Skorsing Mahasiswa, DPRK Aceh Panggil Pimpinan Kampus STKIP Bina Bangsa Meulaboh

ACEHTREND.CO. Meulaboh, Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Barat memanggil unsur pimpinan kampus STKIP Bina Bangsa Meulaboh terkait kasus skorsing dua mahasiswa kampus tersebut pada jumat (10/6/2016) di Ruang rapat komisi gedung DPRK.

Pemanggilan tersebut lantaran adanya laporan dari pihak mahasiswa terkait skorsing yang dianggap tanpa dasar dan merugikan mahasiswa.

Selain dari pihak kampus, DPRK juga memanggil pihak mahasiswa yang bersangkutan. Rapat yang berlangsung selama 2 jam tersebut juga turut dihadiri dari unsur Pimpinan Daerah, Ketua beserta anggota komisi D DPRK Aceh Barat dan juga Dinas Pendidikan Aceh Barat.

Rapat yang dipimpin langsung oleh wakil ketua 2 DPRK Aceh Barat, H. Kamarudin, S.E. menghasilkan rekomendasi perlu dicabutnya surat skorsing terhadap mahasiswa dari pihak kampus.

Ketua komisi D DPRK Aceh Barat, Banta lidan menyampaikan “kami dari komisi D merekomendasikan agar persolan ini segera diselesaikan. Kampus hendaknya mencabut surat skorsing karna dinilai sangat merugikan mahasiswa, dan mahasiswa juga perlu untuk meminta maaf kepada pimpinan kampus.

Senada dengan pernyataan diatas, Kadis pendidikan Aceh Barat juga berpendapat dengan hal yang sama. Sementara itu Asisten II Bidang Keistimewaan Pemkab Aceh Barat, Drs. Muslim Raden juga mendesak agar pimpinan kampus STKIP segera mencabut skorsing.

“Tidak ada yang tidak bisa kita rubah kecuali Al-Quran dan Hadist. Mestinya mahasiswa ini dididik bukan malah di skors. Dan skorsing pun biasanya kan ada aturan nya, tidak serta merta ada teguran lisan ataupun tulisan terlebih dahulu,” imbuh nya.

Sementara itu, didepan Anggota Dewan dan pemerintah, pihak kampus membantah skorsing terhadap mahasiswa tersebut dikeluarkan akibat dari aksi mahasiswa menuntut keterbukaan informasi. Hal ini disampaikan oleh wakil ketua 3 bidang kemahasiswaan STKIP BBM Izwar, M.Pd.

“Skorsing yang kita putuskan terhadap 2 mahasiswa kita itu bukanlah karna persoalan aksi menuntut keterbukaan informasi, melainkan karena melanggar etika kampus,” ujar Izwar.

Namun pernyataan itu langsung di bantah Zulfitri alias Apit. “Persoalan itu dimulai dari aksi mendesak keterbukaan, pada saat itu kita naikkan spanduk yang berisi mendesak keterbukaan informasi, tapi pihak kampus malah mencabut paksa dan mengancam kami melalui security kampus seehingga membuat mahasiswa emosi,” ujar Apit.

Di sesi akhir rapat, kedua belah pihak sepakat untuk dimediasi oleh Komisi D DPRK Aceh Barat terkait penyelesaian masalah tersebut.

Mahasiswa yang diskorsing tersebut adalah Zulfitri (23) Jurusan PGSD dan Edi Azhari Pranata (23) Jurusan matematika yang merupakan Mahasiswa STKIP BBM.[]

KOMENTAR FACEBOOK