Ibu, Telah Kutunaikan janji Itu

Fuad Saputra

ENAM tahun adalah waktu yang singkat bagi seorang pencari ilmu pengetahuan. Masih sangat sedikit ilmu yang bisa ditimba. Namun untuk sebuah kerinduan, enam tahun adalah siksaan yang tiada terperi. Hati luluh lantak, jiwa terguncang, karena amuk badai rindu adalah sebuah cobaan.

Ibu, hari ini, kamis (2/6/2016) Aku telah lulus dari Pondok Pesantren Imam Syafii, Sibreh Aceh Besar. Predikat kelulusan jaiz jiddan dengan hafalan 9 Kitab Suci Al-Quran. Dengan ribuan doa dan dukungan dari orang-orang tercinta, aku mampu bertahan di pondok yang selalu mengajarkan cinta kasih antar sesama.

Ibu, hari ini aku rindu padamu. Engkau yang telah pergi menghadap Ilahi, ketika aku dan adik-adik sangat membutuhkan dukungan darimu. Aku paham bahwa kehendak Allah adalah sebuah ketentuan. Sebagai hamba yang beriman, kita harus beriman kepada ketentuannya. Namun sebagai anak, putra dari engkau, aku tetap merasa kehilangan.

Aku, hingga bisa lulus di pesantren ini, berkat dukungan dan doa darimu. Dulu, ketika aku pulang pada musim libur, engkau selalu bertanya tentang apa yang sudah aku pelajari. Dengan segenap kelembutan, pelan namun pasti, engkau selalu ingin tahu tentang perkembangan ku. Tentang studiku, bahkan tentang kenakalanku di pesantren.

“Engkau anak lelaki. Sebagai lelaki engkau adalah pemimpin. Pemimpin harus bertanggungjawab terhadap dirinya dan kewajibannya,” itu wejangan darimu yang turut menjadi motivasi bagiku.

Aku selalu ingat pesanmu, bahwa aku harus pandai-pandai membawa diri. Bukankah ciri orang berilmu adalah bisa dan mampu beradaptasi dengan lingkungannya? Itulah kalimat sakti yang selalu engkau utarakan dulu.

Ibu, hari ini aku berdiri di depan ratusan orang, memberikan sambutan mewakili teman-teman seangkatan. Walau gembira setelah enam tahun–tujuh tahun bila dihitung masa mengabdi– lulus dari dayah, dan diberikan kesempatan tampil sebagai “pemimpin” teman seangkatan, ada kehampaan di hati. Engkau tidak duduk di deretan kursi tamu undangan. Andaikan engkau ada di depanku, sembari melihat aku berpidato dengan lancar bercampur kalimat sastra, aku sungguh akan tambah bahagia. Tentunya engkau juga akan turut bangga. “Hei dunia, itu, yang berdiri di atas panggung adalah putraku, Fuad Saputra!,”. Engkau pasti akan bergumam demikian.

Ya, aku si yatim piatu ini, adalah putramu. Putra dari Hanimah dan Razali yang semasa hidupnya beralamat di Gampong Matang Cot Paseh, Peusangan, Bireuen. Enam tahun menimba ilmu di pesantren Imam Syafii, Siberh, Aceh besar, dengan beasiswa penuh yang diberikan oleh yayasan tempat lembaga pendidikan Islam ini bernaung.

Kini aku telah berada di dunia nyata. Setidaknya begitulah para mudir mengingatkan. Aku sudah bukan lagi pelajar SMA. Aku alumni. Ya, aku sudah berhadapan dengan dunia yang sesungguhnya. Para mudir mengingatkan, bahwa alumni Imam Syafii harus mampu mandiri dan melanjutkan cita-cita. Kami tidak boleh berhenti di sini. Karena dunia dan segenap ilmu, masih maha luas yang harus kami harungi.

Ibu, telah kutunaikan janjiku padamu. bahwa aku, Fuad Saputra telah lulus dari pesantren dan bertekad untuk menaklukkan Pulau Jawa. Aku sudah mendaftar –semoga lulus bidikmisi– di dua universitas elit di pulau itu. karena dari beasiswa pelajar berprestasi itulah, yang menjadi satu-satunya tumpuan harapanku, untuk saat ini.

Ibu, hari-hari menjelang wisuda, rasa rinduku padamu semakin membuncah. Enam tahun di sini, hanya sesekali bertemu denganmu hingga akhirnya harus berpisah untuk selama-lamanya, telah membuat diri ini diluluhlantakkan oleh meusyen yang merajah jiwa. Aku rindu padamu, ibu.

Ribuan kilo jalan yang kau tempuh

Lewati rintang untuk aku anakmu

Ibuku sayang masih terus berjalan

Walau tapak kaki, penuh darah… penuh nanah

Seperti udara… kasih yang engkau berikan

Tak mampu ku membalas…ibu…ibu

Ingin kudekat dan menangis di pangkuanmu

Sampai aku tertidur, bagai masa kecil dulu

Lalu doa-doa baluri sekujur tubuhku

Dengan apa membalas…ibu…ibu…. (Iwan Fals)

KOMENTAR FACEBOOK