Resensi Buku: Sosok “Pejuang Terlupakan” Dalam Novel TAN

PEMINAT dan pembaca karya sastra di Sumatera Barat atau Indonesia. Agaknya, tak ada yang tak kenal sosok Hendri Teja.

Novelis muda asal Minangkabau ini, sekarang termasuk salah satu sastrawan yang mulai diperhitungkan dalam kancah pernovelan Indonesia. Ia kerap menjadi bahan diskusi dan buah bibir di forum-forum bedah buku.

Ini terjadi, seiring telah beredarnya novel fenomenal Hendri Teja terbaru: Cetakan pertama Februari 2016, yang bertitel “TAN Sebuah Novel”.

Novel sejarah yang mengisahkan perjalanan hidup (biografi) Tan Malaka yang diterbitkan Javanica setebal 427 halaman ini, adalah gubahan dan lanjutan dari Novel Memoar Alang-Alang. Sebuah novel unggulan dalam sayembara novel DKJ tahun 2010.

Namun, jika kita membaca novel karya Hendri Teja ‘TAN Sebuah Novel’, isinya jauh berbeda dengan Novel Memoar Alang-Alang (MAA).

Isi Novel TAN, membuat kita sedikit lebih sempurna mengenal sosok Tan Malaka. Dalam novel ini, karakter ketokohan TAN lebih menonjol. Perangainya lebih menggelitik yang diurai dengan bahasa jernih.

Singkatnya, sosok Tan Malaka si manusia Indonesia yang misterius nan penuh mitos ini terpotret jelas di lensa Novel TAN.

Apa yang dikatakan sejarawan Belanda Harry Poeze, bahwa Tan Malaka termasuk penggagas awal Republik Indonesia, benar adanya.

Tak Malaka, yang digadang-gadangkan sebagai salah satu dari tujuh begawan Revolusi Indonesia, selain Soekarno, Hatta, Amir Sjarifoeddin, Sjahrir, Soedirman, dan AH Nasution, juga tak terbantahkan.

Tegasnya, Hendri Teja secara gamblang mengatakan: Tan Malaka, adalah sosok pejuang yang sangat menentukan arah dan produk revolusi di Indonesia hingga Indonesia menjadi bangsa yang merdeka.

Di sinilah kepiawaian Hendri Teja memotret sosok Tan Malaka. Sehingga membuat novel TAN ini enak dibaca. Apalagi, novel ini diracik semacam antitesa dari kisah-kisah Tan Malaka yang pernah ada.

Hendri Teja dalam novel TAN berhasil menyingkap, kehebatan Tan Malaka. Menurut Hendri, Tan Malaka menjadi orang hebat karena ia sangat cinta pada ilmu pengetahuan, gemar menulis, dan gandrung berorganisasi.

Kecintaannya terhadap ilmu pengetahuan dan jiwa dinamisnya inilah yang memakan tuannya sendiri. Tan Malaka menanggung risiko menjadi anak yang “terbuang”. Yaitu, anak yang dicampakkan oleh adat dari tanah kelahirannya Nagari Lumuik Suliki.

Setelah “murtad” terhadap adat. Namun, bagi keluarganya ‘dipancung air tak putus’. Lantas Tan Malaka yang bernama asli Ibrahim, membulatkan tekad berlayar ke Nederland. Ia menetap di sana, menimbah ilmu pengetahuan. Kemudian menabur benih-benih pergerakkan.

Di negeri Nederland lagi-lagi Tan Malaka menjadi orang terbuang. Hidupnya, dalam keadaan miskin dan tragis. Tan Malaka, tinggal di sebuah rumah kawasan kumuh. Menempati kamar keluarga buruh kasar yang sempit, pengap penuh debu dan mencekik jiwa. Sehingga membuat radang paru-paru basahnya kambuh.

Tidak itu saja, TAN juga dikucilkan dan dibuang oleh teman-temannya. Bahkan, orang sekeliling kerap mempersulit urusannya. Dengan alasan rasial, Tan Malaka orang Timur yang berkulit coklat.

Pokoknya dalam “TAN Sebuah Novel”, Hendri Teja menuturkan kisah perjuangan TAN yang tak mudah. Hidupnya, dibumbui oleh pengkhianatan, konspirasi, juga cinta yang tak sampai.

Ya. Sepanjang hidupnya, TAN memang lekat dengan penderitaan, dikejar-kejar, ditembak, dan perlakuan zalim serta kasar lainnya. Malah, orang-orang yang dikasihinya diperlakukan dengan hal yang sama.

Kendati begitu, situasi dan kondisi ini, tak pernah membuat Tan bergeming dalam berjuang. Ia terus menerjang, menghadang, dan meradang hingga titik akhir.

Sebagai sosok yang cerdas, berwawasan luas, dan acap artikel bernasnya dimuat di berbagai media di Nederland dan Eropa, TAN terus menggelorakan semangat revolusi ke seantero dunia termasuk merasuki jiwa pemuda-pemuda Hindia Belanda.

Ditemani Fenny van de Snijder, perempuan kulit putih yang dicintainya, ia melawan penjajah melalui tulisan. Akibatnya, di sana ia lebih dikenal dengan nama pena: Tan Malaka ketimbang nama aslinya Ibrahim.

Dianggap perjuangan telah memadai di kota-kota Nederland, lantas TAN hijrah dan bergerilya ke Sumatera dan Jawa. Mengobarkan semangat perlawanan terhadap kaum penjajah.

Dalam perjuangan, ia harus dan selalu berhadapan dengan para kapitalis perkebunan, sindikat penguasa gula, dan gubernur Jenderal Hindia Belanda.

Aksi-aksi yang dilakukannya itu, membuat Tan Malaka menjadi tokoh penting, pejuang yang disegani sekaligus mesterius.

Kemudian, Tan Malaka menjadi seorang pencetus dan pembela kemerdekaan Indonesia. Namun sayang, kiprahnya ini dikaburkan, dilupakan dan tak pernah ditulis dalam sejarah. forgotten founding father.

Tan Malaka menjadi pejuang yang “terbuang” di negeri sendiri. Ia diasingkan ke Boven Digul. Begitulah ending kalimat penutup Novel TAN ini.

Apakah dengan kalimat penutup demikian, kisah Tan Malaka akan berlanjut atau tamat? Jawabannya hanya Hendri Teja yang tahu.

Yang jelas, kita berharap kisah Tan Malaka terus ditulis dalam novel-novel lain guna menyingkap kemisteriusan sosok Tan Malaka.[]