Said Rafiie: Langkah Membangun Kembali Masa Depan Aceh – Asean

ACEHTREND.CO, Jepang – Aceh merupakan salah satu pelabuhan perdangan international pada masa lalu dimana banyak pedagang dari Arab, India, Cina dan Eropa yang singah di bandar Aceh. Merevitalisasi kembali geopolitik dan ekonomi Aceh dalam konteks Masyarakat Ekonomi ASEAN sebagai bagian upaya untuk membangun Aceh masa depan yang religius, modern dan makmur.

Demikian disampaikan Said Achmad Kabiru Rafiie, SE,MBA, Dosen Universitas Teuku Umar yang bertindak sebagai Delegasi Indonesia dalam Forum IATSS ASEAN-Jepang, baru-baru ini.

“Dalam kesempatan pelatihan kepemimpinan muda ASEAN – Jepang yang diadakan oleh IATSS Forum-kami berkempatan untuk memperkenalkan Aceh kepada delegasi ASEAN dan Jepang dalam berbagai kesempatan seminar dan field trip ke kota Kobe-Kyoto dan Tokyo,” tulis Said Rafiie kepada redaksi aceHTrend. Berikut kisah lengkap Said Rafiie untuk pembaca sekalian.

Kami menguraikan beberapa hal yang dapat menjadi jembatan penghubung antara Aceh dan ASEAN dan beberapa hambatan Aceh dan ASEAN . Kesempatan pertama yang dapat menjadi jembatan penghubung antara Aceh dan ASEAN adalah letak geografis Provinsi Aceh di ujung pulau Sumatera yang berhadapan dengan muara selat malakada berbatasan dengan negara Malaysia, Singapura dan Thailand. Dengan letak tersebut, Aceh merupakan daerah yang dapat dikembangkan sebagai pelabuhan transit International. Melihat kembali sejarah masa lalu, Aceh pernah menjadi pusat budaya Islam di Asia Tenggara. Banyak peninggalan-peninggalan Islam di Aceh dari peningalan mesjid hingga kitab-kitab islam kuno yang ditulis oleh cendikiawan islam masa lalu.

Jembatan penghubung kedua adalah persamaan budaya Aceh dengan Budaya melayu di Malaysia , Thailand Selatan dan Mindanao di Philipina sehingga wisata religi dapat menjadi salah satu daya tarik wisata bagi masyarakat ASEAN dari negara tersebut. Disamping dua hal tersebut, Aceh, Malaysia, Brunai, sebagian negara Thailand, sebagai penduduk Singapura yang beragaman islam sangat mementingkan makanan halal dalam proses penyembelihan. Oleh karena itu, pengembangan peternakan di Aceh menjadi pusat pengembukan sapi, kambing dan ayam serta pertanian organik di Asia Tenggara sangat mungkin untuk dilaksanakan.

Disamping itu, peluang yang dapat dimanfaatkan dari pasar ASEAN yang memiliki populasi lebih dari 650 juta jiwa adalah peningkatan perdagangan di bidang perkebunan, pertanian dan perikanan.

Komunikasi, Pelabuhan dan Energi Listrik Sebagai Kendala
Dibalik semua kesempatan tersebut di atas, hal-hal berikut ini menjadi kendala dan hambatan bagi membagun jembatan Aceh-ASEAN. Hambatan pertama yaitu keterbatasan komunikasi terutama kemampuan berbahasa Inggris. Walaupun Indonesia memiliki penduduk lebih dari 240 juta jiwa dan Malaysia memiliki penduduk 80 juta jiwa , Brunai dengan penduduk 6 Juta jiwa namun demikian bahasa melayu belum menjadi bahasa ASEAN- tetapi bahasa Inggris merupakan yang menjadi bahasa komunikasi antar negara ASEAN.

Kendala kedua dalam menyatukan masa depan Aceh dan ASEAN adalah keterbatasan Infrastruktur yang dimiliki oleh provinsi Aceh. Infrastruktur yang terpenting untuk menunjang proses expor dan impor adalah pelabuhan perdangan international. Provinsi Aceh belum memiliki pelabuhan ekpor dan impor yang memenuhi standar international. Setiap kabupaten di Aceh membangun pelabuhan tersendiri dengan skala kecil. Hal ini sangat disayangkan karena terlalu banyak pelabuhan-pelabuhan di setiap kabupaten. Aceh memerlukan pelabuhan representatif yang mampu memasarkan potensi perkebunan, pertanian, peternakan dan perikanan aceh ke manca negara.

Kendala yang ketiga adalah kesedian energi terutama energi listrik untuk menunjang pembangunan industri di Aceh. Sebagai daerah yang kaya akan sumber daya alam seperti batubara, minyak bumi, kelapa sawit, karet dan kekayaan alam lainnya. Dibutuhkan kesedian energi yang mampu menunjang pembangunan industri di Aceh. Kesedian energi listrik merupakan hal yang muthlak dibutuhkan untuk menjadikan aceh sebagai salah satu destinasi investasi domestik dan asing.

Aceh membutuhkan investasi untuk membangun indusri yang mampu mengolah dan menambah value added produk-produk pertanian, perkebunan, perikanan dan kehutanan menjadi produk yang memiliki nilai jual tinggi. Disamping itu, investasi di aceh dibutuhkan untuk menciptakan lapangan kerja mengingat kondisi makro ekonomi Aceh sangat terpuruk terutama tingginya angka kemiskinan dan penganguran.

3 Langkah Bersama Aceh-ASEAN
Untuk memanfaatkan peluang yang dimiliki oleh provinsi Aceh guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi dibawah bendera ASEAN makan ada beberapa hal yang harus dilaksanakan oleh pemerintah, pihak swasta dan masyarakat :
1. Pemerintah daerah perlu membangun kerjasama perdangangan dengan negara ASEAN yang memiliki kesamaan dengan provinsi Aceh terutama negara Malaysia, Brunai, dan Singapura sehingga dapat meingkatkan volume perdagangan Aceh ke 3 negara tersebut.
2. Pihak swasta harus mempertimbangkan untuk membangun kemitraan dengan pengusaha dari negara ASEAN lainnya terutama negara Singapura dan Brunai yang memiliki nilai investasi yang tinggi.
3. Masyarakat Aceh perlu membuka diri dengan kedatangan tamu dan turis dari negara negara ASEAN dengan menunjukan indentitas Aceh dan keunikan provinsi Aceh sehingga dapat menjadi daya tarik bagi masyarakat ASEAN untuk mengujungi Aceh.

Dengan langkah-langkah yang ditempuh bersama pemerintah, pihak swasta dan masyarakat Aceh maka penyatuan Aceh kedalam ASEAN dapat memberi manfaat bagi pertumbuhan ekonomi Aceh, menciptakan peluang lapangan kerja dan bisnis dan juga peningkatan pemahaman budaya.

Antara Aceh dan ASEAN pada masa lalu telah terbangun kerjasama dan kemitraan dibidang perdangangan dan budaya. Kini saatnya, pemimpin Aceh kembali membangun rasa percaya diri Aceh melalui pembangunan yang menitikberatkan pada pembangunan sumber daya manusia dan pembangunan inftrastruktur yang diharapkan oleh rakyat.

Dalam bulan ramadhan ini sebelum dilaksanakan PILKADA 2017, Perilaku korupsi, kolusi dan nepotisme harus diakhiri. Pemimpin kita nantinya adalah pemimpin yang mengali kembali peradaban Aceh dan menjadikan Aceh sebagai jamrut ASEAN. []

KOMENTAR FACEBOOK