Tour de Sumatera (5): Bermalam di Nagari Siti Nurbaja

????????????????????????????????????

Tiba di kota Padang sekira pukul 21.30 WIB. Ini kali pertama kami ke Padang, terlebih via darat. Lelah dan mengantuk begitu mendera. Ingin segera mencari penginapan untuk beristirahat. Anak-anak sudah lelap tertidur. Si abang tidur di jok mobil, dan adiknya tidur di kolong di atas bantal yang telah kami susun sedemikian rupa dan dilapisi dengan bed cover dilipat empat persegi panjang. Sehingga menjadi empuk dan nyaman. Ketinggiannya pun sama dengan tinggi jok. Sebuah tempat tidur modifikasi yang sangat layak untuk perjalanan jauh.

Saya membuka situs traveloka mencari hotel-hotel yang ada di Padang. Setidaknya saya dapat melihat harga kamar dan review dari pengunjung, walaupun sebenarnya kami tidak memesan hotel melalui situs ini.
Beberapa hotel masuk dalam list budget kami. Tetapi, saya tertarik dengan Hotel Deivan.

Kemudian Saya arahkan google map pada hotel tersebut, yang berada di kawasan taman safari kota Padang.
Saya masuk ke hotel menemui resepsionis menanyakan ketersediaan kamar. Istri dan anak-anak menunggu di mobil.

Alhamdulillah masih ada kamar lowong, dengan harga ramah di kantong. Saya minta yang single bed ukuran king size. Hotel ini kelihatannya cukup nyaman, rapi dan bersih. Petugas hotel juga ramah-ramah. Tampak juga beberapa bule juga menginap disini.

Kami diantar bell boy ke kamar. Begitu masuk kedalam, wow! Kagetnya kami, tempat tidurnya luas sekali. Lebarnya 2 meter! Tidak seperti tempat tidur ukuran king size pada umumnya yang berukuran 1,8 meter. Bantal juga tersedia empat buah. Sangat pas untuk keluarga kami. Bed cover bersih dan wangi. Ukuran kamar juga cukup luas dengan city view. Hotel ini tentu juga sangat cocok untuk backpacker.
A
Setelah check in dan ganti pakaian, kami keliling kota Padang. Walaupun cuma sedikit waktu tersedia, kami sempatkan untuk melihat-lihat kota Siti Nurbaya (Nurbaja, dialek lama) ini. Kotanya memang tidak begitu besar, tapi sangat khas. Banyak sekali ditemui bangunan dengan atap berciri rumah adat Minangkabau.

Saya sedikit kerepotan menggunakan google map di kota ini. Banyak petunjuk yang tidak akurat. Selain itu, jalan juga sempit-sempit, persis seperti jalan di Yogyakarta. Ada kemiripan yang sulit saya gambarkan antara Padang dan Yogyakarta. Mungkin itulah yang membuat keduanya jadi istimewa untuk dikunjungi.

Security hotel juga memberi pelayanan lebih. Seluruh mobil yang menginap malam itu mereka cuci. Mobil kami – setelah digeber dua hari perjalanan – yang begitu kotor pun mereka tidak keberatan menyucinya. Tapi saya sudah niat untuk memberi mereka tips besok ketika mau berangkat.

Esoknya, pukul 10.00 WIB kami menuju Bukittinggi. Untuk keluar dari kota Padang ke Bukittinggi, jalan kita diarahkan menyusuri pinggir pantai dalam kota. Cuaca cukup cerah. Diliputi langit biru membentang. Kami melaju ke Bukittinggi. Jalan sangat mulus dan lancar.