungi adalah kawasan industri pembuatan permadani, kenapa sampai sekarang tidak ada tindak lanjut?,”

Wak Leh dengan santai menjawab: “Dari semua studi banding yang kami lakukan, ternyata saya mendapat sebuah fakta, bahwa tidak satupun dari usaha ekonomi yang dilakukan di luar negeri dan luar daerah, tidak satupun ada kegiatan serupa di NBA, termasuk soal industri permadani, kita rupanya tidak punya usaha sejenis di sini,” []

KOMENTAR FACEBOOK