Bireuen Dalam Pelukan Kemiskinan Akut

Tahun 2012, Nurdin Abdul Rahman tidak lagi terpilih sebagai top leader di Bireuen. Tokoh intelektual GAM itu kalah telak dari Ruslan M Daud- Mukhtar Abda (Harus Muda) yang diangke oleh Partai Aceh. Kala itu, mantan juru runding di Helsinki mewakili GAM itu, meninggalkan sebanyak 170.683 ribu jiwa rakyat miskin di Bireuen.

Kala itu–terlepas dari banyaknya yang meragukan kemampuan Harus Muda– banyak juga yang berharap, Ruslan- Mukhtar akan mampu membawa Bireuen ke arah yang lebih baik. Minimal, angka kemiskinan akan lebih berkurang dari yang ditinggalkan oleh Nurdin- Busmadar.

Berdasarkan Basis Data Terpadu (BDT) Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) tahun 2015, jumlah rakyat miskin di seluruh Aceh sebanyak 2,2 juta jiwa. 223.632 jiwa adalah rakyat Bireuen. Bila diukur dengan jumlah penduduk pada tahun 2013 sebanyak 450.544 jiwa, maka hampir 50% rakyat di Bireuen masuk kategori miskin. Bukannya mampu mereduksi kemiskinan, di masa Ruslan, kemiskinan malah tumbuh subur.

Pemerintah Bireuen tentu masih punya muka, karena posisi teratas masih miliknya Aceh Utara dengan jumlah rakyat miskin 329.272 pada tahun yang sama.

Di Bireuen, sebelum data ini menguak kepermukaan, sinyalemen bahwa kabupaten sedang bermasalah terlihat dari banyaknya tenaga bakti di jajaran Pemkab Bireuen. Angkanya mencapai 17.481 orang. Mereka siap bekerja tanpa gaji,gaji prihatin –dengan harapan suatu saat akan diangkat menjadi PNS– Kalaulah kondisi ekonomi normal, siapa pula yang akan gila mempertaruhkan usianya bertahun- tahun sebagai pegawai tak jelas status di kantor pemerintah?

Walau belum punya angka pasti, saya melihat tren kemiskinan kian merajah. Setiap hari semakin banyak petani yang berubah menjadi buruh di berbagai perkebunan. Beralihnya status dari petani menjadi buruh harian lepas, merupakan indikator bahwa ada persoalan serius dalam kehidupan masyarakat Bireuen yang dulunya berdaulat atas lahan.

Di sisi lain, peredaran narkoba dan kriminal semakin masif saja. Pencurian di mana- mana dan terjadi hampir tiap hari. Bukan hanya malam hari, para pencuri pun kian berani beraksi di tempat- tempat terang.

Berbagai program pengembangan ekonomi sepertinya tidak ada yang jalan. Isu bagi- bagi uang pembangunan (fee) semakin nyata saja bahkan terjadi di depan hidung.

Dalam kondisi ini, Pemerintah kemudian memosisikan diri sebagai Robin Hood. Bupati menjelma menjadi orang baik hati yang rutin turun ke lapangan untuk bergotong royong dan membantu dhuafa. Seolah-olah sang bupati adalah dewa penolong bagi fakir miskin.

Berharap Ruslan (minus Mukhtar Abda, karena sang wakil entah sudah menghilang kemana) mampu membalikkan keadaan dalam waktu sisa, tentu penantian yang sia- sia. Ruslan telah lumpuh dengan berbagai programnya yang hanya indah ditulis oleh juru warta istana. Mampu meningkatkan jumlah rakyat miskin dengan porsi hampir 50% dari total jumlah penduduk merupakan sebuah capaian yang sangat buruk. Pemerintah kali ini telah gagal.

Kegagalan Ruslan adalah kegagalan kolektif Pemerintah Aceh. Rezim kali ini, terbukti gagal membangun ekonomi rakyat. Dana yang melimpah hanya menghasilkan proyek- proyek yang manfaatnya untuk sekelompok kecil penikmat fee. Hanya dinikmati oleh bandit- bandit yang tidak punya belas kasihan.

Kembali ke Bireuen, suksesor yang kelak akan menggantikan Ruslan, punya beban berat. Alumni salah satu dayah itu telah meninggalkan pekerjaan rumah yang maha besar bagi penerusnya. Tidak sembarang orang bisa mengubah kondisi ini. Mereka yang sudah terbukti pernah jahat secara anggaran, tentu tidak akan mampu mengubah kondisi.

Zaini Djalil, Ketua Nasdem Aceh, pernah mengatakan untuk mengubah kondisi Aceh –include Bireuen–, daerah ini membutuhkan seseorang yang berpredikat insan kamil. Pemilukada harus berjalan secara demokratis dan nir kekerasan. Selain itu, sudah tidak saatnya lagi memilih secara irrasional.

Bireuen sudah terpuruk. Hancur walau belum lebur. Kita butuh orang bersih, cerdas dan visioner. Sudak waktunya keluar dari perangkap “bungkoh MoU” yang ternyata dibonceng oleh sekumpulan lanun itu.

KOMENTAR FACEBOOK