Petugas Medis RS Harapan Bunda Abaikan Pasien Pendarahan

*Oleh Reza Vahlevi
Banda Aceh, 19 Juni 2016.
Jam 3.15 WIB seusai pulang dari Lhok Seudu Kec Leupung Kab Aceh Besar, hati saya berdebar-debar, teringat akan adinda Kamila Sari yang sedang hamil anak pertamanya, usia kandungnya memasuki 8 bulan.

Tepat pada pukul 3.20 WIB saya mencoba menghubungi adik saya via Telfon selulernya, sesaat terdengar suara nada dering, dan suara agak lemas mengangkat Telfon, saya menanyakan kabarnya, dan adik saya menjawab, sedang dijalan di simpang surabaya menuju rumah sakit Harapan Bunda, Seutui Banda Aceh.

Pada Pukul 3.40 WIB adik saya tiba di Rumah Sakit harapan bunda, dan 15 menit kemudian dengan mengendarai mobil kecepatan di atas rata rata saya tiba di rumah sakit bersama dua adik laki laki saya. Ketika tiba, saya lansung menuju ruang bersalin. Saya melihat muka adik saya pucat. Saya bertanya sambil mencoba menenangkannya, bagaimana? Sakit apa? “Pendarahan bang,” jawanya tanpa ekspresi.

Terus saya bertanya lagi, sejauh mana sudah penanganan medisnya? Katanya ada perawat yang mencoba melayani dengan memberi obat anti nyeri, lalu karena sedikit mengerti tentang ilmu kesehatan karena dia seorang Ners, adik saya menolak, dia pendarahan, dan bagaimana darah berhenti, itu obat yang dia butuhkan.

Perawat tampak kebingungan, lalu setelah bertanya kepada adik saya, dokter kandungan apa yang selama ini dia konsul, adek menjawab dokter Ellys, sang perawat mencoba menghubungi dokter, dibalik telfon dokter yang telah 7 bulan adik saya konsul menjawab tidak bisa kerumah sakit, dan mengalihkan ke dokter Fajar, dan dokter kandungan fajar pun di hubungi.

kami sekeluarga menunggu dengan cemas sang dokter, detik per detik, menit melangkahi menit sang dokter tak kunjung tiba. Kami diminta keluar ruangan oleh semua perawat yang bertugas di ruang bersalin rumah sakit tersebut, dengan alasan cowok tidak boleh masuk, dan para perawat melanjutkan tidurnya, adik saya diminta tinggal sendiri di dalam ruangan dengan duduk di atas tempat tidur pasien, sedangkan darah terus menerus keluar tanpa henti. Tentu di satu sisi tanpa observasi dan sentuhan medis sebagai pertolongan pertama. Dan sejurus kemudian perawat jaga menyampaikan dokter kandungan fajar akan datang pada pukul 08. Esok pagi.

Bunda, nama mu begitu megah sebagai salah satu rumah sakit elit swasta yang ada di pusat ibukota Banda Aceh, tapi sayang perawat ruang bersalin ke rumah sakit hanya tidur dan tidur. Tak elok disebut bekerja ala konsep ” Mbah Surip ”

Bila hal demikian tidak dievaluasi dievaluasi oleh manajemen rumah sakit tersebut. siap siaplah dokter, perawat dan Staff serta tukang parkir yang hanya tinggal bersama nama besarmu.

Jam 4.10 WIB saya memaksa membawa keluar adik saya dari rumah sakit itu, dan kami menuju ke rumah sakit swasta di kawasan Peuniti. Alhamdulillah penanganan begitu memuaskan, dokter jaga dan perawat mengerubungi sang pasien, terima kasih tak terhingga.

Saya tidak tahu, bagaimana nasib adik kandung saya, andaikan kami tetap memercayai petugas medis yang hanya membiarkan adik saya sendirian, dengan pendarahannya, di ruang medis, tanpa tindakan medis, dan menunggu dokter yang baru bisa datang pagi harinya.

Oh, untung saja kami punya kendaraan sendiri, sedikit pengetahuan dan keberanian, untuk segera “mengevakuasi” pasien dari “neraka” menuju rumah sakit yang memperlakukan pasien dengan seharusnya.

Harapan Bunda, tadi malam telah bermain-main dengan hidup mati seorang calon ibu yang mengalami pendarahan. Mereka tidak punya nurani. Lebih memilih memuaskan tidurnya daripada berjuang menolong seseorang yang sedang membutuhkan bantuan.

*Penulis Warga Kecamatan Ulee Kareng Banda Aceh.