Gadis Pirang Tengah Malam di Kota Bunda

Ilustrasi. Sumber foto: Tribunnews.com

Selasa dinihari, pukul 02.00 WIB (31/5/2016) mobil yang saya tumpangi melintas di kawasan Lampineung, Banda Aceh. Sebentar singgah di sebuah rumah makan yang juga menjual kopi dan minuman lainnya. Seorang teman membeli empat bungkus nasi kari ayam.

Sambil berdiri di dekat rak, sepintas ia memalingkan wajah ke sudut warung, tepatnya di bawah pohon seri. Sekitar lima remaja–sedang nongkrong. Di tengah-tengah mereka duduk perempuan muda, dengan balutan baju denim dan celana ketat. Tanpa jilbab. Rambutnya terurai dan terlihat semburat warna pirang. Dalam tatapan lima menit itu, ada sekitar empat kali wanita itu dipekuk oleh lelaki yang berbeda.

“Astagfirullah! Sedemikian rusak sudah generasi,” ucap sang teman yang sehari-hari adalah ustad di salah satu lembaga pendidikan Islam.


Rabu dinihari, sekitar pukul 01.30 (1/6/2016) saya ngopi bersama seorang hakim muda di salah satu lembaga pengadilan di Aceh. kami minum kopi di sebuah warkop di bilangan Lampineung. Malam itu, warung disesaki oleh anak-anak muda yang masi berwajah belia. Asyik bermain game di laptop dan smartphone masing-masing. Asap rokok memenuhi ruangan warung yang ditata modis untuk gaya anak muda.

Di pojokan, di bawah sinar terang PLN, empat remaja putri–dengan dandanan menor– bergincu, memakai kaos casual ketat, celana denim yang memeluk paha, dengan warna rambut pirang, duduk sambil tertawa-tawa. Entah apa yang mereka bincangkan. Satu orang berjilbab, dengan celanan ketat dan memakai sweater.

Sejenak kemudian satu Avanza putih dengan plat lokal –pengemudi dan dua lelaki yang kemudian keluar, masih berwajah belia–. Dua perempuan muda itu bangkit dan masuk ke mobil.Sekitar 15 menit mereka di dalam mobil. Kemudian salah satu wanita keluar dan duduk kembali ke pojokan tadi.

10 menit kemudian, semua beranjak dari tempat itu. Empat naik mobil, dan satu lagi–dia memakai jilbab– menyusul dengan sepeda motor. Jarum jam sudah beranjak ke pukul 02.00 WIB. Saya berbaik sangka, mungkin mereka pulang ke rumah dijemput oleh teman-temannya.
***
Banda Aceh, 2016 masih belum berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. sampai pukul dinihari, masih saja –pada warkop-warkop tertentu– dihuni oleh remaja berdandan menor. Seorang kerabat penulis, dengan gaya parlente, pernah mengalami hal tidak mengenakkan. Seorang remaja putri, mengedipkan mata kepadanya. Dia tidak paham kode itu, mungkin si gadis tertarik kepadanya. Entahlah.

Beberapa waktu lalu, pada sebuah warkop yang menyediakan live music, beberapa wanita–lagai-lagi berdandan menor– berciuman di depan pengunjung warung lainnya. Mereka terlihat asyik tanpa memperdulikan yang lain. Selain itu, para pengunjung di sana juga tidak ambil peduli. Asyik dengan obrolan masing-masing. Namun pada kunjungan beberapa waktu kemudian, warkop itu sudah tutup.

Reza (35) warga Banda Aceh, berani menjamin bila yang berkeliaran malam itu bukan warga Banda Aceh. “saya tidak tahu statusnya apa, tapi saya yakin sekali mereka bukan warga di sini. Tak ada orang tua gila yang membiarkan anaknya sampai hampir subuh masih berkeliaran di luar dengan dandanan menor. Apalagi naik turun mobil dengan tujuan tidak jelas. Saya kerap menemukan fenomena tersebut,” ujarnya kepada aceHTrend, Rabu siang (1/6/2016).

Dia meminta Pemda segera melakukan penertiban. “Saya kira pemda harus bertindak. Harus dilakukan dengan operasi senyap. Mereka minimal harus ditertibkan. Dari segi agama, dan sosial serta adat Aceh, sudah salah itu. Masa seorang gadis masih berkeliaran di luar dengan non muhrim sampai dinihari,” tambahnya.

Jam Malam untuk Pelajar
Beberapa warga Banda Aceh, meminta Pemkab memberlakukan jam malam bagi kalangan pelajar. “Tak peduli mereka orang tempatan atau bukan, sepertinya harus diberlakukan jam malam. Mereka harus dibatasi ruang geraknya pada malam hari. Masih sangat muda-muda sekali wajah penghuni warung kopi hingga dinihari,” Ujar Azhar (40).

Menurut Azhar, membatasi ruang gerak di malam hari bagi kalangan pelajar, bukan sesuatu yang salah. bahkan ini bentuk perlindungan yang nyata untuk menjaga mereka dari berbagai ancaman. “Kalau anak saya sudah pasti saya seret ke rumah. Pukul satu malam masih di warkop, sambil menghisap rokok dan ngegame, mau di bawa kemana banga ini kelak?,” tambah Azhar.

Seruan yang sama juga disampaikan oleh Amiruddin (45). Dia meminta pemkab membuat sebuah kebijakan ketat melalui kepala desa, untuk menerapkan jam malam kepada generasi muda berusia pelajar. “Kalau ini sudah berlaku, kita mudah memetakan, yang berkeliaran tengah malam itu, anak kita atau pendatang,” imbuhnya. []

KOMENTAR FACEBOOK