Aceh Darurat Kekerasan Seksual

Ada berapa kasus pemerkosaan di tiap kabupaten/kota di Aceh yang berhasil dihimpun oleh lembaga yang berwenang? Saya percaya, bila apa yang terhimpun, baik dalam data pemerintah, maupun yang bergerak liar di berbagai lembaga non pemerintah, belumlah mewakili angka yang sesungguhnya tentang penghinaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan yang dilakukan oleh “orang sakit” jiwa terhadap lawan jenis kelaminnya.

Sejauh ini, Kota Banda Aceh menjadi “tertuduh” pertama sebagai daerah yang paling banyak menyumbang kasus pemerkosaan yang dilakukan oleh warganya. Pada medio Januari-April 2016, kota ini memiliki sebanyak 61 kasus kekerasan seksual. Dari total angka itu, tidak semuanya bermuara pada pengadilan.

Lalu percayakah anda bila Banda Aceh menjadi kota yang paling banyak punya catatan dosa? Saya memilih tidak percaya.Kenapa Banda Aceh bisa terekpos? Karena kota ini memiliki sistem jaringan informasi –dan mungkin juga tingkat kesadaran warga lebih tinggi– sehingga kejahatan seksual atas motif apapun, bisa lebih terangkat ke permukaan. Hal ini justru kurang terjadi di daerah lain.

Dari berbagai tugas jurnalistik yang pernah saya lakoni–tidak dalam rangka mengekpos kekerasan seksual– banyak cerita tentang pemerkosaan yang diceritakan kepada saya oleh mereka yang bergerak pada isu perlidungan perempuan di Aceh. Ada yang diperkosa karena menolak cinta, diperkosa dalam gelap, diperkosa dengan tuduhan telah melanggar syariat, diperkosa untuk barter hutang keluarga, bahkan diperkosa oleh anggota keluarga sendiri.

Setelah diperkosa, biasanya masyarakat tempatan–di kawasan terjadi pemerkosaan– acapkali (oleh sebagian mereka) memposisikan korban pemerkosaan sebagai pendosa yang wajib dihindari. Mereka tidak pernah peduli terhadap penderitaan yang dialami oleh korban.

Maka tidak heran–ukurannya bisa dilihat dari komentar di medsos– bahwa korban acapkali dianggap sebagai pemicu terjadinya pemerkosaan.

Sejauh ini saya belum melihat langkah Pemerintah Aceh dan Pemkab di berbagai di daerah, yang menjadikan ini sebagai sebuah persoalan serius. Bahkan terkesan ini bukan sebuah perkara yang harus menjadi perhatian prioritas.

Edukasi dan Perlindungan Hukum
Terserah anda mau mengakui atau tidak, faktor rendahnya pendidikan merupakan pemicu utama terjadinya kejahatan seksual dan kekerasan dalam rumah tangga. Pendefinisian perempuan di kalangan masyarakat, yang mendudukkan wanita sebagai “cobaan” atau sebagai “penyebab” telah menjerumuskan pemahaman terhadap betapa tidak mulianya posisi perempuan di dalam komunitas masyarakat.

Akibatnya, banyak kasus pemerkosaan yang kemudian didiamkan. sangat sedikit yang bermuara pada hukum. Bahkan di antara yang muncul ke pengadilan, seringkali pula pelakunya diberikan hukuman yang ringan.

Kemiskinan, pendidikan yang rendah dan ketimpangan penegakan hukum, merupakan trisula yang menjadi penyebab utama dari maraknya kekerasan seksual di Aceh. ketiga hal ini–biasanya– saling terkait. Frustasi dan stress karena hidup miskin, ditambah dengan pendidikan yang sangat tidak layak dan lemahnya pressing dari lembaga penegak hukum, telah menjadi pemicu.

Pada akhirnya kita semua harus mengakui bahwa Aceh sudah masuk pada tahapan darurat kejahatan seksual. parahnya lagi, dari banyak kasus, pelaku kejahatan seksual ini acapkali dilakukan oleh orang dekat korban. Baik itu ayah, abang, suami, dan keluarga dekat lainnya.[]

KOMENTAR FACEBOOK